.quickedit{ display:none; }

Rabu, 27 April 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab I

LEMBAR PEMBUKA

"MENYATAKAN bahwa terdakwa Sabdono Lesmono, terbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, perbuatan cabul dengan anak didiknya yang belum dewasa. Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama tujuh bulan, dan menghukum terdakwa untuk membayar ongkos perkara sebesar....."
   Farida menghela napas panjang. Sebagian tuntutannya memang berhasil. Laki-laki itu telah dijatuhi hukuman. Tetapi hukuman yang tidak setimpal atas dosanya
   Tujuh bulan penjara untuk perbuatan yang demikian menjijikan! Memerkosa anak didiknya yang masih di bawah umur. Seorang pelajar kelas satu SMA yang baru berumur lima belas tahun!
   Dan laki-laki biadab itu hanya dihukum tujuh bulan!
   Padahal Farida menuntut hukuman dua belas tahun penjara. Hukuman maksimal untuk kasus pemerkosa menurut KUHP Pasal 285.
   Tetapi hakim menganggap kasus itu bukan perkosaan. Hanya perbuatan cabul atas dasar mau sama mau. Bukan paksaan.
   Karena itu terdakwa hanya divonis tujuh bulan penjara. Tujuh bulan untuk perbuatan menghancurkan masa depan seorang gadis remaja berumur lima belas tahun!
   Ah, haruskah anak perempuan Pak Hakim itu sendiri yang jadi korban baru dia dapat ikut merasakan penderitaan seorang korban perkosaan!
Saat itu barangkali dia baru dapat menjatuhkan hukuman yang lebih berat kepada si pelaku!

MEDAN 1958
BAB I
SELURUH sekolah gempar.
   Seorang siswi kelas dua SMA ditemukan melahirkan di WC sekolah!
   Kepala sekolah yang mendapat laporan dari murid-murid yang melihat genangan air bercampur darah mengalir keluar ke celah-celah bawah pintu WC, langsung mendobrak pintu bersama Pak Ikhsan, guru bahasa Indonesia.
   Dan mereka menemukan Rindang meringkuk ketakutan. Roknya yang putih berlumuran darah. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya gemetar. Lebih banyak karena takut daripada menahan sakit.
   Tetapi bukan pandangan itu yang membuat Ibu guru Santi mendadak terkulai lemas dengan perasaan mual.
   Seonggok daging berlumuran darah....Ya Tuhan! Daging itu...seorang bayi! Bayi kurus kecil tanpa lengan...terkapar tak berdosa di lantai WC....
   Hanya Pak Ikhsan yang cukup tegar bertindak. Sementara Pak Anwar dan Bu Santi hanya bisa termangu dilibat shock.

* * *

Daya tahan tubuh bayi perempuan tanpa lengan yang hanya memiliki bobot satu kilo lebih itu ternyata luar biasa. Setelah mendapat pertolongan darurat di rumah sakit terdekat, dia mulai memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.
   Tangisnya yang lemah seolah-olah mengabarkan kehadirannya di tempat yang hampir menolaknya.
   "Dia selamat," Dokter Toyib berdesah kagum.
"Bayi ini hidup! Dia mampu bertahan!"
   Tetapi sambutan keluarganya sungguh mengecewakan
   "Untuk apa dia dibiarkan hidup?" keluh ibu Rindang pahit. " Untuk apa Dokter menolongnya? Dia hidup hanya untuk memberi aib keluarga! Bayi tanpa lengan! Tanpa ayah!"
   "Kita harus memaksa Rindang mengatakan siapa bapaknya?" geram ayah Rindang sengit. "Lelaki itu harus bertanggung jawab!"
    "Apa gunanya? Aib ini takkan terhapus sekalipun ada lelaki yang mengaku! Anak itu bukan cuma haram! Dia cacat! Buat apa dia dibiarkan hidup kalau hanya untuk menyiksa kita?"
   "Keterlaluan", desis Dokter Toyib kepada perawatnya setelah orang tua RIndang berlalu. "Kita berjuang untuk menyelamatkan bayi itu. Bukannya berterima kasih mereka malah menggerutu!"
   "Bukan hanya menggerutu, Dok", dumal suster Tiar kesal. "Mereka menyumpahi cucunya sendiri! Berharap agar anak itu mati!"
   "Sekarang mereka pasti sedang memaksa anaknya mengatakan siapa bapak bayi itu!"

