.quickedit{ display:none; }

Sabtu, 11 Juni 2011

Nikah Dini Kereeeen#1--Haekal Siregar/BAB III

BAB III


Hari kelulusan!
   Aku sebenarnya kurang begitu peduli dengan hari ini. Dengan segala gejolak yang kurasakan, maju ke depan dan menerima penghargaan sebagai peraih NEM tertinggi dari kelompok IPA adalah hal terakhir yang kupikirkan.
   Ketika Seli meneleponku dan mengingatkan aku tentang acara kelulusan itu, aku lumayan kaget juga. Untungnya kemarin-kemarin aku sudah sering berlatih band dengan Yongki en his geng. Jadi rencanaku untuk menjadikan upacara kelulusan ini sebagai acara yang tak terlupakan bakal kesampaian.
   Dengan tergesa-gesa, aku mencari pakaian ayahku. Baju-bajuku yang selama ini dikondisikan untuk acara nongkrong tentu saja tidak  tidak cocok untuk acara resmi seperti ini. Ayahku meminjamkan celana katun, kemeja, jas safar, beserta dasinya sekalian!
   Tambah lagi, aku juga meminjam sepatu kulit ayahku. Dengan meringis, harus kuakui bahwa aku termasuk remaja tidak bermodal juga! Kalau tidak karena aku harus maju untuk menerima penghargaan NEM tertinggi IPA, aku tidak akan pernah mau memakai baju tidak nyaman ini.
   Oh ya, Seli juga akan maju untuk menerima penghargaan NEM tertinggi bagi anak cewek IPA!
   "Keren kan!" ucapku dalam hati
   "Pasangan penerima NEM tertinggi! Aku menyebutnya sebagai pasangan Super!" kataku lagi geer dalam hati
   Sayanganya ketika upacara puncak pelepasan, tidak seperti tahun-tahun lalu, kali ini pasangan NEM tertinggi dicampur antara IPA dan IPS. Sehingga aku yang kalah tinggi NEM-nya dengan Erlangga, peraih NEM tertinggi putra dari IPS, terpaksa merelakan kekasihku dipasangkan dengannya saat upacara. itu
   Uuuh, seharusnya kan aku tuh!
   Sesampainya di pintu gerbang, sambil menunggu kedatangan Seli, aku meminta bantuan salah satu dari anak cewek kelas satu yang sedang berkerumun di warung depan sekolah. Dengan senang hati, dia memenuhi permintaanku. Dan dengan gaya kenesnya memakaikan dasi ke bajuku. Ketika tangannya mengalungi leherku, aku sih tersenyum senang saja menghirup wangi tubuhnya.
   Nah, ketika itulah Seli datang. Aku melambaikan tangan kepadanya sambil tersenyum. Upss...! Dia malah melengos pergi tanpa membalas senyumku sama sekali. Tentu saja aku bingung. Apa salahku? Kenapa pujaanku tega-teganya nyuekin aku?
   Ketika sedang bingung itulah, Ira tersenyum sambil terus merapikan dasiku. Saat itulah aku baru sadar. Wajahku dengan wajah Ira memang sangat dekat. Tidak sampai sejengkal jaraknya. Walaupun dengan pergaulanku selama ini, hal itu dianggap biasa saja. Segera kusadari mungkin bagi Seli hal ini adalah hal yang menyakitkan!
   Setelah beres pemasangan dasiku, aku mengucapkan terima kasih sambil langsung memasuki lingkungan sekolah untuk mencari Seli. Lapangan parkir sekolah sudah dipenuhi kendaraan pribadi, orang-orang tua murid saling berseliweran, dan para lulusan sedang sibuk berfoto-foto dengan teman-teman mereka sangat menyulitkanku untuk menemukan Seli.
   Yongki lah orang pertama yang kutemui. Ia langsung mengajakku latihan dulu di belakang sekolah untuk persiapan manggung kami nanti. Ya, mau nggak mau aku memilih mengikutinya. Seli nanti gampang dicarilah.
   Setelah upacara pelulusan, sekolah kami langsung mengadakan acara festival band. Grup bandku tentu saja termasuk yang maju saat itu. Dengan penuh kegembiraan dan kebanggaan, aku maju ke atas panggung dan langsung mengambil gitar listrik yang ada disana. Betapa tidak! Aku merasa pada saat terakhir inilah, aku lengkap sebagai siswa SMA!
   NEM tertinggi, pacar cantik, jago gitar, anak band, atlit taekwondo, apa lagi? Dengan penuh semangat aku mulai memainkan gitarku sambil melirik ke arah ibuku yang tersenyum melihatku. Aku balas tersenyum sambil mencari sosok Seli. Namun, betapa kecewanya aku ketika tidak mendapatinya di antara tempat duduk penonton yang telah disiapkan di depan panggung!
   Sejenak senyumku menghilang.
   Ya, well, kalau pacarku tidak mau mendengarkan permainanku, paling tidak masih banyak wanita lain yang mau! Dan aku mulai melancarkan senyumanku yang sempat menghilang ke kerumunan cewek yang sedang berjoget di depan panggung mengikuti irama musik kami. Beberapa di antara mereka terlihat membalas senyumku.
   Dan aku bertambah bangga!


