.quickedit{ display:none; }

Kamis, 09 Juni 2011

Nikah Dini Kereeeeeen#1--Haekal Siregar/BAB I

BAB I

Suara music hingar-bingar masih mengambang ke seantero ruangan gelap di sebuah diskotik di Puncak. Semantara suara DJ terkadang menyelingi, dan memberi semangat kepada puluhan orang yang sedang asyik bergoyang mengikuti irama. Udara dipenuhi asap rokok, warna-warni cahaya yang datang dari bola lampu diskotik di atap ruangan dan cekikikan pasangan-pasangan yang duduk di pojok-pojok gelap yang sesekali tersorot lampu.
     Sita sepupu Mita asyik bergoyang dikelilingi para lelaki. Gak ketinggalan nyokapnya yang dandanannya menor habis. Aku sendiri sudah capek. Sebelumnya hamper dua jam jingkrak-jingkrak bareng Eko. Sekarang aku duduk di lantai sebelah Yongki. Di sekitarku ada Eko, Mita, Teddy dan Om Mateus.
     Nyokap Mita juga baru saja ngelumbruk. Kayak karung basah, dikelilingi cowok-cowok keren. Mojoook!
     Pas aku mematikan rokok di asbak, Yongki tiba-tiba mengusirku.
     “Kal, lo benar jadian sama anak rohis? Siapa sih namanya?”
     Kulihat matanya sudah merah karena pengaruh minuman dan ganja.
     “Namanya Seli. Bener gw dah jadian sekitar dua minggu ‘kali” jawabku enteng sambil melinting ganja di kotak rokok Yongki.
     “Suer, deh. Kalo nggak denger langsung dari elo gua gak bakalan percaya sama berita itu. Bukan apa-apa sih, Cuma dari cewek-cewek lo, baru kali ini lo milih cewek jilbaban kayak gitu”, celetuk Mita yang masih dipeluk Roman
     “Iya, gua perasaan pernah denger kata-kata; ngapain sih cewek pake jilbab segala? Bkin mereka nggak bisa dibedain aja” sambung Eko, sahabatku dari kelas satu SMA.
     “Hooh, kalo gitu lo nelen omongan sendiri” tuding Roman.
     Tiba-tiba mereka jadi heboh sendiri ngerumpiin orang yang ada di depan mata. Ga ada kerjaan amat!
     “Bukannya sentiment, tapi gua nggak ngerti apa yang lo lihat dari cewek pake jilbab gitu? Udah nggak bisa diajak jalan kemana-mana, pacaran ga mau jalan bareng, dipegang tangannya aja nggak bisa. Apa sih yang lo cari?” sekarang giliran Om Mateus paman Mita ambil bagian.
     Ngakunya sih dia lulusan kepastoran di Bandung, istilah pentul putih berjalan untuk jilbaber juga berasal dari dia. Aku sendiri pernah sering menyebut istilah seperti itu sebelum mengenal Seli.
     Diserang dari berbagai jurusan, aku hanya mengangkat bahu, mulai menghisap ganja yang sudah selesai aku linting. Berlagak cuek sambil menikmati goyangan Sita yang bertambah hot. Melihat aku yang tidak menjawab sepatah kata pun, Mita memprovokasi.
     “Iya mendingan lo jadian sama Sita. Udah cakep, seksi, baik, kaya, apalagi sih yang kurang?”
     Mendengar ucapan Mita, aku Kembali melirik SIta. Cewek itu sekarang nge-dance sama seorang laki-laki separuh baya. Kulihat matanya liar melahap habis tubuh Sita.
     Huuu, salah sendiri. Ngapain coba pake baju seadanya, kayak bugil aja!
     Sita goyang terus makin hot. Aku merinding sesaat. Sebut aku egois, apa kuno. Tapi walau aku suka gonta-ganti pacar, cewek yang cuek aja diraba-raba cowok umur lima empat puluhan gitu…?
     Hiii, bukan tipeku, deh! Cakep kek, seksi kek, bodo…!
     “Whooooi, lo belum jawab!” desak Eko kayaknya makin penasaran.
     “Udah, ah! Gua males ngebahas ginian!” kataku sambil merebahkan diri di sofa.
     Kepalaku mulai terasa ringan karena pengaruh ganja yang sudah habis kuhisap. Pas anak-anak Kembali ke kegiatannya masing-masing, dan aku sendiri menikmati perasaan melayang. Sita berjalan ke arahku dan menarik tanganku.
     “Turun, yuk…” ajaknya genit
     “Ngng…”
     “Aaah, ayolah! Sok jual mahal segala!” ajakannya makin kuat
     “Tapi…”
     “Anak-anak udah pada ke mana tuh!” Sita kayaknya sudah teller.
     Kulirik sekilas arlojiku. Pukul tiga pagi. Kepalaku makin nge-fly. Gak tahu lagi mo apa, mo ke mana….Aneh!
     Tiba-tiba aku seperti ngeliat bayangan itu!
     “He, hei…Mo ke mana lo?”
  “Pulaaang!”

