.quickedit{ display:none; }

Selasa, 03 Mei 2011

Oh My Lady

Title: 오 마이 레이디 / Oh! My Lady
Chinese Title : 哦!我的愛人
Genre: Romance, comedy
Episodes: 16
Broadcast network: SBS
Broadcast period: 2010-Mar-22 to 2010-May-11
Air time: Monday & Tuesday 20:55

Sinopsis:
Seorang ibu rumah tangga yg enerjik berusia 35 tahun, Yoon Gae Hwa, mengambil pekerjaan menjadi seorang manajer dari seorang bintang besar yg masih muda dan menyebalkan, Sung Min Woo untuk mendapatkan uang yg cukup agar bisa merebut anaknya dari kuasa sang mantan suami. Nuansa romantic dan kekonyolanpun muncul di antara keduanya selama bersama.

Cast :
Choi Si Won as Sung Min Woo
Chae Rim as Yoon Gae Hwa
Lee Hyun Woo as Yoo Shi Joon
 Park Han Byul as Yoo Ra

Cast Extended :
Moon Jung Hee as Han Jung Ah
Yoo Seo Jin as Lee Bok Nim
Yoo Tae Woong as Kim Byung Hak
Bang Joon Seo as Kim Min Ji
Kim Yoo Bin (김유빈) as Sung Ye Eun
Heo Joon Suk as Choi Tae Goo
Kim Kwang Gyu as Han Min Kwan
Kim Hee Won as Jung Yoon Suk
Hwang Hyo Eun as Oh Jae Hee
Hong Jong Hyun as Kim Jin Ho
Lee Dae Yeon as Eom Dae Yong
Chu Hun Yub as Chae Ho Suk
Seo Myung Kyu (서명규) as Min Woo’s friend
Kim Hee Joon (김희준) as Min Woo’s security guard
Yeo Ji Hyo as high school student
Jessica as herself (cameo, ep7)
Hyo Yun as herself (cameo, ep7)
Choi Soo Young as herself (cameo, ep7)
Lee Han Wie as director (cameo, ep1)
Jun Hye Jin as actress (cameo, ep1)
Na Young Hee as Gae Hwa’s former boss (cameo, ep1)

 
Production Credits
Director: Park Young Soo
Screenwriter: Goo Sun Young (구선영) 



Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab VI

HANYA sebelun sebelum pernikahan mereka, Mahmud tiba-tiba membatalkannya.
   "Dia ke jakarta untuk.   mengoperasi matanya", kata ibunya setelah berulang-ulang minta maaf. "Mahmud mendapat panggilan mendadak. Kornea donor dari Srilangka telah tiba. Kalau Mahmud menolak entah berapa lama lagi dia harus menunggu".
   Tetapi ternyata pernikahan mereka bukan hanya ditunda. Begitu memperoleh penglihatannya kembali, meskipun hanya sebelah, Mahmud segera dapat membedakan Farida dan Winda. Dan dia mulai memilih.
   "Kalau harus menikah juga, lebih baik dengan adiknya, Bu" kata Mahmud setelah hampir setengah tahun pernikahan mereka ditunda dan ibunya mendesak terus "Saya merasa lebih cocok". 
   "Bagaimana kau ini!" gerutu ibunya jengkel. "Sengaja membuat Ibu malu? Yang ibu lamarkan Farida! Bagaimana kau mau menikah dengan adiknya!"
    "Tapi Winda lebih menarik, Bu".
   "Gadis itu masih kekanak-kanakan! Belum dewasa!"
   "Tapi saya lebih tertarik padanya. Cobalah Ibu bicarakan dengan mereka...".
   "Tidak! Mau ditaruh dimana muka Ibu?"
   "saya rasa mereka juga mengerti, Bu..."
   "Apanya yang mengerti? Kau kira perempuan itu barang? Sudah diambil dapat ditukar lagi?"
   "Belum diambil, Bu. Baru ditawar!"
   "Tapi sudah Ibu lamar!"
   "Buat apa saya dipaksa menikahinya kalau kemudian saya ingin menceraikannya lagi?"
   "Farida itu gadis baik. Berpendidikan. Sopan. Keturunan orang baik-baik pula..."
   "Tapi dia cacat!"
   "Dari dulu kau tahu dia cacat!"
   "Tapi dulu saya tidak melihatnya!"
   "Ibu sudah melihatnya. Dan ibu tetap mengaguminya walaupun dia cacat".
   "Tapi yang mau kawin kan saya, bukan ibu!"


***


Ketika Mahmud datang kembali enam bulan sesudah pernikahan mereka ditunda. Farida sadar, perkawinan itu bukan hanya ditunda. Tapi sudah hampir dibatalkan.
   Walaupun Mahmud tidak berkata apa-apa dan dia bersikap sangat sopan, Farida dapat merasakan keengganan calon suaminya untuk mengambilnya sebagai istri.
   Caranya menatap dirinya sangatlah menyakitkan. Benar Mahmud tidak memandangnya dengan jijik. Tatapannya pun lebih banyak diliputi perasaan iba daripada menghina. Tetapi ditatap seperti itu oleh orang yang hampir menjadi suaminya, justru membuat Farida tambah merasa direndahkan.
   Dan meskipun hatinya sakit, harga dirinya terlukai, Farida tidak mau memperpanjang penderitaan mereka.
   Untuk apa menanti sebuah kepalsuan? Kalaupun Mahmud terpaksa menikahinya, berapa lama mereka mampu mempertahankannya?
   "Bagaimana matanya, Nak Mahmud?" tanya ibu Farida, pasti sebagai pembuka jalan untuk mengajukan pertanyaan berikutnya. Pertanyaan yang telah enam bulan mengganjal dibenaknya.
   "Lumayan, Bu", cepat-cepat disambungnya kata-katanya seolah-olah terlambat. "Tapi saya masih harus sering bolak-balik ke Jakarta untuk kontrol".
   Itu tentu alasan untuk menunda lagi pernikahan mereka.
   Mengapa tidak berterus terang saja? Untuk apa semua kepura-puraan ini?
   Katakan saja kamu tidak mau menikahi calon istrimu karena dia cacat, desah Farida dalam hati. Karena setelah dapat melihat, kamu merasa tidak sepadan. Kamu merasa dapt memilih istri yang lebih sempurna. Yang tidak cacat! Tidak buntung!.
   Farida tidak ingin memperlihatkan air matanya walaupn hatinya terasa sangat sakit. Dia tidak ingin dikasihani. Oleh siapapun. Apalagi oleh laki-laki seperti Mahmud!
   Tetapi bagaimana menahan butir-butir airmata yang sudah hampir menjebol keluar ini? Lebih-lebih ibu tampaknya belum ingin menyudahi pembicaraan mereka. Ibu masih mendesak Mahmud menentukan hari pernikahannya.
   "Maafkan saya, Bu", jawab Mahmud sopan tapi menyakitkan. "Bukannya saya ingin menunda-nunda terus pernikahan kami. Tapi saya harus mendahulukan yang terpenting. Mata ini sangat penting untuk masa depan saya".
   "Ibu tahu. Tapi kalau cuma untuk kontrol, kan bisa dilakukan sesudah menikah?"
   "Benar, Bu. Tapi saya belum ingin menikah sebelum mata saya benar-benar sembuh. Ida kan masih muda. Saya kira dia tidak keberatan menunggu setahun lagi. Bukan begitu, Ida?"
   Mahmud menoleh sambil tersenyum kaku ke arah Farida. Dan dimata yang hanya sebelah itu Farida dapat membaca keengganan yang tersirat dibaliknya.
   Tiba-tiba saja Farida merasa sangat tersinggung. Begitu rendahkah harga diri seorang wanita cacat sampai seorang laki-laki di desak-desak begitu rupa untuk menikahinya?