* * *

Tetapi Rindang tidak berani mengatakan siapa ayah anaknya. Lagipula....siapa yang percaya?
   Pak Sabdono guru olahraga yang disegani. Terkenal ganteng. Simpatik. Ramah. Tapi tidak genit. Berwibawa. Namun tidak galak.
   Umurnya dua puluh empat tahun. Baru satu setengah tahun menikah. Dan mempunyai  seorang anak perempuan berumur tujuh bulan. Nah, siapa yang percaya? Siapa yang percaya kalau suami dan bapak yang berbahagia itu masih tega menodai muridnya?
   Teman-teman memang tahu Rindang merupakan anak emas Pak Sabdono. Nilai olahraganya selalu delapan, meskipun dia boleh tidak ikut pelajaran olahraga kapan saja dia mau. Tetapi siapa yang tahu betapa intimnya hubungan mereka akhir-akhir ini?
   Di sekolah, sikap Pak Sabdono selalu wajar. Kepada siapa pun dia memang selalu ramah. Bukan hanya kepada Rindang.
   Sebaliknya sikap Rindang pun tidak berlebihan. Dia memang agak manja. Tetapi kemanjaan itu diperlihatkannya kepada semua guru dan teman-teman. Laki-laki ataupun perempuan. Tua ataupun muda.
   Dan Rindang memang punya modal untuk itu. Dia cantik. Pintar pula. Tidak heran kalau dia terpilih menjadi ketua kelas. Dan hubungannya dengan Pak Sabdono tentu saja bertambah dekat.
   Mereka sering terlihat bersama-sama mendekorasi aula kalau ada perayaan di sekolah. Sering bersama pula sebagai panitia bila ada perlombaan olahraga di sekolah.
   Pak Sabdono juga sering mengantarkan RIndang pulang kalau kegiatan itu menyita waktu mereka sampai malam. Dia punya motor. Dan rumah mereka searah. Jadi apa salahnya kalau RIndang membonceng motor gurunya? Tidak ada yang curiga kan?
   "Kamu tidak mungkin hamil", kata Pak Sabdono mantap ketika Rindang akhirnya memberanikan diri untuk mengadu.
   Sudah dua bulan Rindang tidak mendapat haid. Padahal biasanya haidnya selalu lancar. Tidak pernah terlambat datang. Apalagi absen.
   Dan ingatannya kembali ke rumah gurunya. Ketika suatu malam dia diantarkan pulang.
   Malam itu, berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Pak Sabdono tidak langsung mengantarkannya pulang. Katanya dia harus menengok rumahnya dulu. Saat itu isterinya tidak ada di rumah karena sedang melahirkan. Jadi dia khawatir kalau ada pencuri masuk ke rumahnya yang kosong.
    Tentu saja itu hanya alasan. Karena sesampainya di rumah, Pak Sabdono itu memeriksa pintu maupun jendela. Dia langsung mengajak Rindang mengobrol di ruang tamu. Dan bertambah malam, obrolan mereka bertambah hangat. Akhirnya bukan hanya kata-katanya saja yang semakin hangat. Belaian tangannya pun semakin hangat.
   Saat itu Rindang merasa sangat bahagia. Dia merasa tersanjung. Merasa dimanja. Merasa dikasihi. Tetapi sekarang...apa tanggapan Pak Sabdono?
   "Kamu tidak mungkin hamil. Kita tidak melakukan apa-apa".
   Rindang jadi bingung. Apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan supaya hamil? Tidak cukupkah seperti apa yang mereka lakukan pada malam itu?
   Mengapa gurunya begitu mantap? Begitu yakin?
   Tapi Pak Sabdono seorang guru. Seorang suami. Seorang Bapak. Dia pasti serba tahu. Pengetahuannya jauh diatas muridnya. Jadi dia pasti benar. Rindang tidak hamil!
   Tetapi...mengapa perut ini kian hari kian membesar juga? Dan menstruasinya tak kunjung datang?
   Pak Sabdono tidak menyuruhnya berobat. Tidak menganjurkannya memeriksakan diri ke dokter. Kelihatannya dia menganggap enteng saja.
   Dia hanya memberikan dua macam obat. Tablet-tablet yang dikatakannya vitamin.
   "Supaya haidmu lancar", katanya tenang.
