.quickedit{ display:none; }

Sabtu, 11 Juni 2011

Nikah Dini Kereeeen#1--Haekal Siregar/BAB II

BAB II
Sabtu sore untuk pertama kalinya setelah kami sebulan resmi “deketan” aku akhirnya diperbolehkan mengantar Seli ke rumahnya. Kami duduk dengan canggung di dalam angkot 04 menuju daerah Beji. Depok.
Sesekali aku memandangi wajah Seli yang selalu menunduk. Kecantikan dalam kesederhanaan. Dengan sedikit sekali riasan di wajahnya. Seli sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang aku kenal. Tak ada merahnya lipstick, coklatnya pemulas pipi, hitamnya eyeshadow atau warna warni lainnya. Hanya putih berseri alami.
Seli pasti merasa juga lagi kuperhatikan
“Kenapa? Grogi,yah?”
“Tergantung, grogi karena pertama kali ke rumahmu atau grogi karena sedang bersamamu”, jawabku menggoda.
Walaupun katanya “pacara” kami jarang sekali bertemu. Tidak ada acara pulang sekolah bersama, nonton bioskop, apalagi pergi ke diskotik bareng. Hubungan kami sampai saat ini hanya sebatas obrolan-obrolan menyenangkan via telepon. Tidak lebih dari itu. Sangat berbeda dengan gaya pacaranku sebelumnya. Aku sendiri merasa harus menyesuaikan diri lebih banyak dengan keadaan ini.
Menghadapi pertanyaanku, Seli sekilas terlihat tersipu-sipu.
“Seperti yang pernah aku ceritakan, aku belum pernah pacaran sebelumnya. Baru kali ini ada cowok yang datang kerumahku. Aku belum bisa membayangkan tanggapan kedua orang tuaku nanti” ucapnya serius
Satu hal lagi yang harus kubiasakan! Jarang sekali aku memakai istilah ‘aku-kamu’ dalam percakapan. Sangat canggung!
Sebenarnya aku tidak pernah merasa grogi kalau datang ke rumah pacar-pacarku yang dulu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Entah bagaimana, aku memiliki kelebihan dalam menarik simpati dari ‘calon-calon mertua’-ku dulu. Cukup pertahankan sikap sopan (terkadang sedikit menjilat), tanggapi semua obrolan mereka (tak peduli sudah berapa bosan dirimu), selipkan beberapa cerita tentang kelebihan dirimu dan kamu sudah mendapatkan kepercayaan dari semua orang tua gadis mana pun yang senang melihat kesopanan dan kelebihan pemuda pilihan anaknya.
“Tadi siapa nama bapak kamu?” tanyaku
Dari pengalaman, setiap berkunjung ke rumah seorang gadis, bapak gadis itu selalu akan menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi.
“Engkos. Engkos Ahmad Kosasih”, jawab Seli santai
Lagi-lagi nama yang agak asing ditelingaku.
“Coba cek lagi, bapak kamu S2 Teknik Mesin dan menjadi dosen di Universitas Indonesia. Benar, kan?” ucapku lagi sambil mencodongkan badan lebih ke depan.
Seli hanya mengangguk sambil tersenyum dan menarik diri lebih jauh dariku. Lagi-lagi hal yang perlu dibiasakan!
Tak dapat berdekat-dekatan dengan pacarku adalah sebuah tantangan yang perlu kulalui.
“Bapak kamu orang Tasik. Jadi ada kemungkinan kenal dengan ibuku?” tanyaku
Ibuku. Pipiet Senja, adalah seorang pengarang. Walaupun saat itu ia tidak begitu aktif lagi. Tapi dia sering mengisi rubric cerpen di majalah Mangle, majalah satu-satunya berbahasa sunda. Seharusnya banyak orang sunda yang mengenalnya
Seli Kembali mengangguk. Kemudian aku terus menyebutkan fakta-fakta mengenai keluarganya. Mereka masih mengontrak rumah. Jumlah anak yang banyak. Lima orang, membuat penghasilan ayahnya sebagai seorang dosen masih kurang memadai.
Namun tetap saja aku merasa kaget melihat rumahnya ketika kami sampai. Rumah yang dihuni tuhu orang itu, tidak lebih besar dari kontrakan yang dimiliki oleh ayahku. Dengan struktur yang sama juga, pintu kecil berdempet dengan rumah lain di sebelahnya. Aku selalu menanamkan untuk tidak menganggap kekayaan yang diperoleh ayahku sebagai kekayaan milikku.