***


   "Dia sudah tidak menginginkan pernikahan kami, Bu", kata Farida terus terang ketika Mahmud telah meninggalkan rumah mereka. "Dia hanya tidak sampai hati mengatakannya".
   "Biar Faisal menjotos matanya yang cuma satu itu, Kak", geram Faisal sengit. "Sukur-sukur kalau dia buta lagi!".
   "Kalau dia berani datang lagi, Winda siram mukanya pakai air comberan!" sambung Winda sama gemasnya "Baru juga melek, sudah berani colak-colek!"
   Winda memang pantas geram. Sesudah memperlakukan kakaknya seperti penjual barang tidak laku, sebelum pulang Mahmud berani mencolek pipinya. Tentu saja saat tidak ada yang melihat. Kurang ajar!
   Dia dan Faisal tahu sekali apa alasan Mahmud menunda perkawinannya. Dan mereka trenyuh sekali melihat penderitaan kakak sulungnya. Mereka bisa merasakan penghinaan yang dialami Farida.
   "Tidak perlu", sahut Farida tawar. "Setiap orang berhak menikah dengan pasangan yang dipilihnya sendiri. Kita tidak bisa memaksa Bang Mahmud menikahi saya kalau memang dia tidak mau".
   "Tapi kamu sudah dilamar, Ida! "sela Ibu murung. "Mau ditaruh di mana muka kita? Semua tetangga dan handai tolan sudah tahu kamu akan menjadi istri Mahmud!"
   "Kalau Bapak dan Ibu mengizinkan, saya ingin membatalkan pernikahan ini", cetus Farida tegas.
   "Tidak mungkin!" sergah ayahnya terperanjat. "Bagaimana dapat membatalkan pernikahanmu tanpa alasan yang jelas?"
   "Bang Mahmud sebenarnya juga sudah tidak ingin menikahi saya, Pak. Dia hanya tidak tega, membatalkannya. Kalau saya tidak berani mengambil keputusan, sampai kapan saya harus menunggu?"
   "Jadi kita harus bagaimana, Ida?" keluh ibunya pahit.
   "Meskipun cacat, saya masih punya harga diri, Bu. Saya tidak mau mengemis minta dinikahi oleh seorang pria yang tidak menginginkan saya".
   Ibunya tidak mampu lagi mengucapkan sepatah katapun. Hanya airmatanya yang meleleh membasahi pipinya.
   "Lelaki macam Bang Mahmud tidak berharga untuk ditangisi, Bu!" sergah Winda jengkel. "Lepas dia, Kak Ida masih sanggup mendapat suami yang tujuh kali lebih baik!"
   "Dan punya dua mata!" sambung Faisal bersemangat
   "Kalau Bapak dan Ibu tidak keberatan", tukas Farida getir, "Saya ingin membatalkan pernikahan kami dan melanjutkan studi ke Jakarta".
   "Ida!" sergah ayah-ibunya berbarengan.
   "Saya pikir ini jalan yang paling baik. Yang tidak memalukan kedua belah pihak. Pernikahan dibatalkan karena saya ingin melanjutkan pelajaran ke fakultas hukum. Saya yakin mereka tidak akan menolak keinginan saya. Karena mereka juga sama bingungnya dengan kita".
   Tetapi ibu Mahmud terkejut sekali ketika mendengar rencana Farida.
   "Ke Jakarta? Masuk fakultas hukum? Berapa lama lagi pernikahan kalian harus ditunda, Ida?"
   "Saya pikir cita-cita Ida baik sekali, Bu!" sela Mahmud gembira seperti mendapat durian runtuh. Tatapannya bersorot sangat lega, seolah-olah sebuah beban yang teramat berat tiba-tiba saja tersingkir. "Kita tidak boleh menghalangi tekadnya! Buat wanita zaman sekarang, pernikahan bukan lagi yang paling penting!"
   "Buat saya, pernikahan masih tetap paling penting, Bang" cetus Farida tegas "Saya hanya ingin memiliki sesuatu yang dapat menambah rasa percaya diri saya sebagai orang cacat. Saya juga ingin belajar lebih baik agar kelak dapat menjadi istri yang tidak mengecewakan jika kesempatan itu masih ada".
   Saat itu mata mereka bertemu. Dan di dalam mata yang selalu tersorot pahit itu, mahmud menemukan sinar yang amat dingin seperti sebuah bongkahan es. Tapi sekaligus tekad yang sangat kuat laksana baja.
   Dan melihat tatapan gadis itu, senyum lenyap dari bibir Mahmud.