* * *


   Seperti biasa, lapangan parkir di Puncak Pass penuh dengan muda-mudi yang ingin menikmati suasana diskotik gratis di sini. Yongki sedang berputar-putar dengan gaya dance keren di atas karpet yang kami bawa, dan gelar di salah satu sudut parkir. Dia punya kelebihan dalam musik dan dance. Sesuatu yang sebenarnya ingin kumiliki juga untuk melengkapi sederet kelebihanku.
   Mobil-mobil berjejer di sekitar kami. Beberapa di antaranya adalah mobil-mobil mewah yang harganya pasti tiga kali lipat harga rumahku. Beberapa kelompok malah membawa lampu diskotik sendiri. Sehingga suasana benar-benar panas sekali. Dipenuhi deruman mobil, warna-warni lampu disko, dan lagu-lagu yang saling bercampur membentuk harmoni acak-acakan dari sound system masing-masing mobil.
   Belum lagi udara yang dipenuhi asap knalpot, asap rokok, wangi parfum, asap ganja, dan berbagai bau lainnya. Aku sendiri hanya berdiri sendiri bersender ke mobil Mita. Sementara beberapa kelompok terlihat bergabung dengan kelompok kami dan mengagumi gerakan dance Yongki.
   Ketika perhatian semua orang sedang tertuju ke gerakan-gerakan Yongki yang keren itu, tiba-tiba aku teringat kejadian siang tadi di rumah Seli. Baru saja aku hendak memanggil Eko buat curhat, Sita datang dengan baju seksi dan senyum menggodanya.
   "Dance, yuk", ajak Sita sambil menarik tanganku.
   Tiba-tiba aku mendapatkan pikiran aneh. Sudah beberapa lama Sita seperi mencoba menarik perhatianku. Plus konfirmasi-informasi dari Mita bahwa Sita sebenarnya menyukai kecerdasan dan sikap ceriaku.
   "Bandingkan dengan Seli", bisik sebuah suara di kepalaku.
   "Seli nggak kalah cantik dibandingkan Sita. Dia cuma terlihat lebih menarik karena baju seksinya saja", bisik suara lain.
   "Tapi sama Sita, lo bisa melakukan hal-hal yang disebut orang sebagai pacaran. Plus lo udah akrab sama keluarganya. Bapaknya sering berbagi rokok dengan lo, ibunya pernah nge-dance sama lo, kakaknya beli ganja bareng sama lo. Apa lagi?" ngotot juga suara di kepalaku ini.
   Membayangkan kepanasan duduk di luar rumah Seli, gaya pacaran kami yang kuno, pengawasan adik-adiknya, tiba-tiba berkelebat di mataku. Dan aku tersenyum sambil mengikuti tarikan tangan Sita ke tengah karpet dance. Yongki sudah terkapar kelelahan di samping pacarnya yang mengelap keringatnya dengan penuh kasih sayang.   
   Aku mulai dance. Boleh juga gerakanku tidak sebagus Yongki. Tapi aku dibarengi cewek cantik dan seksi yang mungkin saja akan menjadi pacarku sebentar lagi.
   
