.quickedit{ display:none; }

Selasa, 07 Juni 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W--Bab XX

JAKARTA 1988

BAB XX

“MENGAPA memilih hidup sendiri?” Tanya Pak Hans sabar. Suaranya menyiratkan kekecewaan. Tapi dia masih tetap Pak Hans Walian, S.H., dosennya yang sabar dan lembut. Tidak ada kekesalan, apalagi kemarahan, dalam hidupnya.
   “Saya ingin membaktikan hidup saya untuk membela kaum saya yang teraniyaya, Pak”, sahut Farida sambil menyembunyikan kesedihannya.
   “Itu memang angan-anganmu sejak masih menjadi mahasiswi, kan?”
   “Sekarang saatnya saya merealisasikan angan-angan saya, Pak”.
   “Tidak berarti kamu harus hidup sendiri. Jika ada seseorang yang mendampingimu, menyokongmu, mendorong semangatmu, mungkin kamu akan menjadi lebih kuat”.
   “Justru perhatian Bapak kepada saya yang membuat saya memperoleh kepercayaan diri yang lebih besar. Jika seseorang yang begitu sempurna seperti  Bapak tidak memandang saya dengan hina, apa lagi yang bias membuat saya merasa rendah diri?”
  “Kalau begitu mengapa menolak saya?” Tanya Pak Hans lembut. “Kita punya minat yang sama. Pekerjaan di bidang yang sama. Memiliki pandangan yang sama pula. Kita bisa menjadi tim yang hebat. Di rumah maupun di pengadilan”.
   “Saya khawatir akan menelantarkan salah satu di antaranya. Seorang wanita tidak mungkin berada di dua dunia dengan sama adilnya. Kalau saya memilih menjadi istri bapak, saya akan mengundurkan diri dari pekerjaan saya. Karena saya yakin tidak dapat lagi mencurahkan waktu saya sepenuhnya untuk klien saya”.
   “Dan kamu memilih yang kedua”, gumam Pak Hans perlahan.
   “Maafkan saya, Pak”, desah Farida lirih.
   Kalau saja Bapak tahu, sebentar lagi nama saya akan terpampang di surat kabar. Bukan hanya sebagai penuntut umum yang menggugat seorang guru yang berbuat mesum pada anak didiknya. Tapi sebagai  anak yang menuntut ayah kandungnya sendiri karena telah menghamili ibunya. Ibu yang melahirkannya di WC sekolah dan bunuh diri!
   Betapa hinanya keluarga saya! Dan saya tidak mau menyeret Bapak ke lembah kehinaan itu. Karena saya sangat mencintai Bapak!

* * *

“Kok masih murung juga?” tegur Sultan ketika melihat Farida tengah melamun di kamar kerjanya. “Kemenanganmu sudah di depan mata, Ida!”
   Farida tersenyum pahit.
   “Jika kak Sultan menggugat ayah kandung sendiri, membantu menjebloskannya ke penjara, kakak tidak merasa risi?”
   “Itu resiko pekerjaan. Di luar sudah menanti wartawan, organisasi wanita, korban-korban pelecehan seksual, yang antre untuk menemuimu!”
   “Jangan bercanda, kak!”
   “Supaya kamu tidak terlalu stress! Ke mana Pak Hans? Kok dia tidak muncul lagi?”
   “Saya sudah memutuskan hubungan”.
   “Betul? Saya kira kalian akan menikah bulan depan!”
   “Tidak pantas pria semulia Pak Hans ikut terseret ke lembah kenistaan keluarga saya”.
   “Keluargamu boleh hina. Tapi kamu sama mulianya dengan Pak Hans! Mungkin malah lebih! Kamu mengorbankan segalanya untuk membela kebenaran, menegakkan keadilan!”
   “Saya tidak mau menikah, kak”, desah Farida getir.
   “Mudah-mudahan bukan karena latar belakang keluargamu. Bukan pula karena pernah ditolak tunanganmu”.
   “Saya ingin mengabdikan seluruh hidup saya untuk membela kaum saya yang teraniyaya”.
   “Niat yang bagus. Tapi kenapa harus sendirian? Suatu hari, setiap orang butuh orang lain”.
   “Mungkin suatu hari nanti, kak. Kalau sudah saya temukan orang yang sederajat dengan saya”.
   “Maksudmu anak haram seperti kamu? Yang lahir di WC? Yang ibunya bunuh diri, ayahnya tukang perkosa?” Sultan tertawa geli.  “Berat amat syaratmu, Ida! Barangkali saya harus lahir sekali lagi untuk dapat memilikimu!”