Senin, 02 Mei 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab V

PALEMBANG 1977

BAB V


Farida duduk di depan cermin di kamarnya. Ditatapnya bayangan dalam cermin itu. Sebentuk wajah yang manis. Yang selalu tampil sederhana dan sendu. Dengan rambut panjang tergerai. Dan sepasang mata yang tersorot pahit.
   Kemudian perlahan-lahan tatapannya turun ke bahu. Bahu tanpa lengan yang menyajikan pemandangan yang mengenaskan.
   Hampir tiap hari dipandanginya cacatnya dengan tatapan nanar dan getir. Tetapi hari ini, diatatapnya cacatnya lebih lama.
   Bang Mahmud memang buta. Dia tidak dapat melihat betapa mengiris hati melihat tubuh tanpa lengan.
   Bagaimanapun Farida ingin mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya, pikiran itu datang dan datang lagi seperti sebuah obsesi.
   Bang Mahmud memilihnya sebagai istri karena dia buta. Karena dia cacat. Dan karena cacatnya dia tidak dapat meilhat kekurangan calon istrinya. Atau...karena dia tidak mampu memilih istri yang lebih prima?
   Perasaan rendah diri seperti itu memang sudah dimilikinya sejak masa kanak-kanak. Lumrah memang bagi seseorang yang dilahirkan cacat. Tanpa lengan.
   Sejak kecil dia sudah biasa menerima tatapan iba orang-orang yang melihatnya. Telah terbiasa pula menerima ejekan anak-anak yang memanggilnya si buntung.
   Cacat itu memang sudah melekat dengan dirinya. Telah menjadi sebagian hidupnya. Tak dapat dipisahkan lagi.
   Farida harus belajar menyesuaikan diri dengan kekurangannya. Dan dia belajar dengan baik. Dia tidak canggung lagi mengerjakan semua tugas dengan kaki atau mulutnya.
   Mula-mula dia ditolak di sekolah umum. Dia dimasukkan ke sekolah anak-anak cacat. Ketika akhirnya dia mampu membuktikan, dia mampu bersaing dengan anak-anak yang tidak cacat, dia melanjutkan ke SMA umum. Karena memang di tempatnya, tidak ada SMA khusus untuk penyandang cacat.
   Lulus SMA dia malah bertekad melanjutkan pelajaran ke Jakarta. Ke sebuah fakultas hukum.
   Tetapi ayahnya keberatan.
   "Bapak sudah tua, Ida. Adik-adikmu banyak. Kamu anak sulung. Berikan kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan sekolahnya".
   Ketika melihat Farida tertunduk dengan wajah sendu, ayahnya langsung menyadari, kata-katanya telah melukai hati putrinya.
   "Bukan maksud Bapak membatasi kesempatanmu, Ida. Jangan salah mengerti. Bapak bangga padamu. Dengan kekuranganmu, kamu masih dapat menyamai teman-temanmu yang sempurna. Kamu berhasil menamatkan SMA-mu dengan baik. Bapak pikir itu sudah cukup".
   "Karena saya cacat?" desis Farida getir
   "Karena Bapak tidak mampu membiayaimu. Bapak harus memikirkan adik-adikmu. Terutama si Faisal. Dia laki-laki. Dia harus menyelesaikan sekolahnya".
   Karena dia laki-laki, pikir Farida jemu. Faisal wajib menyelesaikan sekolahnya! Dan karena aku perempuan, tidak buta huruf saja sudah cukup!
   "Kamu sudah harus memikirkan masa depanmu, Ida. Sebagai seorang wanita, keluargalah yang paling penting".
   Jika disuruh mengalah untuk adik-adiknya, Farida akan mematuhinya. Tetapi menikah? Nanti dulu!
   "Ida belum ingin menikah, Pak!" protesnya segera. "Jika Ida tidak boleh melanjutkan sekolah ya sudah. Ida ambil les jahit saja".
   "Tentu saja Bapak tidak menyuruhmu menikah minggu depan. Les jahit, kursus masak, itu baik untuk persiapanmu sebagai ibu rumah tangga".
   Ibu rumah tangga. Memang itu yang paling penting untuk Bapak. Karena menurut ayahnya, sepandai-pandainya wanita dia tidak akan pernah dianggap sempurna sebelum menjadi seorang istri.
   "Bapak bangga padamu, Ida. Dan kebanggaan Bapak lebih sempurna lagi kalau sudah melihat kamu mendapat jodoh".
   Tidak salah kalau ayahnya bangga. Sebagai penyandang cacat, Farida tidak pernah menyusahkan siapapun. Dia menerbitkan belas kasihan bagi siapa pun yang melihatnya. Tetapi sekaligus membangkitkan kekaguman.
   Dia memang pasrah menerima takdirnya. Tapi dia pantang menyerah. Tidak mau mengemis belas kasihan seumur hidupnya.
   Sejak kecil orangtuanya telah mendidiknya agar dapat hidup mandiri. Dia dilatih untuk tidak tergantung pada orang lain. Semua harus dapat dikerjakannya sendiri.
   "Jika Tuhan memberimu kekurangan", kata-kata itu yang selalu didengungkan ayahnya, "Dia pasti memberimu kelebihan".
   Dan Farida tumbuh menjadi seorang gadis cacat yang tegar. Dia hampir tidak pernah mengeluh. Jarang minta tolong. Dia memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya. Sepasang kaki yang kuat. Dengan jari-jari yang dapat berfungsi sebagai jari tangan. Seperangkat otak yang brilian. Hati yang tabah. Dan sebongkah tekad yang sering menimbulkan decak kagum.
   Ya, ayah memang patut bangga. Tapi kebanggaannya belum sempurna sebelum Farida mendapat jodoh. Dan ayah tidak berhenti berusaha sampai dia mendapatkan Mahmud. Hanya tiga bulan sesudah Farida lulus SMA.



* * *


Mahmud memiliki wajah yang tampan. Tubuh yang tegap. Dan sepasang mata yang buta karena kecelakaan yang merenggut penglihatannya. Kornea matanya rusak. Dan dokter tidak dapat mengembalikan penglihatannya kecuali melaui transplantasi kornea.
   Farida melihatnya untuk pertama kali ketika dia datang bersama ibunya. Untuk melamarnya.
   Meskipun Mahmud tidak dapat melihatnya, Farida memerlukan waktu lebih lama untuk berhias. Dan memerlukan waktu lebih lama pula untuk memandangi cacatnya.
   Seandainya saja aku tidak cacat, pikirnya pedih. Aku tidak usah khawatir menemui pria macam apa pun yang dipilih ayah...
   Tetapi karena dia cacat, dia memerlukan kompensasi. Dia harus terlihat lebih cantik. Karena itu dia berhias lebih lama. Dia menggunakan jari-jari kakinya untuk mengolesi bibirnya dengan lipstik. Membedaki wajahnya dengan pupur.
   "Aduh, yang hampir jadi pengantin!" goda Winda di ambang pintu kamar. "Lama amat dandannya! Tuh, camermu sudah datang! Masa aku yang mesti keluar? Nanti dikiranya aku yang mau dilamar!"
   "Hus! Jangan berisik!" gerutu Farida jengah, "Mereka kan tidak tuli!"
   "Aduh cakepnya...yang mau dilamar!" satu lagi adiknya menerobos masuk. "Lekas keluar, Kak Ida! Keburu karatan mereka menunggumu!"
   "Buat apa capek-capek dandan?" sambar Faisal dalam nada bercanda. "Dia kan buta".
   Winda menyikut rusuk adiknya. Tapi terlambat, Farida sudah mendengarnya. Dan dia merasa pedih.