* * *


   Hari UMPTN!
   Aku hanya
   Malam terakhir persiapan UMPTN, dan aku masih belajar sampai pukul tiga pagi. Dengan grogi aku memikirkan bahwa beberapa jam lagi dari sekarang, aku sudah akan menghadapi kertas ujian. Ada dorongan yang sangat kuat untuk membaca lagi buku-buku yang kini berserakan di lantai kamarku. Sekedar untuk menentramkan hatiku yang begitu grogi ini.
   Namun, tiba-tiba aku sadari bahwa akan lebih baik istirahat daripada meneruskan belajarku. Daripada nanti pas ujian aku malah ngantuk,coba?
   Pukul lima pagi, aku sudah berada di dalam taksi yang semalam sudah dipesan menuju rumah Seli. Karena kami dan sebagian besar siswa di sekolahku mendaftar secara kolektif di Bu Merylin, otomatis banyak di antara kami yang ujian di tempat yang sama.
   Aku sedang membalik-balik buku panduan UMPTN untuk menghapalkan kode jurusan pilihanku nanti. AKu sendiri seperti biasanya menyerahkan keputusan untuk mendaftar di jurusan mana kepada ibuku. Jadi, sebenarnya aku sendiri tidak begitu tahu apa sih yang dituliskan oleh ibuku waktu itu?
   Apalagi aku mengumpulkan formulir pendaftaran tepat sepulu menit sebelum Ibu Merylin pergi untuk menyerahkan kumpulan formulir. Itupun karena Seli meneleponku untuk mengingatkan bahwa hari itu adalah hari terakhir penyerahan formulir pendaftaran UMPTN!
   Kalau tdak, entah bagaimana nasibku sekarang.
   Setelah menjemput Seli di rumahnya, aku tertidur di bangku belakang karena kelelahan. Semua barang-barangku kutitipkan kepada Seli. Entah berapa lama aku tertidur, sampai Seli membangunkanku untuk memberi tahu bahwa kami telah sampai.
   Dengan mata yang masih berat dan kuap di mulut, aku turun dengan malas mengikuti Seli ke dalam kompleks lokasi ujian. Karena memperhitungkan kemacetan di pagi hari, kami datang sangat terlalu cepat! Terlihat dari masih kosongnya lokasi ujian. Sepertinya kami adalah siswa yang datang paling pertama!
   "Ngopi dulu yuk, Sel", ajakku ke Seli
   "Di mana?"
   "Tadi di depan aku lihat ada warung. Mungkin di sana jual kopi", kataku lagi setengah ngelindur.
   kami mendatangi warung yang terletak pas di depan pintu gerbang kompleks sekolah itu. Seperti pikiranku warung itu menjual kopi lengkap dengan rokoknya! Dengan gembira aku memesan kopi hitam beserta Gudang Garam Filter setengah bungkus.
   Seli sudah tahu bahwa aku seorang perokok, lagian siapa yang tidak tahu? Walaupun pernah dengan nada bercanda dia bilang, "Kalau dari pertama ketemu aku sudah tahu kamu perokok, nggak bakalan pernah aku menerima kamu".
   Waktu mendengar itu, aku hanya tertawa dan membalas. "ya, itu taktikku, Mana mungkin aku memperlihatkan keburukan pada kesan pertama?"
   Walaupun sebenarnya waktu aku pertama kali bertemu Seli, diperjalanan menuju lokasi lomba cerdas cermat, aku tidak merokok karena tidak punya uang. Bukannya sengaja mencoba menarik perhatian Seli. Apalagi waktu itu aku masih agak-agak 'anti' dengan wanita berjilbab.
   Kami menunggu dimulainya ujian di warung itu. Tidak terasa sudah pukul 06.30 pagi. Tampak Mita dan kawan-kawanku yang lainnya datang dengan mobil mereka.
   Setelah membayar minuman dan makanan yang kami makan, sambil mengajak Seli, aku berjalan menghampiri mereka. Terus terang, baru pertama kali ini aku memperkenalkan Seli kepada teman-temanku. walaupun mereka satu sekolah, namun karena dunia mereka jauh berbeda, teman-temanku sepertinya baru pertama kali ini bertemu dengan Seli.
   Seli pun sepertinya agak canggung ketika pertama kali bertemu Mita. Setelah beberapa lama bercakap-cakap dengan mereka. Seli pamit kepadaku untuk bergabung dengan teman-temannya sesama jilbaber.
   "So, sepertinya teman baru kita agak nggak nyaman ngobrol sama kita-kita", ucapk Mita ketika Seli baru pergi.
   "Ya, mau gmana lagi. Rohiiiss! Mereka kan cuma mau gaul sama sesamanya", sambung Anggun yang walaupun namanya itu adalah seorang lelaki!
   "Sori, deh. Tapi gue juga ngobrol bareng mereka yang jilbaber itu...Gak nyaman!" jawabku sambil memandang ke arah Seli.
   Tampak dia sedang mengobrol dengan teman-temannya sambil tertawa renyah. Oh, berbeda sekali sikapnya dengan saat ngobrol bersama teman-temanku.
   Hari terakhir ujian, aku pulang bersama Seli ke rumahnya. Orang tua Seli masih malas menemuiku. Aku sudah mulai terbiasa menghadapinya. Hanya sesaat di rumah Seli, aku pamitan dan langsung pergi ke rumah MIta. Mereka sudah bersiap-siap hendak pergi.
   "Mau kemana, nih?" tanyaku
   "Maen, yuk? Kita ngerayain kelulusan kita dan ulang tahun Mita pergi ke Anyer. Mau ikut, nggak?" jawab Roman yang masih sibuk memasukkan barang-barang ke dalam mobil

0 komentar:

Poskan Komentar