***

Suatu malam di pertigaan Depok. Berenam, aku dan teman-temanku sedang membentuk lingkaran di depan rumah saudaraku yang kebetulan letaknya sangat strategis. Di sinilah kami biasa nogkrong. Geng kami dikenal dengan sebutan Zaper.
     Di tengah lingkaran kami, bertebaran berbagai macam bungkus rokok, mulai dari Super, Filter, Samsu. Terakhir, bungkusan tanpa merek yang baru kami beli dari Bandar yang berdomisili di jalan Merdeka Depok II.
     Catur mengambil sebatang rokok Super yang diletakkan di tengah kami. Sementara aku sedang memainkan salah satu lagu Slank dengan gitarku. Suara sember Gepeng dan Boting malah membuat permainan gitarku, hasil les gitar klasik Yamaha menjadi terdengar tidak keruan.
     “Tadi gua liat pilokan kita yang di pasar Agung, dicoret sama anak-anak Bolero”, cetus Catur tiba-tiba.
     Bagai jengkerik terinjak, kami langsung terdiam. Pencoretan pilokan nama itu adalah hal yang penting bagi anak-anak nongkrong seperti kami. Artinya, pelanggaran batas kekuasaan, penantangan langsung. Ini juga berarti, bentuk pelanggaran harga diri preman!
     “Udah gua bilang dari dulu mendingan kita serang aja anak-anak Bolero sialan itu!” lanjut Catur setelah berhasil menarik perhatian kami.
     Sekarang semuanya menatapku. Entah karena kemampuan taekwondo-ku yang sudah sabuk merah, atau keberanianku kalau sedang tawuran. Aku sering dianggap pemimpin, sehingga hamper semua keputusan mengenai kapan dan siapa yang harus kami serang sampai ‘mau ngapain kita malam ini’, berada di tanganku.
     “Ngng…”
     Aku menatap Catur. Dia sebenarnya pemimpin Geng ini sebelum aku datang ikutan nongkrong.
     “Ya, terserah. Kalo mau nyerang juga boleh aja”, kataku santai sambil terus menatap Catur.
     “Oke, gua juga lagi nggak ada kerjaan sekarang. Pacar gua lagi pergi ke rumah encangnya!” jawab Catur sama santainya.
     Aku melayangkan pandangan ke semua wajah yang kini menatap kami berdua. Beberapa diantara mereka terlihat memandang dengan mata merah karena mabok. Tapi, seperti biasanya, mereka setuju saja dengan keputusan kami berdua.
     “Gondel, lo panggil anak-anak yang laen, deh. Bilang kita mau perang male mini!” perintahku ke di Gondel
“Oceee….Bosss!” sahutnya semangat banget.