* * *


Selama pertemuan itu, Farida dan Mahmud hampir tidak kebagian waktu untuk bicara. Ibu merekalah yang terus mendominasi percakapan.
   Tetapi Farida tidak dapat mengusir perasaan itu dari hatinya. Sambil bicara pun, calon ibu mertuanya terus-menerus mengawasinya dengan tatapan menilai. Matanya seolah-olah bertanya, mampukah gadis buntung ini mengurus anaknya nanti?
   Di pihak lain, ibu Farida seperti tidak mau kalah. Dia sengaja menyuruh Farida melayani tamunya. Menghidangkan teh. Bahkan memasak.
   Seolah-olah dia ingin berkata, nah lihat sendiri anakku! Tidak mengecewakan, kan? Pekerjaan apapun bisa!
   Farida seperti sedang ditest. Tetapi hasilnya memang memuaskan. Ibu Mahmud melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa gesitnya Farida. Betapa trampilnya dia memasaka menghidangkan makanan, meskipun hanya dengan mulut dan kaki. Dengan kagum ibu Mahmud menyadari calon menantunya tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk mengurus rumah tangganya.
   Ketika dia kembali ke ruang tamu dengan perasaan puas, dia melihat anaknya sedang tesenyum-senyum. Rupanya dia sedang bergurau dengan Winda.
   "Jangan cerita sama Ibu!" ancam Winda dengan suara ringan seperti sedang bercanda dengan teman akrab "Awas ya!"
   "Memang kenapa?" balas Mahmud dengan suara yang membuat dahi ibunya berkerut.
   Kapan pernah didengarnya suara anaknya seriang itu sejak kecelakaan yang merenggut penglihatannya!
   "Dosa!" cibir Winda galak
   Mahmud tertawa geli
   "Boleh coba?" tantangnya lembut
   "Coba saja kalau berani!"
   "Ada apa?" Ibu Mahmud duduk di samping anaknya sambil meredam rasa herannya. Dia menyunggingkan suntai senyum terpaksa ke arah Winda. "Mahmud jail ya?"
   "Ih, ibu! protes mahmud riang. "Winda yang menggoda saya, Bu!"
   "Bohong!" bantah Winda separo berteriak. "Ngng...Bang Mahmud jahat!"
   "Winda!" tegur ibunya yang baru muncul dari dapur. "Jangan kurang ajar sama tamu! Sana bantu kakakmu menutup meja!"
   Seperti ibu Mahmud juga, secercah perasaan tidak enak merambat ke hati ibu Farida.
   Winda memang lincah. Pintar bergaul. Dan...tidak cacat. Mereka takut...pilihan Mahmud akan beralih padanya!
   "Huu, Ibu!" dengung Winda meradang seperti tawon digebah. "Yang mau dilamar kan Kak Ida! Dia yang harus dites! Bukan saya!"
   Kata-kata yang dimaksudkan bergurau itu sempat memerahkan paras ibu Mahmud karena tepat mengenai sasaran.
   "Dasar pemalas!" sambar Faisal yang baru mencuri sepotong tempe goreng dari dapur. "Tiap kali ada tamu, kerjamu cuma cuap-cuap kayak humas!"
   "Apa bedanya dengan kamu? Katanya seksi keamanan! Tidak tahunya pagar makan tanaman!"
   "Siapa bilang aku makan tanaman? Memangnya kambing?"
   "Sudah, jangan ribut!" sela Farida yang selalu merasa bising mendengar canda adik-adiknya. "Tolong bawa tempe ini ke meja makan".
   "Jangan suruh dia, Kak!" Winda merebut piring yang hampir diambil Faisal. "Sampai meja tinggal piringnya!"
   Dan karena Faisal mempertahankannya, piring itu jatuh ke lantai. Hancur berderai dengan menerbitkan suara berisik. Tempenya berserakan ke mana-mana diiringi pekikan Nurida, adik mereka yang bungsu.
   "Bu! Ibu! Tempenya kabur!"
   "Aduh!" gerutu ibu yang bergegas pergi ke dapur ketika mendengar hiruk pikuk di sana. "Bukannya bantu kakakmu malah bikin repot!"
   "Memang konyol tuh si rakus!" desis Winda kesal
   "Siapa yang konyol?" balas Faisal sambil menjulurkan lidahnya. "SIapa yang merampas piringku?"
   "Sudah!" bentak ibu tidak sabar. "Faisal ambil kain pel! Winda, bersihkan pecahan piringnya!"
   "Sukur!" Nurida menahan tawa. "Kerja bakti!"
   "Nur, kamu ambil sapu!"
   "Lho, kok saya juga, Bu?" sergah Nurida kecewa. "Saya kan tidak bersalah!"
   "Jangan cerewet! Kecil-kecil sudah pintar membantah! Ambil sapu!"
   Nurida terpaksa pergi mengambil sapu. Ketika dia kembali dan dilihatnya Ibu sudah tidak ada, dilemparkannya sapu itu ke dekat Winda yang sedang memunguti pecahan piring.
   "Tuh, sapunya!"
   "Eh, enak saja!" belalak Winda jengkel. "siapa yang tadi disuruh Ibu nyapu?"
   "Kak Faisal!" sahut Nurida yang melihat kakaknya datang membawa ember "Nur kan cuma disuruh ngambil sapu!" Lalu dia kabur sebelum Faisal sempat mengomel
   "Nih, nyapu!" Winda memungut sapu dan menyodorkannya kepada adiknya.
   "enak saja! Tugasku ngepel!"
   "Nyapu dan ngepel satu paket! Tidak bisa dicicil!"
   "Sudah, biar kakak saja", Farida meraih sapu dari tangan adiknya. "Tinggalkan saja. Biar aku yang nyapu dan ngepel. Nih, antarkan saja gulai ini ke meja makan".
   "Tidak bisa, Kak! protes Winda keras. "Yang mau dilamar kan Kak Ida! Masa aku terus yang disuruh melayani tamu! Nanti kalau Bang Mahmud naksir sama Winda, bagaimana coba?"
   "Huu, ge-er!" sambar Faisal sambil menimpuk pinggul Winda dengan sepotong tempe goreng yang tercecer di lantai. "Tuh, makan tempe biar otakmu jalan!"
   Ketika Winda memungut tempe itu dengan gemas dan hendak menimpuk Faisal, Farida merebutnya.
   "Sudah! Jangan becanda terus!"
   "Memang konyol tuh!" dumal Winda jengkel. "Eh, ngomong-ngomong calon suamimu ganteng juga ya, Kak?"
   Winda memang benar, pikir Farida ketika beberapa kali dia mencuri-curi lihat ke arah Mahmud waktu mereka makan bersama.
   Pemuda itu memang tampan. Perawakannya pun tegap. Sayang, dia buta.
   Tetapi...seandainya dia tidak buta, maukah dia melamar seorang gadis buntung?
   Dalam usia dua puluh enam tahun, memang Mahmud hidup berkecukupan sebagai anak tunggal seorang janda pemilik toko klontong. Dia bisa memilih sendiri gadis cantik untuk menjadi istrinya...kalau saja dia bisa melihat...