Hal yang membuatku dapat bergaul dengan siapa saja mulai dari tukang becak sampai anggota DPR. Namun untuk sesaat, walaupun tidak pernah kuucapkan pada Seli, aku merasa keluargaku kaya sekali. Sesuatu yang sangat jarang kurasakan mengingat standar kekayaan teman-teman sekolahku.
Setelah mengucapkan salam, Seli masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan kedatanganku. Sementara aku sendiri duduk di sebuah kursi kawat di pekarangan selebar setengah meter di halaman depan rumah. Sempat kuedarkan pandangan melihat-lihat keadaan rumah.
Pekarangan yang sempit ini terasa lebih sempit lagi karena sebagian tanahnya digunakan untuk kebun. Setangkai kembang sepatu terlihat mekar menghiasi kebun kecil itu. Beberapa tanaman merambat dan rumput hias juga terlihat memenuhi kebun kecil namun terawat itu.
Tak berapa lama, Seli Kembali keluar sambil membawa sebotol air dengan gelasnya.
“Sebelah sana ada rumah bu Tati”, katanya sambil meletakkan botol di meja kawat kecil di sampingku.
Aku memandang sekilas kea rah rumah yang ditunjukkan oleh Seli. Bu Tati guru di sekolah kami walaupun belum pernah mengajarku.
Bersama Seli, terlihat agak malu, berdiri seorang anak lelaki berusia kira-kira Sembilan tahun
“Imam namamu ya, kan?” ucapku berusaha terlihat ramah sambil mengulurkan tangan.
Anak laki-laki itu hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun
“Ayo, salam”, kata Seli kepada adiknya.
Imam menyalami kemudian mencium tanganku tanpa berkata apapun. Tak lama, adiknya Ihsan menyusul. Aku sempat kagum dengan ketampanan anak itu. Walaupun baru berusia tujuh tahun, tapi sosoknya memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk tumbuh menjadi pemuda tampan. Pasti ketampanannya bisa mengalahkan artis sinetron.
Aku Kembali menyapanya dengan sikap ramah. Ihsan juga hanya mengangguk kemudia mencium tanganku. Tak lama, kedua anak tadi sudah mulai bermain congklak tanpa memedulikan kami.
“Ortu lagi pergi, ya?” tanyaku kepada Seli yang sendang duduk di kursi bersebrangan denganku.
Untuk sesaat Seli terlihat ragu untuk menjawab.
Kemudian. “Ada, di dalam”, jawabnya sedikit malu.
“Apa aku mesti ke dalam?” tanyaku lagi dengan suara yang direndahkan.
“Adik-adikku lagi nonton TV di ruang tengah. Mereka baru pulang dari sekolah. Jadi agak malas kalau disuruh pakai jilbab”, jawab Seli yang terdengar seperti sebuah alas an bagiku.
Aku hanya mengangkat bahu lalu mulai minum air di gelas.
Kami mengobrol sampai pukul lima sore. Sepanjang waktu itu pula Imam dan Ihsan terus bermain congklak di samping kami. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Seli masuk sebentar ke dalam rumah sambil membawa botol dan gelas yang sekarang sudah kosong.
Lamat terdengar suara Seli yang memohonkan pamit bagiku. Namun aku tak mendengar jawaban dari orang tua Seli. Setelah Seli keluar, kami berjalan tanpa kata ke arah jalan raya. Aku sendiri masih bingung dengan keadaan ini. Biasanya orang tua mantan pacarku langsung menemuiku, dan menanyakan berbagai macam kepadaku. Bukannya mendiamkanku di teras dengan anak-anak berumur 6 dan 9 tahun sebagai pengawasku.
Mereka juga ikut bersama kami ke arah jalan raya. Kedua anak itu tidak pernah menjawab apapun yang kutanyakan. Dengan perasaan kecewa dan nyaris putus asa, aku tidak pernah mengajak mereka ngobrol lagi.
Hhhh...ada apa ini?!