***

Satu jam kemudian aku sudah berdiri di depan dingdong di Pasar Agung. Sasaran sudah ditetapkan Andre, pemimpin Bolero. Anak itu sedang asyik bermain salah satu dingdong. Aku berjalan dengan tenang ke arahnya. Salah seorang pemuda sepertinya curiga, memandangiku sejak aku muncul.
     Aku terus mendekati Andre ketika pemuda yang mencurigaiku berteriak mengalahkan hingar-bingarnya mesin dingdong di ruangan ini.
     “Whoo……anak-anaaaaak! Ada si Haekal dari Zaper!”
     Beberapa pemuda serentak bangun dari tempat duduk dingdong termasuk Andre. Tapi terlambat, aku sudah keburu memukul perut Andre yang baru saja berdiri. Kemudian dilanjutkan dengan pukulan keras di dagunya. Sontak kepala Andre tersentak ke belakang dan…..crasssss!
     Aku mencolokkan rokok di tanganku ke….matanya!
     Maunya begitu, tahu tuh kenyataannya. Heheheh!
     Beberapa pemuda langsung melompat ke arahku sambil mengeluarkan pisau dari balik baju mereka. Sebelum mereka sampai aku langsung berbalik dan lari keluar, sempat kutendang perut Andre sampai jatuh terguling.
     Lima pemuda mengejarku dengan pisau di tangan mereka sambil berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka. Dalam waktu singkat aku yang sendirian sudah dikejar puluhan pemuda bersenjata!
     Aku terus berlari sepanjang jalan Baru. Jangan remehkan kemampuan lariku. Meeen! Aku pernah mengejar sebuah Miniarta yang sedang ngebut dalam sebuah tawuran dan berhasil menyusulnya!
     Kali ini aku sengaja tidak berlari sekuat tenaga agar para pengejarku tidak kehilangan jejak. Di sebuah gang kecil, aku berbelok dan terus berlari. Para pengejarku pun ikut memasuki gang kecil itu sambil terus berteriak-teriak.
     “Whoooooooi! Berhenti…..bangsat!”
     “Kejar teruuuuuus!”
     Sialaan, rutukku dalam hati. Emang gw copet apa? Pake diteriaki segala! Huuu, awaas, rasakan nantiiiii!
     Beberapa waktu, aku masih berlari sampai merasa cukup. Tiba-tiba aku berhenti mendadak di ujung gang sempit dan berbalik, menghadapi mereka!
     “Uffffffssss!”
     Kelihatannya mereka kaget melihat perubahan gerakanku.
     Sreeet…mereka ikutan berhenti!
     Untuk beberapa saat, tak ada yang bergerak di antara kami. Sampai para pengejarku melihatku yang tidak bersenjata dan sendirian.
     “Kiiiiiaaaa…..!”
     Mereka serempak menyerangku!
             Karena terbatas ruang sempit gang, hanya dua orang yang dapat menyerangku secara bersamaan. Hal yang mudah bagiku untuk langsung merobohkan mereka. Tanpa mereka sadari, di belakang sudah ada Catur dan Gondel. Keduanya langsung memukul kepala salah seorang pengejarku dengan tongkat.
             “Buuuk!
             “Aaaaaaaaaarghhhh…!” jeritnya kesakitan
            Mendengar erang kesakitan itu, kini perhatian para pengejarku terbagi. Kelihatannya anak-anak itu terkesan dengan kemampuanku bela diri. Dua orang sekaligus kurobohkan.
     “Ini belum semuanyaaa!” dengusku
             “Yeeeeaaaaaa……!”
            Diiringi teriakan keras, puluhan temanku muncul dari balik tembok di samping gang. Mereka sambil memukulkan kayu-kayu panjang. Beberapa bahkan melemparkan batu-batu sebesar kepalan tangan dari atas tembok.
Sekarang giliran para pengejarku yang panic. Gengku yang bersenjatakan kau panjang dan batu. Jelas nggak bakalan bisa mereka jamaah, soalnya berada di atas tembok. Lima lagi bawa tongkat besi. Aku sendiri masih bertangan kosong, yeah…yeaaah!
Tahu sendiri taekwondo ku canggih…Meen!
“Aaaah….” Anak-anak itu nyadar sudah terperangkap.
Aku hanya tersenyum sinis melihat tampang panic mereka.
“Sekarang kalian bakal ngerasain gimana rasanya kalo nantangin anak-anak Zaper!” teriakku
Aku keluarkan dobelstik yang kusembunyikan di balik baju, mulai menyerang mereka membabi buta.
“Yeaaaaaaa….!”
Teriakanku merupakan isyarat bagi semua anggota Zaper. Mereka menyerang secara bersamaan. 
Hanya terdengar jeritan kesakitan lawan