* * *


"Wah, yang baru dilamar, melamun terus!" goda Winda ketika malam itu dia menemmukan kakaknya sedang termenung di tempat tidur. "Masih lama, Kak! Dua bulan lagi!"
   "win", desah Farida tanpa menoleh. "Kamu punya pacar?"
   "Pacar?" Winda menyeringai jenaka. "Banyak, Kak! Ada beberapa biji! Mau pinjam? Mau bikin Bang Mahmud cemburu?"
   "Hus! kakak serius!"
   "Kapan Kak Ida pernah tidak serius? Ayo santai saja, Kak! Biar awet muda!"
   "Kamu punya seorang yang kamu sayangi?"
   "Bukan seorang!" gurau Winda riang. "TIga! yang dua cadangan!"
   "Kalau pacar utama sakit? Cuti? Lagi ngambek?"
   "Tapi kamu punya satu kan yang benar-benar kamu sayangi?"
   Winda tersenyum manis.
   "Kenapa Kak Ida tanya begitu?"
   "Dengan dia kamu ingin menikah, kan?"
   "Ya, Kalau dia belum bosan!"
   "Pernahkah kamu bayangkan, menikah dengan seorang laki-laki yang tidak kamu cintai? yang baru satu kali ketemu?"
   Tiba-tiba senyum Winda mengambang. Di tatapnya kakaknya dengan iba.
   "Maksud kakak...Bang Mahmud?"
   Farida tidak menjawab karena dia memang tidak perlu menjawab. Winda sudah tau jawabannya.
   "Kalau Kak Ida tidak menyukainya, kenapa tidak bilang sama Bapak?"
   "Kakak bukan tidak suka, Win. Bang Mahmud baik. sopan. Ganteng pula, seperti katamu. Tapi kakak sebenarnya belum ingin menikah. Masih ingin sekolah".
   "Ya, Winda tahu", air muka Winda berubah serius. "Mestinya Kak Ida yang melanjutkan studi. Winda yang berhenti sekolah. Sudah bosan!"
   "Kamu kan baru kelas dua SMA, Win. Paling tidak kamu harus menyelesaikan SMA-mu"
   "Untuk apa? Punya ijazah SMA laku kerja apa? Mendingan aku berhenti sekolah. Ambil les jahit. Lalu tunggu dilamar!"
   "Jangan ngomong sembarangan!"
   "Serius, Kak! Faisal juga bilang begitu. Dia bilang sudah bosan sekolah. Dia ingin merantau. Belajar dagang, katanya".
   "Tapi kalian harus menyelesaikan SMA dulu"
   "Itu kan maunya Bapak! Tidak adil! kak Ida yang mau sekolah disuruh kawin. Winda dan Faisal yang sudah bosan, malah disuruh sekolah terus!"
   "Kamu belum ingin menikah kan, Win?"
   "Kalau sudah ada yang melamar seperti Bang Mahmud sih..." Winda melirik jenaka.
   Si bandel itu sudah kembali bergurau lagi. Memang sulit mengajaknya serius. Tapi untuk Winda, hidup memang murah hati. Sejak kecil, hidupnya tak pernah susah. Sesudah meningkat remaja, dunia pun selalu tersenyum kepadanya. Dia cantik. Lincah. Pintar bergaul. Disukai pria. Dan....tidak cacat. Bahkan giginya pun tidak ada yang ginsul. Semua oke. Semua sempurna.
   Alangkah berbeda dengan diriku, sering Farida membandingkan nasibnya dengan nasib adiknya. Bukan dengan rasa iri. Tetapi dengan rasa pilu.
   "Kamu mau menikah dengan pria yang tidak kamu cintai?"
   "apa susahnya mencintai laki-laki seperti Bang Mahmud? Sayang dia buta. Kalau tidak pasti jadi rebutan!"
   Semalaman Farida memikirkan kata-kata adiknya. Seandainya Mahmud tidak buta...dia pasti jadi rebutan gadis-gadis! Tetapi karena dia buta, dia terpaksa menerima nasib menikah dengan seorang gadis buntung!
   Ah, harga diri Farida sungguh terlukai. Tetapi....bagaimana menentang kehendak Bapak? Bukankah Bapak telah mengusahakan yang terbaik untuknya?
   Mungkin Bapak merasa tugasnya telah rampung bila anak-anaknya telah mendapat pendidikan yang cukup. Menikah. Dan memiliki keluarga.
   Dari antara keempat anaknya. Farida-lah yang paling membebani pikirannya. Karena cuma dia lah satu-satunya yang cacat.
   Bapak merasa lega meninggalkannya jika dia sudah mendapat seorang suami. Seorang pelindung yang akan menggantikannya bila dia telah tiada.
   Tentu saja Farida dapat memahami keinginan ayahnya. Tetapi...menikah denang seorang laki-laki yang tidak dicintainya?
   Dia memang cacat. Tapi dia tetap seorang wanita. Yang mendambakan cinta sama seperti seorang wanita normal.
   "Cinta dapat tumbuh setelah perkawinan, Ida", hibur ibunya tadi.
   "Apa susahnya mencintai laki-laki seperti Bang Mahmud?'
   Ya, mungkin Winda benar. Tidak sulit bagi Farida mencintai suaminya setelah menikah nanti. Tetapi...dapatkah Mahmud mencintainya?