   Tetapi menjelang bulan kelima, perutnya semakin membuncit. Dan haidnya belum datang juga.
   Rindang semakin gelisah. Dia mulai panik. Bingung menyembunyikan perutnya.
   Di rumah, dia dapat memakai daster longgar. Orantuanya terlalu sibuk untuk memerhatikannya. Ayah dan ibunya sama-sama sibuk berdagang di pasar. Saudara dia tidak punya. Jadi di rumah dia aman.
   Tapi di sekolah? Bagaimana menyembunyikan perutnya dari tatapan curiga gurunya? Teman-temannya?
    Rindang sudah melakukan apa saja untuk mengeluarkan haidnya. Dia melompat-lompat. Mengayuh sepeda. Mencangkul. Memompa. Mengangkat benda-benda berat. Itu semua atas nasihat Pak Sabdono. Tetapi haidnya tidak muncul juga.
   Akhirnya Rindang putus asa. Dia mencari seorang dokter. Yang jauh dari rumah dan sekolahnya. Tentu saja dengan harapan dokter tidak mengenalnya.
   Dan kata-kata dokter itu hampir membuatnya pingsan.
    "Adik hamil", katanya mantap. "Dua puluh empat minggu".
   Hamil! YA Tuhan! Dia mengandung bayi Pak Sabdono! Dan gurunya yang biasanya selalu bersikap ramah dan baik itu pasti tidak mau bertanggung jawab?
   "Kamu tidak mungkin hamil", katanya mantap.
"Kita tidak melakukan apa-apa".
   Jadi tidak mungkin memaksanya untuk mengakui anaknya. Bukankah menurut pendapatnya mereka tidak melakukan apa-apa? Padahal umur kehamilan cocok dengan saat mereka melakukan hubungan intim di rumah Pak Sabdono....
   Dengan panik RIndang memohon agar kandungannya digugurkan. Tetapi dokter itu menolak.
   "Kandunganmu memang kelihatan kecil. Tidak sesuai dengan umur kehamilan. Tapi sudah terlambat untuk digugurkan".
   Sejak itu Rindang tidak berani lagi muncul di sekolah. Dari rumah dia memang pergi setiap hari. Tetapi bukan ke sekolah.
   Kalaupun dia nekat ke sana pagi ini, dia hanya berani menunggu di kejauhan. Mencari kesempatan untuk menemui Pak Sabdono.
   Ketika melihat motornya datang dari kejauhan, Rindang melompat untuk menghadangnya. Tetapi melihat RIndang, Pak Sabdono membelokkan motornya. Dan cepat-cepat memilih jalan lain untuk menghindar.
   Dengan putus asa Rindang mengejarnya dan memanggil-manggil gurunya. Tetapi Pak Sabdono malah makin cepat mamacu motornya. Dia tidak mau menoleh. Apalagi berhenti.
   Seorang pengemudi mobil yang melihat seorang gadis berlari-lari mengejar sebuah motor, sempat memburu Pak Sabdono. Dan memaksanya untuk berhenti.
   "Bapak nabrak anak itu ya?" bentak pengemudi itu jengkel. "Jangan lari! Bapak harus bertanggung jawab!"
   "Dia murid saya!" balas Pak Sabdono sama kesalnya "Tidak usah ikut campur!"
   Ketika mobil itu telah berlalu, baru Pak Sabdono menoleh ke arah Rindang yang sudah tiba di dekatnya dengan napas tersengal-sengal dan keringat bercucuran.
   "Dari mana saja kamu?" tegurnya marah.
   "Bagaimana saya harus ke sekolah dengan membawa perut ini?" balas Rindang separo menangis. "Saya sudah hamil tujuh bulan, Pak! Bapak Jahat! Bapak bilang saya pasti tidak hamil!"
   Karena mereka mulai menarik perhatian orang-orang di jalan kecil itu, terpaksa Pak Sabdono memboncengkan Rindang meninggalkan tempat itu.
   "Orangtuamu belum tahu?" tanya Pak Sabdono datar. Nada suaranya kering. Berbeda sekali dengan dulu. Dulu dia selalu ramah.
   "Bagaimana saya harus memberitahu mereka?"
   "Obat-obat yang saya berikan selalu diminum? Tiap hari?"
   Saat itu barulah Rindang sadar, obat apa yang diberikan Pak Sabdono. Obat itu pasti bukan vitamin!.
   "Bagaimana, Pak?" tangis Rindang ketakutan. "Saya harus berbuat apa?"
   Tapi Pak Sabdono juga sama takutnya. Belum pernah Rindang melihat guru yang sangat dikaguminya itu bersikap seperti ini.