***


Akibat tawuran semalam, sekarang aku terlambat sekolah. Aku sendiri hanya luka memar sedikit. Begitu pula teman-temanku. Anak Bolero pasti banyak yang terluka parah dan pingsan. Aku dan anak-anak Zaper berhasil kabur, ketika sirini polisi seperti biasanya selalu telat mulai terdengar.
Jadi secara keseluruhan, aku menganggap bahwa anak Zaper telah menang mutlak! Begitu pula anggapan teman-temanku. Kami kemudian berpesta merayakan kemenangan semalam. Begitulah, aku selalu berhasil membuat gengku menang tawuran tanpa luka-luka berarti dengan taktik-taktik perangku. Sebetulnya aku baca dari Art of War-nya Sun Tzu.
Oya, aku suka menyebut diriku sebagai preman-intelek. Preman dengan kemampuan juara umum di SMA Negeri terpandang di kotaku! Dan hal itu pulalah yang menjadi salah satu alas an, betapa mereka menghormatiku. Penghormatan yang menjadi salah satu alasanku terus bergaul dengan mereka.
Nah, itu masalah kemarin-kemarin!
Sekarang aku menghadapi masalah yang lain yang, yah sebenarnya tidak begitu gawat sih. Puluhan anak sudah berjongkok di depan gerbang sekolah, pertanda pintu gerbang sudah ditutup. Aku melirik sekilas jam tanganku. Pukul 07.55 batas masuk sekolahku adalah jam 07.15
Jadi memang aku sangat telat kali ini. Biasanya sih aku langsung bolos kalau terlambat begini. Keperhatikan tak ada koncoku di antara anak-anak yang terlambat, dan aku malas tiduran lagi di rumah. Jadi aku memutuskan untuk terus berjalan memasuki gerbang depan.
“Kal, pintunya sudah ditutup. Percuma elo ke sana!” teriak anak kelas 3-1
Aku terus berjalan tanpa memedulikan teriakannya, jarak antara pintu gerbang depan dengan pintu gerbang utama cukup jauh, sehingga aku sempat merapikan bajuku yang seperti biasanya, tidak pernah disetrika. Ketika aku sampai di depan gerbang utama, anak-anak tadi sudah tidak terlihat lagi. Beruntung guru yang sedang piket jaga sekarang adalah guru Merilyn, guru BP.
“Bu, bukain gerbangnya dong”, kataku memohon
Ibu Merilyn berjalan ke arahku sambil mengomel, “Sudah ketua MPK, sering terlambat lagi. Kamu ini gimana bisa ngasih contoh sama teman-teman kamu?”
“Ya saya kan nggak sengaja terlambat, bu. Tuhan aja maafin kalo dosa dilakukan nggak sengaja” jawabku sambil memasang tampang memelas.
Bu Merilyn masih berdiri di dekat pagar besi, tanpa ada tanda-tanda mau membukakan pintu untukku.
“Kamu itu kan rumahnya deket banget. Kok bisa terlambat, sih?” omel Bu Merilyn lagi dari balik pagar sekolah
“Iya deh bu, maaf. Saya agak sakit malam tadi. Jadi kurang bisa tidur lebih dini”, jurus terakhir.
Teorinya untuk menghadapi guru sekolah, tunjukkan penyesalan dan alas an. Dari pengalamanku, selalu berhasil.
Ibu Merilyn melihat sebentar ke gerbang depan. Tidak ada anak-anak yang kelihatan. Lalu dia mengeluarkan kunci pintu gerbang dari saku bajunya dan membukakan pintu gerbang untukku….Yeeeeess!
