.quickedit{ display:none; }

Kamis, 28 April 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab II

   "TIDAK ingin melihat anaknya, Dik?" tegur suster Ani, satu-satunya perawat yang selalu bersikap ramah terhadap Rindang.
   Perawat yang lain kesal pada sikap orangtuanya. Ada juga yang jijik kepada Rindang karena melahirkan anak gelap. Tapi suster Ani berbeda. Baginya setiap pasien sama berharganya. Harus dirawat dan dilayani dengan baik.
    Rindang menatap Suster Ani dengan tatapan ngeri.
   "Kenapa?" tanya Suster Ani lembut. "Takut melihat anakmu sendiri? Dia manis kok. Meskipun cacat. Sekarang masih di dalam inkubator. Kan lahir prematur."
   Rindang memejamkan matanya rapat-rapat. Seperti ingin mengusir bayangan anaknya. Anak yang hanya sekali pernah dilihatnya. Anak tanpa lengan....
   Itukah hasil perbuatannya? Dia ingin mengenyahkan anak itu. Ingin membunuhnya! Tapi dia tidak mati! Dia hidup....meski cacat!
   Ibunyalah yang membuatnya cacat. Ibunya yang ingin mengenyahkannya. Maembunuhnya!
   Bayi itu telah diteror. Diusik. Diganggu. Diusir. Tapi dia tidak mau pergi juga. Dia bertahan dalam rahim ibunya. Meski harus lahir tanpa lengan...Itukah akibat ulah ibunya? Akibat obat-obatan yang diberikan ayahnya?
   Ya Tuhan, betapa mahal harga yang harus dibayarnya untuk sebuah kehidupan yang tak pernah dimintanya. Betapa mahal harga helaan napas yang harus ditebusnya!
   "Daya tahannya luar biasa", komentar Dokter Toyib kagum, "Kelak dia akan menjadi gadis penyandang cacat yang hebat!".
   Tapi....apa hebatnya seorang penyandang cacat bagaimananpun kuatnya dia?
   "Kenapa dia tidak dilabiarkan mati saja?" kata-kata ibunya kembali menikam telinga dan hati Rindang. "Buat apa dia hidup kalau hanya untuk memberi malu keluarganya? Tidak punya lengan! Tidak punya ayah!".
   Tidak punya lengan. Tidak punya ayah
   Kata-kata itu terus menerus menggedor gendang telinganya. Tidak punya lengan. Tidak punya ayah. Tapi dia masih punya Ibu! DIa masih punya seorang...
   Tiba-tiba saja ada keinginan yang maha kuat dari hati Rindang untuk melindungi anaknya.
   "Kenapa dia tidak dibiarkan mati saja?"
   Tapi...mengapa anaknya tidak boleh hidup? Dia cacat. Dia haram. Tapi bukan berarti dia tidak boleh hidup!
   Jika Tuhan sudah memberinya kehidupan, kata siapa manusia boleh mencabutnya? Tidak seorang pun berhak melarangnya hidup!
   Dia telah kehilangan kedua belah tangannya. Tetapi dia tidak kehilangan semangatnya untuk bertahan hidup!
   Rindang harus membantu anaknya untuk tetap hidup. Barangkali dengan begitu dia dapat menebus dosanya. Menebus kesalahannya karena telah berusaha membunuhnya. Telah menyebabkan anaknya cacat!