   Sekarang mereka tidak ada bedanya dengan sepasang ikan yang terperangkap dalam jala. Tidak ada guru, tidak ada murid. Tidak ada suami, tidak ada gadis. Tidak ada Bapak, tidak ada anak.
   Mereka sama bingungnya. Sama takutnya. Saat itulah hancurlah respek Rindang terhadap gurunya. Ternyata dia cuma manusia biasa! Tidak ada bedanya dengan dirinya!
   "Bapak punya anak, Dang". suara Pak Sabdono sudah sampai ke nada memohon. Mengiba-iba. "Punya istri. Tidak mungkin mengawinimu. Cobalah mengerti keadaan Bapak".
   Tetapi mengapa hanya aku yang harus mengerti keadaannya, pikir Rindang getir ketika dia sedang melangkah gundah ke sekolah. Tidakkah dia juga harus mengerti kesulitanku?
   Kepala sekolah telah mengirimsurat kepada ayahnya. Rindang sudah sebulan tidak masuk sekolah. Dan ayah sangat marah.
   "Awas kalau kau berani bolos lagi!" geram ayah Rindang gusar "Kuusir kau dari rumah ini!"
   Rindang takut sekali. Diusir dari rumah sungguh malapetaka yang mengerikan! Kemana dia harus pergi?
   Tetapi datang ke sekolah sama menakutkannya. Apa yang harus dijawabnya kalau teman-teman menanyakan perutnya?
   "Besok Bapak bawa kamu ke dokter", bujuk Pak Sabdono kewalahan. Sekedar supaya Rindang mau melepaskannya pergi. Dan tidak membuntutinya lagi. Aduh anak ini benar-benar merepotkan!
   "DOkter tidak mau menggugurkan kandungan saya, PAk" rintih Rindang putus asa. "Katanya kehamilan saya sudah terlalu besar. Buat apa Bapak bawa saya ke dokter lagi?'
  "Bapak punya kenalan", Rindang tidak tahu Pak Sabdono berbohong atau tidak. Apa bedanya lagi? Kalaupun ia berkata benar, Rindang sudah tidak mempercayainya! "Dia pasti bisa menolongmu. Sekarang biarkan Bapak pergi. Jangan mengikuti Bapak lagi. Nanti orang-orang curiga"
  Nanti orang-orang curiga 
  Hanya itu yang penting baginya sekarang. Nama baiknya. Kehormatannya. Keluarganya. yang lain tidak penting! Persetan dengan RIndang! Persetan dengan kehamilannya!
   Begitu Rindang turun dari motornya, cepat-cepat Pak Sabdono kabur ke tempat lain. Supaya mereka tidak terlihat bersama-sama ke sekolah. Kalau perlu, hari ini bolos saja. Tidak usah mengajar. Supaya tidak usah menyaksikan kegaduhan di sekolah....
   Kehamilan Rindang seudah tidak mungkin ditutupi lagi. Teman-temannya pasti tahu. Kepala sekolah tahu. Dan kalau Rindang dipanggil menghadap, Pak Sabdono tidak ingin berrada di sana....
   Dengan sedih Rindang melangkah gontai memasuki gerbang sekolahnya. Hari masih pagi. Tetapi Nidya sudah datang. Sahabatnya yang cerewet itu sudah menunggu di depan kelas. Dan mulutnya pasti tidak bisa disumbat!
   Tiba-tiba saja Rindang merasa perutnya mulas didera rasa takut. Bagaimana menyembunyikan kehamilannya dari mata NIndya yang tajam?
   Tas yang dibekapnya erat-erat di depan perutnya tidak mungkin lagi menyembunyikan perutnya yang sudah membuncit. Sebentar lagi Nindya pasti tahu. Semua orang tahu...dia hamil!
   Bergegas Rindang ke WC. Karena terburu-buru menghindari pandangan Nindya, dia menjadi kurang hati-hati. Tidak melihat lantai yang belum kering bekas dipel. Dia tergelincir dan jatuh terduduk.
   Rasa sakit menikam pinggulnya. Perutnya terasa lebih sakit lagi seperti hendak buang air besar. Pasti akibat rasa takutnya. Pasti....
   Tergopoh-gopoh Rindang merayap bangun. Berdiri dengan limbung dan masuk ke dalam WC.
   Tetapi yang dikeluarkannya di sana benar-benar sesuatu yang di luar dugaaan....darah! Darah!
   Dan bukan itu saja....bukan cuma darah.... 