* * *

Kekagetan melintas di mata Pak Sabdono ketika dia mengenali Pak Ikhsan. Dan wajahnya langsung memucat.
   Sebaliknya Pak Ikhsan tampak demikian tenang ketika melangkah ke kursi saksi. Tetapi ketika dia memperkenalkan dirinya, ada setitik air mata bergulir ke pipinya.
   Anak angkat yang dibanggakannya duduk dengan gagah di depannya. Dia begitu mantap. Begitu dewasa. Begitu percaya diri.
   Rasanya Pak Ikhsan hampir tidak percaya, hampir tiga puluh tahun yang lalu, anak ini pernah terbaring tak berdaya dalam gendongannya. Tangisnya begitu lirih. Seolah-olah memohon perlindungan. Memohon tempat berteduh. Memohon kasih saying.
   “Kalau bapak sayang pada anak saya, maukah bapak merawatnya demi saya? Jika suatu waktu dia membutuhkan pertolongan saya, saya pasti akan dating menolongnya”.
   Sekarang anakmu membutuhkanmu, Rindang, bisik Pak Ikhsan dalam hati. Datanglah untuk menolongnya!
   Dan ketika Farida berkata-kata, Pak Ikhsan seperti bukan melihat anak angkatnya lagi. Dia seperti melihat Rindang. Diakah yang dating dari alam baka untuk menggugat orang yang telah merenggut hidupnya?
   “Rindang tidak pernah mengatakan siapa yang telah menodainya”, kata Pak Ikhsan dalam kesaksiannya. “Tetapi ketika saya melihat dia mengejar-ngejar Pak Sabdono sambil menangis, saya tahu dialah bapak anak dalam kandungannya”.
   Lalu Pak Ikhsan menolah ke arah anak angkatnya. Dan airmatanya bercucuran.
   Pak Sabdono mengejang di kursinya. Dia menoleh kea rah penuntut umum yang cacat itu dengan tatapan tidak percaya.
   Pada saat yang sama, wanita buntung itu justru sedang menatapnya. Dengan tatapan yang tiba-tiba mengingatkannya pada seseorang… tatapan yang suatu waktu dulu sangat dikenalnya… dan tiba-tiba saja bulu tengkuknya meremang…
   Tiba-tiba saja peristiwa tiga puluh tahun yang lalu itu seperti film yang berputar kembali di depan matanya…
   Seorang bayi tanpa lengan lahir di WC sekolah. Bayi yang bersama ibunya dirawat di rumah Pak Ikhsan…jadi diakah bayi tanpa lengan itu? Bayi Rindang? Anak…”
   “Saya perlu uang, pak! Untuk merawat anak kita!”
   Anak kita, kata Rindang. Anak kita! Jadi inilah anak itu! Dia tidak mati. Dia hidup! Dan kini dia tengah menuntutnya. Seperti sedang mewakili ibunya…
 “Saya Cuma menuntut sebagian hak saya!”
   Tiba-tiba saja Pak Sabdono merasa lemas. Seluruh pembelaannya kandas seperti cermin di banting  ke batu. Dia bukan lagi menghadapi tuntutan manusia. Dia menghadapi gugatan orang yang sudah mati! Dia melawan dakwaan dari alam baka!
   Tak ada harapan lagi. Hari ini, semua saksi seperti datang mengurungnya. Tak ada jalan lagi untuk lolos. Dia sudah terjebak. Terperangkap dalam kubangan dosanya sendiri. Kalau waktu itu dia menerima saja hukumannya yang hanya tujuh bulan…
   Tapi kini semua sudah terlambat! Dengan ketakutan dia menoleh ke belakang. Dan matanya terbelalak cemas.
   Ada tiga orang lagi yang dikenalnya di sana. Pak Anwar. Bekas kepala sekolahnya! Dia juga datang untuk memberikan kesaksian?
   Lalu…Halimah. Mantan istrinya! Apa yang hendak diungkapkannya? Foto seorang murid yang bunuh diri dengan anaknya yang cacat?