Minggu, 01 Mei 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab IV

BAB IV

MUNGKINKAH gadis berumur lima belas tahun yang manis tapi lugu itu merayu gurunya, pikir Farida kerika dia sedang termenung menekuri berkas-berkas perkara Linda Ramelan.
   Farida masih ingat pertemuannya yang pertama dengan gadis itu. Dia datang diantar oleh seorang polisi wanita. Terbenam dalam ketakutan dalam rangkulan ibunya.
   Wajahnya yang polos menyiratkan rasa malu. Takut. Sekaligus bingung.
   Sejak peristiwa yang membuatnya shock itu, dia terus-menerus ditanya-tanya. Dibentak-bentak. Diperiksa. Mula-mula di rumahnya. Ayahnya memaksanya mengakui siapa yang melakukan hal itu. Ketika Linda masih menangis kebingungan, ayah sudah membentak-bentaknya dengan sengit.
   Begitu pengakuan keluar dari mulutnya. Ayah langsung membawanya ke polsek. Di sana dia dipaksa menceritakan lagi pengalaman pahitnya. Kali ini pengakuannya dicatat oleh seorang polisi.
   Lalu dia dibawa ke seorang dokter, yang memperlakukan tubuhnya seperti sebuah barang bukti. Tidak kasar. Tapi tidak berperasaan.
   Meskipun  terus-menerus didampingi ibunya, pemeriksaan yang sangat tidak menyenangkan itu sangat menusuk perasaannya sebagai seorang gadis yang baru berumur lima belas tahun.
   Lalu pengakuannya yang telah diceritakannya entah berapa kali itu harus diulanginya lagi. Kali ini di depan seorang petugas yang mencatat pengakuannya dengan lebih cermat. Setelah dibacakan, pengakuan itu harus ditandatanganinya.
   Dalam keadaan takut dan lemah, dia diperbolehkan pulang setelah disuntik dan dibekali beberapa macam obat. 
   "Kasus Linda Ramelan lagi?" tegur Sultan, salah seorang rekannya yang baru masuk ke kamar kerjanya.
   Farida hanya mengannguk.
   "Kamu sudah berhasil menjebloskan pemerkosanya ke dalam penjara. Mau apa lagi? Masih penasaran?"
   "Cuma tujuh bulan". sahut Farida tanpa mengangkat wajahnya jengkel. Dadanya terasa panas. Dan tetap pengap sekalipun dia telah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi.
   "Ingin dia dihukum sesuai tuntutanmu?" Sultan tersenyum tipis. "Barangkali hakimnya harus wanita!"
   "Coba bayangkan", desis Farisa kesal. "Tujuh bulan untuk perbuatan sekeji itu! Bahkan sesudah dia keluar dari penjara nanti, gadis itu belum pulih dari shocknya!"
   "Ya memang kelihatannya trauma psikisnya cukup berat. Di persidangan dia selalu gemetaran dan pucat pasi seperti orang ketakutan".
   "Menurut dokter, sindroma trauma pekosaan yang menimpa LInda cukup berat. Sampai sekarang dia tidak bisa tidur kalau tidak minum obat. Tidak berani ditinggal sendirian di rumah. Sekaligus tidak berani meninggalkan rumah. Sudah dua kali dia mencoba bunuh diri pula".
   "Ya, tujuh bulan memang hukuman yang terlalu ringan. Seharusnya mereka naik banding".
   "Yang naik banding justru pihak terdakwa!"
   "Keterlaluan, ya? Tujuh bulan pun mereka keberatan!"
   "Itu yang membuat saya gemas! Terdakwa menyatakan dia tidak bersalah. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Bahkan dia menuduh korbanlah yang merayunya. Bukankah LInda yang datang ke rumahnya? Seorang diri pula. Dan Linda tahu, saat itu istri gurunya sedang melahirkan. Jadi tidak ada siapa-siapa di rumah".
   "Kamu takut pengadilan tinggi akan membebaskannya?"
   "Terus terang saja saya khawatir. Pembelanya sangat ulet. Pertanyaan-pertanyaannya kepada Linda sangat memojokkan. Sementara oranftua LInda sudah menyerah. Tidak mau naik banding".
   "Apa alasannya? Mereka juga tidak puas kalau bajingan itu dibebaskan, kan?"
   "Ayah Linda bilang, mereka tidak ingin memperpanjang perkara. Mereka sudah sangat tersiksa sebelum dan selama persidangan. Mereka sudah letih".
   "Bujuk lagi saja mereka. Bilang bajingan itu punya kesempatan untuk lolos. Tapi kamu juga harus mengumpulkan bukti lebih banyak lagi, Da! Kamu harus dapat menyakinkan hakim, lelaki seperti dia sangat berbahaya kalau dibiarkan berkeliaran bebas. Apalagi dia seorang guru!"
    "Saya memang ingin tahu lebih banyak tentang dia. Guru macam apa yang sampai hati merusak muridnya sendiri?"
   Dan konsentrasi Farida kembali tercurah ke pengakuan Linda Ramelan.