My Girl



Title:  마이걸 / Ma-i-geol / My Girl 
Chinese Title : 我的女孩
Genre: Romance, Comedy
Episodes: 16
Broadcast network: SBS
Broadcast period: 2005-12-14 to 2006-02-02
Air time: Wednesday & Thursday 9:55 PM

Sinopsis :
Aku mereview dorama ini karena ada OPpa Lee Jun Kie, tapi filmnya juga bagus kok. Recomended banget buat ditonton dan dijadikan koleksi. 
Joo Yoo-rin tinggal berdua bersama ayahnya yang suka berjudi dan mabuk2an karena terbiasa kerja keras untuk bertahan hidup membuat Yoo-rin menjadi gadis yang tangguh,tahan banting dan ahli dalam melihat kesempatan yang ada. Dan kesempatan tak terduga itu datang ketika dia tidak sengaja bertemu dengan Seol Gong-chan yang baru datang ke pulau tempat Yoo-rin dan ayahnya tinggal.

Pada awalnya Gong-chan minta tolong pada Yoo-rin untuk menjadi penerjemah pada tamu hotelnya yang orang jepang dengan imbalan sejumlah uang tentunya. Setelah tugas itu selesai dan Gong-chan harus kembali ke Jepang untuk mencari sepupunya yang telah lama hilang bersama sekretarisnya yang sangat bisa dihandalkan mereka pergi ke Jepang tapi sayangnya tidak banyak informasi yang bisa di dapat. Gong-chan pun memutuskan untuk kembali ke Korea dan ketika sekretarisnya mengatakan bahwa sosok Yoo-rin...mirip dengan sepupunya yang hilang selama ini.
Walaupun pada awalnya Gong-chan sempat kesal dengan sikap Yoo-rin yang suka menipu dan enaknya sendiripun akhirnya sadar mungkin gadis itu adalah jalan keluarnya karena ia teringat janjinya pada sang kakek untuk membawa sepupu yang telah lama hilang kehadapan sang kakek yang saat ini sedang sakit di Korea.
Meskipun pada awalnya Yoo-rin menolak ide itu tapi menginggat ia di kejar2 oleh para rentenir yang menagih hutang ayahnya ditambah lagi imbalan menggiurkan yang akan diterima, akhirnya dia pun menerima tawaran Gong-chan untuk pura-pura menjadi sepupunya. Ketika Gong-chan membawa Yoo-rin kehadapan kakeknya tiba-tiba pria itu bisa sadar dari komanya. Yoo-rin yang berpikir bahwa tugasnya telah selesai ingin kembali ke pulau tapi ternyata kakek meminta dia untuk tinggal bersamanya di Korea.