“Ya sudah masuk. Jangan masuk pelajaran pertama, yah. Dan jangan sampai ketahuan teman-teman kamu bahwa kamu terlambat. Bilang sakit, kek. Apa kek…” ujarnya wanti-wanti ketika aku memasuki pintu gerbang sambil tersenyum penuh kemenangan
“Bereeessss….makasih ya Bu Guru sayang. Ibu memang paling baaaaeeeek deh sejagat!”
“Huuss, sudah sana cepaaat!” usirnya tersipu-sipu
Aku selalu menjadi murid favorit ibu Merilyn. Entah mengapa. Tapi pernah dia bilang, aku anak yang unik, perpaduan antara kenakalan dengan kecerdasan. Langka kan makhluk kayak aku ini, ya? Kayaknya aku dijadikan bahan penelitian sebagai guru BP”, kali tuh. Heheheh
Ups! Sebetulnya perlakuan istimewa kayak begini bukan hanya dari Ibu Merilyn kok. Malah sebagian besar guruku…sayaaaang banget sama aku!
Aku sudah akan berjalan ke ruang UKS, ketika melihat TAntri, murid wanita bertampang manis yang sedang tugas GDN (Gerakan Disiplin Nasional) di ruang dekat pintu gerbang. Saatnya beraksi!
Sambil terus memasang senyumku yang paling manis, aku berjalan mendekatinya. Belum apa-apa dia sudah tersenyum malu sambil menunduk.
“Eh, eh….nih anak! Bukannya langsung ke UKS malah ngelaba dulu, ya!”
Ups…Bu Merilyn kok cepet amat gerakannya sih?
“Saya nunggu di sini aja deh, Bu. Boleh ya bu. Boleeeh, pliiisss? Enak ditemenin cewek cantik, sih” jawabku sekenanya.
Tantri masih menunduk sambil tersenyum sipu-sipu. Sementara Bu Merylin Kembali ke ruang piket, semoga ga keterusan ngomelnya.
“Hai, kamu Tantri kan? Kok saya baru tahu ada anak secantik kamu di sini? Boleh minta nomer telepon rumah kamu, nggak? Saya bakal senang sekali mengenal kamu lebih jauh”, ucapku sambil menopangkan tangan ke meja di hadapan Tantri. Wajah kami dekat sekali.
Kali ini Tantri tersenyum sambil memandangku senang. Tak berapa lama, aku sudah petentengan dengan nomer telepon yang tercoret di tangan kananku.
Aku masih tersenyum senang ketika melewati kelas Seli, pacar baruku yang menghebohkan itu. Dia hanya menunduk ketika aku melambai ke arahnya.
“Huuuu….!” Sorak anak-anak
Kulihat sekilas pandangan tidak bersahabat dari para jilbaber di kelasnya.
Ya, well beberapa berita mengenai aku memang tidak dapat dikatakan baik semua. Emang sih, juara umum dua tahun berturut-turut, Ketua MPK, atlet taekwondo, pimpinan beberapa ekskul. Ini membuat citraku lebih baik dari semua cowok yang kukenal.
Sayangnya kabar-kabari tentang diriku ada juga minusnya. Tukang nongkrong di pertigaanlah, tukang boloslah, perokoklah, tukang gonta-ganti pacar….Bikin citraku minus!
Jadi aku sebenarnya sudah biasa saja melihat pandangan seperti teman-teman Seli itu. Aku hanya berlalu sambil cengengesan. Memangnya siapa mereka? Huuu, emang gua pikirin?






0 komentar:

Poskan Komentar