.quickedit{ display:none; }

Selasa, 07 Juni 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W--Bab XVIII

PALEMBANG 1988

BAB XVIII

“KALAU kamu harus memilih, Ida”, cetus Pak Ikhsan muram. “Antara memenangkan perkara ini tapi kehilangan nama baikmu, atau melepaskannya saja, yang mana yang kamu pilih?”
   “Saya akan memenangkan keadilan”, jawab Farida mantap tapi heran. “Kenapa bapak tanya begitu?”
   “Kamu tidak menyesal?”
   “Menyesal apa, pak?”
   “Kalau tahu siapa dia sebenarnya?”
   “Dia siapa, pak?”
   “Sabdono”.
  “Sabdono Lesmono?” Farida mengerutkan dahi. “Untuk mengetahui siapa dia sebenarnya saya berjuang ke sana kemari mencari kebenaran”.
   “Kamu tidak mengerti”, keluh Pak Ikhsan berat.
   “Mengerti apa? Apa yang tidak saya mengerti? Bapak punya rahasia apa?”
   “Rahasia yang menyangkut masa lalumu”.
   “Ceritakanlah, pak”, pinta Farida sungguh-sungguh. “Jangan ada yang dirahasiakan lagi”.
   “Sebenarnya bapak tidak ingin menceritakannya”.
   “Kenapa, Pak?”
   “Karena akan melukai hatimu”.
   “Apa hubungannya dengan saya?” Hati Farida berdebar tidak enak.
   Pak Ikhsan diam sesaat sebelum menjawab dengan suara lirih.
   “Kamulah bayi yang lahir di WC itu, Ida”.


* * *

Lama Farida tercenung seperti tiba-tiba disihir jadi batu. Terbayang di hadapannya lelaki yang duduk di kursi terdakwa itu.
Sabdono Lesmono!
   Diakah ayahnya? Lelaki durjana yang menghamili ibunya. Memerkosa Linda Ramelan. Bahkan mungkin juga menodai Yunisar?
   Duh, kalau boleh memilih, lebih baik Farida tidak punya ayah!
   Tetapi…sejahat-jahatnya lelaki itu…bukankah dia tetap ayah biologisnya? Lelaki itu yang telah mewariskan benihnya sehingga dia dapat berujud manusia!
   Sampai hatikah dia menuntut ayahnya sendiri, menjebloskannya ke penjara?
   Farida memang telah terlanjur menuntutnya. Karena perjuangannyalah ayahnya dijatuhi hukuman tujuh bulan penjara.
   Tetapi jika dia tidak menyerahkan bukti-bukti yang diperolehnya, jika dia tidak minta Pak Anwar dan Yunisar bersaksi, jika dia sendiri tidak mau diperiksa darah dan DNA mungkin ayahnya dapat bebas!
   Dia tidak mendendam sekalipun mengkin karena ulah ayahnya dia harus kehilangan kedua belah tangannya…
   Tetapi berapa banyak lagi Linda Ramelan yang akan menjadi korban? Berapa banyak lagi Rindang yang akan bunuh diri? Berapa banyak lagi Farida yang akan lahir cacat?
   Di mana tanggung jawab moralnya sebagai penuntut keadilan jika orang sebejat itu dibiarkan bebas hanya karena dia adalah ayahnya?
   Ibunya sendiri telah menjadi korban. Korban seseorang yang seharusnya dihormati sebagai pengganti orangtua. Ibu pasti sangat menderita. Ibu terpaksa melahirkan di WC. Dan akhirnya nekat bunuh diri. Dari lubang kuburnyalah Ibu sekarang mendakwa ayah!
   “Bapak dan ibu sangat mencintaimu, Ida”, meleleh air mata Pak Ikhsan ketika mengucapkan kata-kata itu. “Kami tidak ingin membuka rahasia ini. Tidak mau kamu terluka karena mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya. Tapi kalau hari ini Bapak tidak berterus terang, bapak khawatir kamu nanti menyesal…”
   “Bapak ingin memberimu kesempatan sekali lagi untuk berpikir dan memilih Ida”, sambung ibunya sedih. “Jika kamu tahu dia ayahmu, kamu mungkin akan melepas perkara ini”.
   “Saya tetap akan mengejarnya”, sahut Farida getir. “Apapun taruhannya. Berapa pun yang saya harus bayar. Karena malaikat keadilan harus dibangunkan. Berapa lama pun dia telah tertidur”.
   Lalu Farida berlutut di hadapan ayah-ibu angkatnya. Dan mencium tangan mereka.