Walaupun pada awalnya ada yang curiga dengan keberadaaa Yoo-rin tapi gadis itu mampu meyakinkan orang2 tersebut dengan keahliannya dalam berbohong. Tugas utama Yoo-rin dirumah itu adalah melayani sang kakek dan hari minggu dia boleh libur, suasana rumah Gong-chan pun berubah menjadi lebih ramai dengan kehadiran Yoo-rin, meskupun pada awalnya Yoo-rin sulit beradaptasi dengan lingkungan keluarga Gong-chan yang penuh aturan tapi yang tidak pernah terlintas dipikirannya adalah dia telah jatuh cinta kepada Gong-chan. Gong-chan yang saat itu telah kembali kekasih lamanya Kim Seo Hyun seorang atlet tennis yang dulu pernah meninggal Gong-chan demi memenuhi ambisinya untuk menjadi atlet tennis professional.
Seiring kebersamaannya Yoo-rin perlahan-lahan timbul perasaan lain di hati Gong-chan perasaan cemburu ketika Yoo-rin pergi dengan Seo Jung Woong sepupu Gong Chan, seorang playboy yang pernah menolong Yoo-rin dari kejaran rentenir ketika di pulau, konflik di antara mereka semakin rumit ketika sang kakek memutuskan mengenalkan Yoo-rin di muka umum ini berarti menutup kesempatan bagi Yoo-rin dan Gong-chan untuk bersama sebagai sepasang kekasih, Kemudian Gong-chan memutuskan untuk pergi ke pulau demi menghindari acara perkenalan dengan Yoo-rin tapi ketika sedang menunggu di bandara dan melihat salju yang turun dia ingat kepada Yoo-rin dan memutuskan untuk datang ke acara perkenalan itu dan berani menghadapi perasaannya kepada Yoo-rin.
Agar bisa terus bersama dengan Yoo-rin, Gong-chan terus mencari sepupunya yang asli dan tanpa disadari olehnya ternyata Seo Jung Woong mengetahui bahwa Yoo-rin bukanlah sepupu asli Gong-chan dan tidak lama berselang Kim Seo Yun juga mengetahui fakta tersebut, bahkan gadis itu karena cemburu membongkar rahasia itu di hadapan kakek Gong-chan, tentu saja sang kakek sangat marah dan meminta Yoo-rin untuk meninggalkan rumah itu dan tidak muncul lagi di hadapan Gong-chan untuk selama-lamanya..
Lanjutannya tonton sendiri ya!!!!   

Cast:
 Lee Dong Wook as Seol Gong-chan
Seol Gong chan (Lee Dong Wook) adalah satu-satunya ahli waris dari pemilik L'Avenuel Hotel, yang merupakan salah satu hotel top di Korea. Kakeknya, Seol Woong, menyewa seorang detektif untuk mencari cucunya, yang juga sepupu Gong-chan. Seol Woong yang tidak mengakui putrinya sendiri, bibi Gong-chan, ketika ia memutuskan untuk menikah dengan orang yang tidak sesuai dengan pilihannya. Namun, ketika Seol Woong telah berubah pikiran dan ingin menerima kembali putrinya, sebuah gempa bumi melanda tempat putrinya tinggal, dan sejak itu, ia telah kehilangan kontak dengan kerabat dan mungkin kesempatan untuk membuat perubahan untuk membalas semua kesalahannya terdahulu yaitu dengan cara merawat cucunya.