   Dan…astaga! Siapa orang yang ketiga itu? Yang duduk dengan wajah beku dan tatapan dingin bagai es?
   Rindang? Rindang…? RINDANG! Datang jugakah dia ke sidang ini untuk memberikan kesaksian?
   Aku sudah gila! Rindang sudah mati! Dia tidak mungkin hadir di sini! Mustahil dia datang dari alam baka untuk mendakwa diriku!
   Pak Sabdono mengucek-ngucek matanya dengan panik. Keringat dingin bercucuran di wajanya.
   “AKu sudah gila”, erangnya berkali-kali. “Rindang tidak mungkin datang kemari! Dia sudah mati! Mati!”
   Sia-sia pembelanya menenangkannya. Mental Pak Sabdono sudah ambruk! Siding harus diskors sementara atas permintaan pembelanya.
   Tetapi ketika sidang dibuka kembali, Pak Sabdono tetap belum pulih dari shocknya. Dan kesaksian demi kesaksian yang memberatkannya semakin membuat posisinya terpojok.
   “Kelakuan Pak Sabdono memang mencurigakan”, ungkap Pak Anwar dalam kesaksiannya. “Dia tidak pernah menjenguk RIndang di rumah sakit ketika dia melahirkan. Dia menghilang ketika mayat Rindang ditemukan. Dan dia mendadak mengajukan permohonan mengundurkan diri”.
   “Ketika melihat foto gadis membunuh diri itu, saya sudah curiga”, Halimah memberikan kesaksiannya dengan mantap. Tanpa memandang sekilas pun kepada Pak Sabdono yang menatapnya dengan nanar. “Mengapa gadis itu mengirimkan foto dirinya dan bayinya kepada suami saya? Foto itu dikirim hanya beberapa hari sebelum mayatnya ditemukan”.
   Pak Sabdono mendadak menggigil seperti diserang malaria. Foto yang sudah dibakar habis itu terbayang lagi di depan matanya. Rindang menggendong anaknya yang cacat. Matanya menatap getir. Wajahnya mendung disaput penderitaan.
   “Suami saya mendadak mengajak pindah ke Surabaya. Di sana kami hidup tenang. Sampai suatu hari, dua bulan sesudah saya melahirkan anak bungsu saya, salah seorang muridnya datang ke rumah kami sambil menangis…”
   Halimah menolak menyebutkan identitas murid itu. Karena pengadilan juga tidak mendesaknya untuk menyebutkan namanya, Yu nisar boleh menarik napas lega.
   “Saat itu saya tidak tahan lagi. Saya minta cerai. Karena saya punya perasaan, dia melakukan perbuatan cabul itu setiap kali saya sedang melahirkan”.
   Pak Sabdono teringat kembali kepada gadis itu. Kalau tidak salah, namanya Yunisar. Dia sangat cantik. Anggun. Dari keluarga berada.
   Dia mengancam Yunisar agar tidak membeberkan rahasia mereka. Dan tampaknya, Yunisar sendiri tidak mau memberi aib pada keluarganya. Menjatuhkan martabat ayahnya.
   Tetapi dua bulan kemudian dia datang ke rumahnya sambil menangis. Dia hamil. Dan saat itu Halimah ada di rumah…
   Untung dia bisa mengusir anak itu sebelum diinterogasi Halimah. Untung dia keburu membawa anak itu untuk menggugurkan kandungannya. Untung saat itu tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mencurigainya. Kecuali istrinya. Dan untung, Halimah tetap menutup mulutnya. Menyimpan rahasianya. Mungkin demi anak-anak mereka. Sampai hari ini…
   Hari ini keadilan telah datang menjenguknya meskipun telah menghilang selama tiga puluh tahu! Dan dia tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi!

0 komentar:

Poskan Komentar