* * *

  "Kok sepi, Pak?" tanya Linda heran. "Ibu ke mana?"
  "Belum pulang", sahut Pak Sabdono sambil melebarkan pintu rumahnya. "Kata dokter besok baru boleh pulang".
   "Bayinya juga besok pulang, Pak?"
   "Belum. Perlu dirawat beberapa hari lagi. Badannya kuning semua. Perlu disinar. Ayo, masuk".
   Linda melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Pak Sabdono menutup pintu. Dan menguncinya sekalian.
   "Duduklah", Pak Sabdono menunjuk ke arah sofa "Mau minum apa?"
   "Tidak usah repot-repot, Pak. Anak-anak Bapak yang lain pada kemana?"
   "Sedang menengok ibunya. Kata mereka ingin melihat adiknya?"
   "Adiknya perempuan lagi, Pak?"
   "Iya, sudah lima, perempuan semua".
   "Tanggung, Pak! Bikin setengah lusin!"
   "Hus! Enak saja kamu bicara! Memangnya gelas, pakai setengah lusin segala!"
   "Selamat ya, Pak!" Linda mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Pak Sabdono sangat menikmati kehangatan senyum muridnya. Tangannya juga. "Mudah-mudahan tahun depan dapat koboi!"
   "Tidak ada tahun depan". Pak Sabdono seperti tidak mau melepaskan tangan Linda dari gengamannya. "Tahun ini pabriknya tutup".
   "KB ya, Pak?" Linda menarik tangannya lepas. Senyumnya masih menggoda.
   "Sudah tua".
   "Ah Bapak kan belum tua", gurau Linda ceria. "Masih balita, kan, Pak?"
   "Apanya yang balita?"
   "Bawah lima puluh tahun!" Linda tertawa renyah
   Pak Sabdono menikmati tawa muridnya. wajahnya yang manis. Giginya yang putih rata. Matanya yang bersinar cemerlang.
   "Bapak sudah lima empat! Sebentar lagi pensiun!"
   "Ah, kata teman-teman, Bapak baru empat lima! awet muda dan penuh semangat empat lima!"
   Pak Sabdono tersenyum bangga. Dalam usia lima empat, dia memang terlihat energik. Badannya masih tegap. Belum bongkok. Mungkin karena rajin berolah raga. Mungkin pula karena selalu menyantap makanan sehat bergizi. Mungkin pula karena dikelilingi gadis-gadis remaja yang cantik. Seperti muridnya yang satu ini.
   "Bapak mandi dulu ya", kata Pak Sabdono sambil melangkah ke kamarnya. "Nanti kita sama-sama pergi ke sekolah. Itu minumannya dimeja. Jangan tidak diminum".
   "Bapak belum mandi?" belalak Linda pura-pura terkejut.
   "Kenapa?" tantang Pak Sabdono separo bergurau. "Masih bau keringat?"
   Linda menutup mulutnya menahan tawa.
   "Bukan latihannya jam lima, Pak? Kalau nunggu Bapak mandi dulu, latihannya keburu bubar!"
   Mereka memang berniat pergi ke sekolah untuk latihan basket. Karena sopir Linda sakit, Pak Sabdono menawarkan diri untuk memboncengi LInda ke sekolah dengan motornya.
   "Tapi kamu yang ke rumah saya ya,", kata Pak Sabdono di sekolah siang tadi. "Saya tidak sempat menjemput kamu lagi".
   Tentu saja Linda tidak curiga. Orangtuanya juga tidak. Mereka mengizinkan putrinya latihan basket di sekolah. Meskipun sopir mereka hari itu sakit dan Linda harus naik taksi. Yang mereka tidak tahu, putrinya tidak naik taksi ke sekolah. Dia naik taksi ke rumah gurunya. Justru pada saat Pak guru sedang berada seorang diri di rumah karena istrinya masih dirawat di klinik bersalin.
   Linda juga tidak curiga ketika Pak Sabdono menyuruhnya menghabiskan minuman yang sudah tersedia di atas meja. Tidak curiga ketika gurunya memanggilnya ke kamar. Ketika dia membuka pintu kamar, dilihatnya Pak Sabdono sedang tegak di sisi tempat tidur. Setumpuk pakaian yang kelihatannya baru selesai dicuci teronggok di atas kasur.
   "Mau tolong saya?" tanyanya dengan suara tak berdosa.
   "Memilihkan baju untuk Bapak?" sahut Linda tanpa curiga sedikitpun. 
   "Sekalian tolong disetrika ya?"
   "Baju sebanyak itu?" LInda menahan tawa. "Kapan kita sampai di sekolah. Pak? Teman-teman pasti sudah bubar jalan!"
   "Satu saja". Pak Sabdono tersenyum sambil membuka lengannya berpura-pura mengeluh. "Istri tidak ada repot juga".
   Dan dia tidak menutup lengannya lagi sampai Linda tiba di dekatnya.
   "Tiba-tiba dia menarik saya ke pelukannya", Farida masih dapat mengingat cerita LInda dengan jelas. Gadis itu menceritakannya sambil mengangis. "Lalu...lalu...dia memaksa saya..."
   Dia memaksa saya
   Artinya Linda dipaksa melakukan persetubuhan. Dia diperkosa. Tetapi mengapa visum et repertum dokter tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan?
   Dokter memang menyatakan ada persetubuhan. Tapi tidak ada kekerasan. Karena itu pembela menyimpulkan persetubuhan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Bahkan karena korban yang datang ke rumah tersangka pada saat dia sendirian di rumah, korbanlah yang dituduh memulai perbuatan cabul itu.
   "Karena itu kita kalah", kata Farida ketika dia datang ke rumah Linda untuk membujuknya mengajukan banding. "Kamu harus menceritakannya dengan terus terang, Linda. Katakan pada saya apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa kamu tidak melawan kalau gurumu memaksa kamu melakukan perbuatan yang tidak kamu inginkan?"
   Linda menatap Farida dengan ketakutan. Bibirnya bergetar hebat
   "Saya tahu kamu tidak ingin mengingat-ngingat lagi peristiwa itu", bujuk Farida sabar "Tapi kamu tidak rela guru sekeji itu dibiarkan bebas, kan? Kamu tidak puas kalau orang yang sudah berbuat jahat kepadamu dibebaskan dari hukuman?"
   "Barangkali hukumannya memang ringan, Bu Farida", cetusa ibu Linda yang selalu mendampingi putrinya. "Tapi masuk penjara saja sudah merusak nama baiknya sebagai guru. Saya rasa itu hukuman yang paling berat untuknya".
   "Kalau dia tidak dibebaskan, bu" sahut Farida muram "Pembelanya sedang mengajukan banding. Dan mereka punya sederet saksi yang berani bersumpah, Pak Sabdono adalah guru yang baik. Tidak genit. Tidak pernah terlibat affair dengan murid-muridnya. Tidak pernah berselingkuh. Perceraian dengan istri pertamanya juga bukan karena kesalahan Pak Sabdono. Ada saksi yang mengatakan, perempuan itu yang minta cerai karena tidak tahan lagi hidup sebagai istri guru yang pendapatannya pas-pasan".
   "Barangkali perempuan itu sudah mengendus kebejatan suaminya", geram ibu Linda muak, "Hanya saja belum ada bukti".
   "Dan tidak ada yang berani bersaksi", sambung Farida dingin. "Saya berjanji akan mencari bukti dan saksi untuk memberatkannya, Bu. Tapi tolong bujuk LInda untuk membantu saya".
   "Apa lagi yang harus dilakukannya?"
   "Jujurlah pada saya. Mengapa dia tidak melawan kalau dipaksa?"
   Tetapi Linda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ketakutan.
   "Kamu diancam?"
   Linda merebahkan dirinya ke pelukan ibunya. Tangisnya pecah tanpa dapat ditahan-tahn lagi.
   "Sudahlah, Bu Farida', pinta ibu Linda lirih. "Kasihan LInda. Dia sudah tidak kuat menanggung beban seberat ini. Dia sudah dua kali mencoba bunuh diri..."
   "Kamu tidak boleh mati, Linda!" geram Farida gemas "Kamu harus tegar! Tidak boleh menyerah pada nasib!"
   "Dia merasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup", keluh ibu Linda sedih. "Masa depannya sudah hancur. Linda sudah tidak mau sekolah lagi. Malu pada teman-temannya. Keluar ruamh saja dia takut. Tidak berani ketemu orang yang akan menghina dirinya. Mereka semua menganggap Linda-lah yang merayu gurunya".
   "Kamu harus melawan ketidakadilan itu, Linda! Bukan malah larut dalam keputusasaan. Dunia harus tahu, bukan kamu yang salah! Dan cuma kamu yang dapat membuktikannya!"
   "Tidak ada yang percaya pada Linda, Bu. Bahkan guru-guru dan teman-temannya percaya, Linda lah yang menggoda Pak Sabdono!"
   "Saya percaya kamu tidak bersalah, Linda", kata Farida tegas. "Saya hanya heran mengapa kamu tidak melawan..."
   Tetapi LInda sudah tidak dapat ditanya lagi. Ibunya yang memohon agar Farida meninggalkan mereka.
   "Kami sudah putus ada, Bu", katanya lirih. "Biarlah Tuhan yang menghukum orang yang bersalah. Dia hakim Yang Maha Adil".
   Tetapi Tuhan tidak akan membantu jika kita tidak berusaha, geram Farida dalam hati. Hanya manusia lemah yang menyerah pada nasib!