Lee Da Hae as Joo Yoo-rin 
Joo Yoo Rin (Lee Da Hae) adalah seorang pemandu wisata di sebuah perusahaan kecil yang bertugas menjalankan mini wisata di Pulau Jeju Korea Selatan. Ayahnya adalah seorang pecandu judi, tetapi meskipun semua utang ayahnya menjadi tanggung jawabnya, Yoo Rin selalu menemukan cara untuk membayar utang. Dia bahagia jika hidup bersama ayahnya walau hanya hidup sederhana.Karena ayahnya yang suka berjudi, dia harus pindah dari satu negara ke negara setiap kali ayahnya berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari para penagih hutang. Hal inilah yang menguntungkan Yoo-rin untuk berkomunikasi lancar dalam bahasa Cina dan Jepang, yang sangat membantu sebagai pemandu wisata setiap kali dia harus menghibur turis dari Cina dan Jepang. 

Lee Joon Ki as Seo Jung-woo
Seo Yeong-woo (Lee Jun Ki) adalah anak dari salah satu pemegang saham utama L'Avenuel Hotel dan juga teman terbaik Seol Gong-chan. Tidak seperti Gong-chan yang bertanggung jawab dan pekerja keras, Yeong-woo adalah seorang playboy yang dikenal memiliki banyak pacar.

Park Si Yeon as Kim Seo-hyun
Seorang bintang lapangan tennis.SeoSeia kembali ke Korea untuk mencari Gong-chan karena dia tidak bisa melupakannya.

Cast Extended :
 Jo Kye Hyung as Ahn Jin Kyu
Hwang Bo Ra as Ahn Jin Shim
Lee Eon Jeong as Yoon Jin Kyung
Byun Hee Bong as Seol Woong (Gong Chan’s grandfather)
Kim Yong Rim as Jang Hyung Ja (Jung Woo’s mother)
Ahn Suk Hwan as Jang Il Do
Choi Ran as Bae In Sun
Jung Han Hun as Joo Tae Hyung (Yoo Rin’s father)
Han Chae Young as Choi Ha Na (the real granddaughter, cameo)
Jae Hee as Lee Mong Ryong (Ha Na’s husband, cameo)
Oh Ji Young as Seo Hyun’s assistant / traveling companion
Han Young Kwang

Production Credits
Chief Producer: Kim Young Sup
Producer: Bae Tae Sup
Screenwriter: Hong Jung Eun / Hong Mi Ran
Director: Jun Ki Sang
Asst. Director: Park Soo Chul (박수철) 

  

My Name Is Kim Sam Soon


Title: 내 이름은 김삼순 / Nae I-reum-eun Kim Sam-soon / My Name is Kim Sam Soon
Chinese Title : 我叫金三順
Also known as: My Lovely Sam Soon (KBFD-TV)
Genre: Romance, Comedy
Episodes: 16
Broadcast network: MBC
Broadcast period: 2005-Jun-01 to 2005-Jul-21
Air time: Wednesday & Thursday 21:55


Sinopsis :
Kim Sam Soon (Kim Sun Ah) berumur 30 tahun, ia adalah tukang roti yang memiliki bakat dalam membuat kue-kue dan yang baru saja putus dari pcrnya di malam natal . Sam-soon tidak cantik apalagi seksi seperti kebanyakan cewek korea tapi dia memiliki hati yang baik,seperti kebanyakan cewek yang memasuki usia “rawan” yang takut banget nggak bakalan punya pacar atau suami dengan melakukan blind date dia coba menata kembali kehidupan asmaranya tapi selalu gagal.