* * *

Aku memutuskan untuk minum jus dulu di warung pinggir jalan raya, sekedar untuk menenangkan pikiranku yang penuh tanda Tanya.
                “Ada apa, yah?” akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutku.
                Imam dan Ihsan sedang sibuk dengan minuman yang kubelikan dan berhasil membuat mereka mengucapkan terima kasih dengan wajah yang lucu sekali. Hhhhh….Sesungguhnya aku selalu ingin punya adik laki-laki.
                Seli terdiam sesaat. Kemudian ia berkata “Maaf, sepertinya ayahku agak shock melihat aku mulai membawa cowok ke rumah. Hal yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya”.
                Aku terdiam. Aku memang tahu bahwa para jilbaber tidak pernah mengenal istilah pacaran. Kamus mereka penuh dengan istilah-istilah Arab yang sebenarnya akupun mengerti semuanya. Gaya hidupku tak pernah berhasil melupakan ajaran-ajaran agaran yang diterapkan dengan keras oleh orang tuaku sejak kecil. Tapi aku tak pernah membayangkan bahwa suatu saat aku akan mendapat hambatan karena konsep itu.
                “Apa ini berarti bahwa aku tidak boleh ke rumahmu lagi?” tanyaku lagi.
                Seli hanya mengangkat bahu kemudian terdiam lagi.
                Kami terdiam untuk beberapa saat. Pikiranku sibuk dengan peringatan-peringatan teman-temanku tentang ribetnya berhubungan dengan jilbaber. Sementara Seli entahlah, aku tak tahu.
                Aku akhirnya mengambil napas panjang kemudian memutuskan untuk pulang saja. Tak ada lagi yang dapat kami bicarakan. Benak kami terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.
                “Ya, aku pulang dulu. Nanti malam aku telepon deh”, ucapku sambil tersenyum dan mengambil tas yang tergeletak di samping kaki kiriku.
                Seli hanya membalas dengan senyum lemah tanpa mengucapkan apapun. Aku mengangkat bahu seakan tak peduli kemudian pergi. Sekilas, kulihat ada Kristal bening menggantung di sudut-sudut mata Seli.