* * *


Seluruh penghuni sekolah tempat Pak Sabdono mengajar menyambut kedatangan Farida dengan dingin. Guru-guru menyingkir. Tata usaha membuang muka. Murid-murid memasang wajah bermusuhan. Semua yang ditanya malas menjawab. Hanya kepala sekolah yang terpaksa melayani.
   "Perkara ini sudah di tangan pengadilan", tukas kepala sekolah datar. "Vonis sudah dijatuhkan. Mau apa lagi? Kami tidak bersedia ditanya-tanya lagi. Kasus sudah ditutup".
   "Ibu keliru", bantah Farida tegas "Perkara ini masih dalam tingkat banding".
   "Kami tidak mau terlibat lagi. Sudah cukup kami disorot"
   "Saya datang bukan sebagai penuntut umum, Bu. Saya hanya ingin mengenal lebih dekat pribadi Pak Sabdono".
   "Untuk apa?" gerutu kepala sekolah ketus. "Lima belas tahun mengajar sebagai guru olahraga di sekolah ini, tidak pernah ada keluhan tentang dirinya. Sikapnya selalu baik. Santun. Terhormat."
   "Bagaimana dengan keluarganya?"
   "Tanyakan saja sendiri ke rumahnya. Dia punya seorang istri dan lima orang anak. Tidak pernah terlibat skandal atau perselingkuhan. Tidak punya istri muda atau simpanan".
   "Bagaimana dengan istri pertamanya?"
   Alis kepala sekolah terangkat naik. Matanya bersorot marah ketika menatap Farida.
   "Mereka bercerai baik-baik".
   "Bukan karena ulah Pak Sabdono istrinya minta cerai?"
   "Kalau guru yang tidak bisa ngobjek dianggap ulah!"
   "Ibu tahu dimana mantan istrinya sekarang?"
   "Mengapa saya harus tahu?"
   "Di mana Pak Sabdono mengajar sebelum menjadi guru disini?"
   " Saya tidak tahu apakah Anda masih berwenang menanyakannya. Terus terang saya keberatan menjawabnya".
   "Baiklah. Saya tidak akan mendesak Ibu lagi. Saya datang ke sini bukan sebagai seorang jaksa. Saya datang sebagai seorang wanita yang merasa tersentuh melihat nasib sesama saya, yang kehilangan masa depannya karena ulah seseorang yang sudah dianggap sebagai pengganti orangtuanya. Sebagai seorang guru dan seorang wanita seharusnya ibu juga ikut tergugah!"
   "Bagaimana kalau sebaliknya?" protes kepala sekolah berang. "Linda yang menggoda gurunya sehingga dia khilaf? Dia telah merusak nama baik guru dan sekolahnya!"
   "Mengapa ibu begitu yakin bukan Pak Sabdono yang memaksa LInda karena dia kesepian?"
   "Mengapa baru sekarang dia merasa kesepian? Pak Sabdono sudah lima belas tahun mengajar di sekolah ini. Muridnya sudah ratusan. Tak pernah ada peristiwa yang memalukan seperti ini!"


* * *


Ketika Farida sedang meninggalkan sekolah itu, seseorang hampir menubruknya di kaki lima. Mereka sama-sama terkejut. Dan sama-sama terperangah.
   "Ida!" cetus laki-laki mudah itu dengan tatapan tak percaya.
   "Bang Mahmud", gumam Farida dengan napas tertahan.
   Laki-laki itu masih tetap seganteng dulu. Lebih-lebih bila dia mengenakan kacamata hitam yang menutupi sebelah matanya yang cacat.
   "Sedang apa di sini, Ida? Oh, pasti sehubungan dengan kasus Linda Ramelan itu, ya? Saya baca beritanya di koran. Hebat kamu sekarang! Sarjana Hukum! Wah, saya benar-benar bangga padamu!"
   Benarkah kamu merasa bangga, pikir Farida getir. Suatu saat dulu, kamu malah merasa malu!