Hingga pada suatu hari Sam-soon dapat tawaran pekerjaan di restaurant Perancis milik Hyeon Jin-heon yang bernama “ Bon Appetite “ sebagai seorang patisserie. Hyeon Jin-heon(Hyun Bin) seorang pria tampan tapi mempunyai sikap yang dingin dan sangat menyebalkan ( 3 tahun yang lalu sebuah kecelakaan yang dialami mobil yang dikendarainya telah menyebabkan kematian kakak laki-lakinya serta kakak iparnya,Di saat yang bersamaan, kekasih yang telah dipacarinya selama 5 tahun tiba-tiba menghilang meninggalkannya tanpa pesan untuk pergi belajar ke Amerika. Jin-heon harus menanggung penderitaan fisik dan mental yang cukup berat untuk bisa membangun kembali kehidupannya. Pengalaman pahit itu telah membuat dia kehilangan rasa percaya terhadap hidup dan cinta.)
Tapi semua berubah ketika ia bertemu dengan Sam Soon, walau dia tidak cantik seperti pacarnya yang dulu tapi dimata Jin Hoen dia memiliki kelebihan, tapi setelah mereka jatuh cinta. Jin Hoen bertemu lagi dengan pacarnya yg dulu, dan ternyata pacarnya pergi lantaran memiliki suatu penyakit.Bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Apakah Jin Hoen akan memilih Sam Soon atau balik lagi ke pacarnya yang lama????
Silahkan tonton film ini, menurut aku film ini recomended banget buat ditonton dan dikoleksi, ga rugi deh apalagi disini ada oppa Hyun Bin yg ganteng habis heheheheh.......

             Cast :
Kim Sun Ah as Kim Sam-soon
    Hyun Bin as Hyun Jin-heon
      Jung Ryu Won as Yoo Hee-jin

      Daniel Henney as Dr. Henry Kim 


         Cast Extended :
          Kim Ja Ok as Park Bong-sook (Sam-soon’s mother)
          Lee Ah Hyun as Kim Yi-young (Sam-soon’s sister)
          Na Moon Hee as Na Hyun-sook (Jin-heon’s mother)
          Suh Ji Hee as Hyun Mi-joo (Jin-heon’s niece)
          Yoon Ye Hee as Yoon Hyun-sook (Jin-heon’s “aunt”)
          Lee Kyu Han as Min Hyun-woo
          Lee Yoon Mi as Jang Chae-ri
          Won Jong Rye as Chae-ri’s mother 
          Yeo Woon Kye as Ms. Oh (Manager)
          Kwon Hae Hyo as Lee Hyun-moo (Chef)
          Han Yeo Woon as Lee In-hye (Sam-soon’s assistant)
          Kim Hyun Jung as Jang Young-ja (Dining room captain)
          Kim Ki Bang as Ki Bang (cook) 

          Production Credits
          Producer: Kim Sa Hyun
          Director: Kim Yoon Chul
          Writer: Kim Do Woo

          Awards
          42ND THE PAEKSANG AWARDS  
          Best Drama, My Lovely Sam-Soo
          Best Screenplay, Kim Do Woo
          Most Popular Couple, Hyun Bin, and Kim Sun Ah
          Best Cast, My Lovely Sam-Soon 

          MBC AWARDS 2005 
          New Actor Award, Daniel Henney
          Popularity Award, The Main Couple Hyun Bin and Kim Sun Ah
          Best Couple Award,Hyun Bin and Kim Sun Ah
          Excellence Award , Jung Ryu Won
          Top Excellence Award/ Male: Hyun Bin
          Top Excellence Award/ Female: Kim Sun Ah
          Greatest Award, Kim Sun Ah 

          SEOUL DRAMA AWARDS 2006
          Best Mini Series, My Lovely Sam-Soon