* * *

“Kaulah bayi yang lahir di WC itu, Ida”.
   Semalaman Farida tidak dapat memicingkan matanya. Kata-kata ayahnya terus-menerus terngiang di telinganya.
   Dia anak haram. Lahir di WC. Cacat. Dan sekarang ada satu tambahan lagi. Dari ayah biologis yang punya kelainan. Senang menggauli anak didiknya sendiri. Lengkap!
   Aib apa lagi yang belum disandangnya? Semua hal buruk dan dijauhi orang seperti berkumpul dalam dirinya. Dan perempuan seperti ini yang diinginkan Pak Hans untuk menjadi istrinya?
   Tidak, desah Farida getir. Jika aku benar-benar mencintainya, takkan kubiarkan dia kecipratan noda sehitam ini! Apa pun katanya, istri sehina diriku sedikit banyak pasti mempengaruhi martabatnya!
   Dan kalau kami punya anak nanti…anak-anak kami juga akan kecipratan aib kakek-neneknya! Kakek yang dipenjara karena menodai muridnya. Dan nenek yang bunuh diri karena punya anak haram.
   Kamu dapat menyembunyikan aibmu, Ida, kata ibu tadi. Ibu angkatnya yang ternyata sangat baik. Tidak pernah membedakan dirinya dengan adik-adiknya. Padahal merekalah anak kandung ibu! Kalau kamu tidak bersaksi, tidak seorangpun kecuali kita yang tahu dia ayahmu. Bapak bisa minta Pak Anwar merahasiakannya. Demi nama baikmu.
   Demi nama baikku. Begitu mahalkah harga nama baikku?
   Ibu angkatku mungkin ingin melindungiku. Tidak mau aku terluka. Tidak mau orang tahu sampah macam apa yang jadi ayah biologisku. Sehitam apa darah yang mengalir di tubuhku.
   Tetapi aku punya seorang ibu lain. Ibu kandungku. Ibu yang tersiksa seorang diri. Menanggung beban yang seharusnya mereka tanggung berdua.
   Karena kejahatan ayah, ibu menderita. Sampai terpaksa bunuh diri.
   Sekarang saatnya aku menuntut keadilan. Bukan membalas dendam. Tetapi menghukum yang bersalah. Biarpun orang itu ayah kandungku sendiri. Biarpun dengan menuntutnya aku mencorengkan arang di keningku sendiri.
   Ketika Farida bangkit dari tempat tidurnya subuh itu, tekadnya sudah bulat. Dia tetap akan menggugat ayah kandungnya. Membayar lunas utang ibunya. Berapa pun yang harus dibayarnya.
   Setiap kali keraguan menjalar di hatinya, dia membayangkan wajah Linda Ramelan. Tidak boleh ada korban lagi dalam sisa hidup ayahnya. Farida- lah yang harus menghentikannya.
   “Saya akan ke Jakarta, pak”, ketanya ketika sedang sarapan berdua dengan ayah angkatnya.
   “Kamu sudah mengambil keputusan?” tanya Pak Ikhsan hati-hati.
   “Tekad saya sudah bulat, Pak. Kapan bapak dan pak Anwar bisa ke Jakarta?”
   “Sebagai saksi?”
   “Bapak tidak keberatan, kan?”
   Pak Ikhsan menggeleng sambil menghela napas. Wajahnya mengerut seperti menahan sakit.
   “Maaf kalau saya terpaksa menyakiti hati bapak”, kata Farida lembut. “Saya tahu bapak enggan mengingat saat itu lagi”.
   “Karena bapak tidak tega menyakitimu, Ida”, keluh Pak Ikhsan lirih. “Saat-saat kelahiranmu sangat tragis. Barangkali bapak tidak dapat menahan air mata kalau harus menceritakannya lagi di depan pengadilan”.
   “Demi keadilan, kadang-kadang kita harus berkorban, Pak”.
   “Kenapa tidak kamu biarkan bapak datang menemui Pak Sabdono?”
   “Untuk apa? Memaksanya mengaku?”
   “DEmi melindungi nama baikmu”/
   “Percuma, pak. Tanpa bukti, cia tidak mungkin mau mengakui perbuatannya”.











0 komentar:

Poskan Komentar