* * *

   "Membawanya pulang?, geram ayah Rindang gusar. "Belum cukup kau beri malu orangtuamu?"
   "Tapi dia harus dikemanakan ayah? keluh Rindang getir "Dia sudah ada! Dan ada karena perbuatan saya! Dia harus disingkirkan kemana lagi?"
    "Barangkali ada orang yang mau mengadopsi anakmu".
   "Siapa yang mau mengadopsi anak cacat?"
   "Kalau begitu buat apa kau bawa dia pulang?"
   "Sepanjang hidupnya saya telah berusaha menyingkirkannya, Ayah. Sekarang saya ingin memilikinya. Karena di dunia ini, dia hanya punya saya. Ibu kandungnya!"
   "Memiliki seorang anak haram?" belalak ibunya kesal. "Anak yang tak punya ayah? Cacat pula! Tidak, Rindang. Sudah cukup kau corengkan arang di kening orantuamu!"
   "Harus saya buang kemana anak saya bu?" desah Rindang putus asa
   "Kau boleh memiliki anak itu kalau ayahnya mau mengawinimu. Kalau tidak, kau boleh pilih. Tinggalkan anak itu. Atau orangtuamu".
   "Bapak punya isteri. Punya anak". terbayang kembali wajah Pak Sabdono yang mengerut ketakutan. "Cobalah mengerti keadaan Bapak...."
   "Kenapa menemui saya disini?" keluh Pak Sabdono gelisah. Matanya berkeliaran resah ke sekeliling mereka.
   Tempat parkir motor di samping gedung sekolaj sudah mulai sepi. Tapi masih ada beberapa orang guru yang belum mengambil motor atau sepeda mereka. Sebentar lagi mereka pasti kemari.
   Apa kata mereka kalau melihat rekannya berbincang-bincang dengan Rindang di tempat sepi ini?
   Akhir-akhir ini nama Rindang memang sudah rusak berat. Dia dijauhi semua orang seperti wabah.
   "Saya perlu uang, Pak"
   "Uang?"
   "Untuk merawat anak kita".
   "Rindang!" cetus Pak Sabdono antara kaget dan ngeri, seolah-olah dia baru saja mengucapkan kata-kata berbahaya yang akan menggiringnya ke penjara. "Jangan bicara seperti itu!"
   "Bukan cuman Bapak yang takut!" geram Rindang gemas. "Saya juga takut. Tapi saya tidak bisa bersembunya seperti Bapak! Saya harus merawat anak kita! Dan saya perlu uang!"
   "Kembalilah pada orangtuamu!" pinta Pak Sabdono memelas. Separo memohon
   "Saya ingin kembali, Pak", desah Rindang menahan tangis. "Tapi jalan untuk kembali telah tertutup!" Air mata Rindang mengalir ke pipinya. "Dan semua itu gara-gara Bapak!"
   "Mari kita bicara di tempat lain, Rindang". pinta Pak Sabdono resah sambil lekas-lekas mendorong motornya. Ekor matanya sudah menangkap bayangan Pak Ikhsan di kejauhan. Dia pasti kemari untuk mengambil sepedanya.
   "Saya sudah tidak ingin bicara, PAk. Tidak ada gunanya lagi. Saya sudah tahu apa yang ingin Bapak katakan".
   "Kita jangan kelihatan orang berduaan disini. Nanti mereka curiga".
   "Karena itu Bapak tidak pernah menengok saya di rumah sakit? Tidak mau menengok anak Bapak?"
   "Kamu tidak mau mengacaukan rumah tangga saya, kan?" desis Pak Sabdono jengkel. "Menghancurkan perkawinan saya?"
   "Bapak tidak merasa sudah menghancurkan hidup saya?"
   "Jadi apa maumu?"
   "Saya cuma minta uang"
   "Kamu mau memeras saya?"
   "Memeraskah namanya minta uang untuk membesarkan anak Bapak sendiri?"
   "Bapak tidak bisa memberimu uang. Lebih baik kamu pulang saja".
   "Saya bukan pengemis, Pak! Saya bisa merusak nama Bapak! Tapi saya tidak mau. Saya cuma menuntut sedikit tanggung jawab Bapak!"
   "Jangan mendesak saya, Rindang! Saya tidak bisa diancam!"
   Bergegas Pak Sabdono meninggalkan Rindang. Tapi RIndang masih berjuang untuk memperoleh sisa-sisa haknya yang terakhir.
   Sambil terisak-isak dia mengejar gurunya. Tapi karena terlalu tergesa-gesa, dia tergelincir dan jatuh terduduk.
   Seseorang mengulurkan tangannya. Ketika Rindang mengangkat mukanya, dia melihat Pak Ikhsan tegak dihadapannya. Saat itu motor Pak Sabdono telah jauh meninggalkannya.
  

0 komentar:

Poskan Komentar