* * *

Aku berjalan gontai menuju rumah Mita. Hamper tiap hari, anak-anak selalu nongkrong di sana. Begitu pula hari sabtu ini. Kami memiliki ‘kebiasaan’ untuk pergi ke puncak Pass, setiap malam minggu. Di sana kami biasa mebaut bersama muda-mudi nge-dance sampai pagi.
                Rupanya tampang kusutku terlihat di wajahku. Sampai-sampai kata pertama yang diucapkan Eko ketika melihatku adalah “Ada apa, Kal? Bukannya elo baru nganterin Seli ke rumahnya? Kok tampang lo malah kusut begitu sih?”
                Aku menarik napas panjang dan langsung mengambil tempat duduk di samping Eko. Ia adalah sahabatku sejak kelas satu SMA. Bersama Farabi, kami bertiga malah sempat ikut-ikutan mengankat sumpah menjadi saudara di mushola sekolah. Cuma bedanya, kami kurang memiliki nyali untuk menyatukan darah seperti pada salah satu film Jet Lee yang malamnya baru saja kami tonton.
                Eko hanya memandangku dengan penuh tanya. Suasana rumah MIta sepi sekali. Sepertinya baru Eko yang datang. Sepeda motornya terparkir di pekarangan di samping bangku rotan yang sekarang sedang kududuki. Sesekali terdengar suara burung beo dari sangkar yang tergantung di langit-langit. Semilir angin yang menghantar udara panas, tidak sedikit pun mengurangi suasana gerah udara sekitar kami.
                “Yang lain pada ke mana Ko?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Eko sambil meletakkan tasku di meja di hadapan kami.
                “Yee…ditanya malah balik nanya? Nggak sopan tau!” seru Eko sambil pura-pura marah.
                “Iya…iya…ntar gua jawab. Tapi kalo gua udah yakin gak ada yang dengerin kita. Makanya jawab pertanyaan gua dulu, dong” jawabku sedikit mendesak.
                “Mita, katanya ada acara ke gereja. So, dia sama keluarganya lagi ke gereja sekarang”, jawab Eko sambil mengambil kacang yang berserakan di meja. Dari bekas kulitnya kelihatannya dia rajin juga makan kacang.
                “Roman juga ikut. Terus yang lain sedang cari makanan ke Plaza Depok. Jadi gua lagi kebagian jatah ronda, nih”, lanjut Eko sambil mengunyah kacang dan memainkan gitar, dua hal yang sah-sah saja dilakukan bersamaan.
                Perkataan Eko membuatku agak ngeri. “Roman? Ngapain dia ikutan ke gereja?”
                Roman adalah pacar Mita. Dia adalah seorang muslim, paling tidak KTPnya masih menuliskan kata islam di baris agama. Walaupun aku tidak pernah melihat dia sholat. Dia juga jarang mau kalo diajak sholat jumat barng. Tapi ikutan acara gereja? Paa-apaan nih?
                “Nggak tau, tuh”, Eko melanjutkan tapi dengan suara yang lebih mirip bisikan. “Denge-denger katanya Roman lagi mikir-mikir buatpindah agama ke Krisen. Gua gak nyngka dia serius banget sama Mita. Lo tau, nggak? Waktu MIta nganter Roman ke rumahnya, mereka kan pake mobil Mita. Nah, waktu ibu Roman ngeliat salib besar ngegantung di bawah kaca spion mobil Mita, katanya sih dia langsung ngediemin Mita selama di rumahnya…”
                “Trus, katanya lagi. Roman habis-habisan dimarahin ortunya, waktu MIta udah pulang. Nah, sekarng gua pernah ngobrol bareng si Roman tentang hal itu. Dia ngambil kesimpulan, bahwa seandainya orang tuanya ngelarang dia berhubungan dama MItakarena perbedaan agama, trus apa salahnya kalo sekalian dia aja pindah agama?”
                Eko berhenti sebentar untuk mengambil napas. Aku sempat melongo kagum mlihat dia bisa menceitakan gossip tadi dalam satu napas.   Jeda itu kupergunakan untuk mengajukan pertanyaan lagi. “Kenapa nggak si Mita aja yang pindah agama? Lagian kan kita baru kelas tiga SMA. Hubungan MIta sama Romagn juga masih taraf pacaran, kan? Ngapain udah ributin maslah agama segala, sih? Kesannya mereka udah pasti mau kawin aja” sekarang giliran aku yang kehabisan napas kebanyakan ngomong.
                Gantian si Eko yang memanfaatkan jeda itu untuk menjawab.
                “Yaah…Gua juga nggak ngerti sih. Tapi kata si Roman, ortunya khawatir aja ngeliat hubungan MIta sama Roman yang menurut gua juga, agak terlalu jauh. Lo tau sendiri kan? Si Roman dari seminggu paling berapa hari sih pulang ke rumahnya? Paling satu atau dua hari aja, kan? Nah, selebihnya dia malah suka tidur sekamar sama MIta. Walaupun kata mereka nggak terjadi apa-apa, tapi kalo bakal terjadi apa-apa, gimana? Kayaknya ortu Roman ngekhawatirin masalah itu, deh…”
                Habis lagi deh napas si Eko. Jadi sekarang dia sibuk mengambil napas buat melanjutkan ceritanya. Tapi sebelum dia ngomong apa-apa, mobil Mita masuk ke pekarangan rumah. Kami langsung diam.
                “Hei, guys. Lo berdua abis ngapain ngos-ngosan gitu?” sapa Mita begitu keluar dari mobil yang diikuti oleh segerombolan anggota keluarga lain.
                Aku sih kagum-kagum saja melihat pakaian mereka. Kenapa, ya, orang Kristen kalau pergi ke gereja selalu berpakaian sedemikian rapinya? Beda sekali dengan pemandangan ketika aku sedang sholat jumat. Apa itu menunjukkan perbedaan tingkat kesejahteraan kita?
                “Ah, nggak. Gua lagi maen lama-lamaan tahan napas aja sama Eko” jawabku ngasal.
                Mita percaya saja, sih. Kami memang sering melakukan hal-hal aneh berdua. Jadi adu tahan napas sih bukan hal besar. Paling nggak, kami pernah main adu cepat memanjat atap rumah si Mita ketika sedang tidak ada kerjaan.
                Mita mengangkat bahu dan masuk ke dalam rumah bersama keluarganya.
                “Gua mandi dulu, yah. Gerah banget nih. Jadi kan ke PUncak?”
                “YA iyalah. Ngapain coba kalo nggak ke Puncak? Bengong di sini?” jawab si Eko
                Aku masih diam. Pikiranku ditambah lagi sekarang. Tentang Roman yang pindah agama dalam umur semuda itu, merupakan bayangan hitam yang mengabutkan otakku. Kejadian di rumah Seli sih belum ada apa-apanya dibandingkan hal ini. Walaupun aku tidak berani menyebut satu pun pemuda yang sering berkumpul di rumah Mita ini, yang kebanyakan adalah muslim, sebagai muslim yang baik, tapi aku tidak rela juga kalau ada yang pindah agama seperti ini.
                Apalagi alasannya terlalu sepele. Hanya karena seorang gadis? Hah!
                Roman duduk di sampingku sambil langsung mengambil gitar di hadapannya. Aku masih menatap dia dengan pikiran-pikiranku ketika dia mulai memainkan gitarnya. Permainan gitar si Roman tidak begitu bagus, sih. Dan sekarang dia sendang mencoba memainkan lagu White Lion yang berjudul Till Death Do Us Part dengan nada yang salah.
                Aku kepingin mengajaknya bicara mengenai perpindahan agamanya itu. Tapi aku paling tidak tahan mendengar lagu favoritku dimainkan sejelek itu. Jadi alih-alih mengajak bicara Roman. Aku lebih memilih merebut gitar dari tangannya dan mulain memainkannya. Kali ini dengan nada yang benar.


1 komentar:

Dewa Ruci mengatakan...

info donk, di mana bs beli novelny?

Poskan Komentar