.quickedit{ display:none; }

Selasa, 07 Juni 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W--Bab XIX

SURABAYA 1988

BAB XIX

FARIDA  tidak langsung ke Jakarta. Dia mampir dulu ke Surabaya. Dan orang pertama yang ditemuinya adalah Halimah, bekas istri Sabdono.
   Keengganan Halimah menemui Farida langsung buyar ketika Farida mendahului bicara.
   “Saya datang bukan untuk mendesak ibu mengatakan alas an perceraian ibu”, katanya mantap. “Karena sekarang saya sudah tahu. Sebenarnya sudah lama ibu tahu perbuatan mantan suami ibu terhadap muridnya yang bernama Rindang. Ibu juga tahu mengapa Pak Sabdono mendadak mengajak pindah dari Medan. Karena mayat muridnya yang bunuh diri itu sudah ditemukan. Dan Pak Sabdono khawatir namanya dilibatkan”.
   Halimah tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Tetapi air mukanya menyiratkan kepahitan. Dan Farida tahu, dugaannya benar.
   “Saya tidak tahu bagaimana ibu mengetahuinya. Apakah Rindang mengirim surat kepada Pak Sabdono sebelum bunuh diri?”
   Halimah mengangguk
   “Dia mengirim surat dan foto”. Suaranya terdengar lirih.
   “Foto dirinya?”
   “Dengan anaknya yang cacat”.
   “Jadi ketika Pak Sabdono mengulangi perbuatannya di Surabaya, ibu tidak tahan lagi”.
   “GAdis itu sangat cantik”, desah Halimah seperti menahan sakit. “Masih sangat muda. Dia datang ke rumah kami. Suami saya mengusirnya”.
   “Namanya Yunisar”, sambung Farida mantap.
   Halimah menatap Farida dengan takjub
   “Dari mana…” Lalu tiba-tiba matanya membeliak kaget. Tatapannya berpindah ke bahu Farida seolah-olah baru pertama kali dia sadar, perempuan ini bunting! Dia tidak memiliki tangan sama sekali…sama seperti bayi dalam foto yang dikirim Rindang!
   “Ibu benar”, tukas Farida datar. Wajahnya tanpa ekspresi. “Sayalah bayi dalam foto itu”.
   “Ya Tuhan” desis Halimah dengan paras pucat pasi. Bibirnya bergetar hebat.
   “Tapi saya datang bukan untuk menuntut balas kematian ibu saya”, sambung Farida tegas. “Saya datang untuk melindungi gadis-gadis tak berdosa yang akan menjadi korban berikutnya, jika Pak Sabdono tetap menjadi guru”.
   Lama Halimah terdiam sebelum perlahan-lahan dia membuka mulutnya lagi.
   “Saya harus berbuat apa?”

***

Yunisar marah sekali ketika Farida muncul lagi di rumahnya. Lebih-lebih ketika dilihatnya dia tidak datang seorang diri. Dia datang dengan seorang perempuan separo baya.
   “SAya sudah bilang, tidak ingin melihat wajah Anda lagi”, sergahnya dingin.
   “Ada yang ingin bertemu dengan Ibu”, sahut Farida sama dinginnya. “Ibu Halimah, mantan istri Pak Sabdono”.
   Mata yang congkak itu mendadak berubah terkejut. Secepat kilat dia menoleh kepada perempuan yang tadi tidak dipandangnya dengan sebelah mata sekalipun.
   “Ibu…?” desahnya tergagap. Parasnya langsung memucat.
   “Halimah”, sahut perempuan tua itu tenang. “Lima belas tahun yang lalu, Ibu Yunisar pernah datang ke rumah saya”.
   “Ibu!” sekarang mata yang congkak itu berubah penuh permohonan. Kasihanilah saya, pinta mata itu jika bisa bicara. Tolong jangan permalukan saya.
   “Mula-mula saya juga tidak mau bersaksi”, tukas Halimah datar. “Demi anak-anak kami, saya berusaha menutupi kejahatan bekas suami saya”
   “Ibu!” sergah Yunisar tertahan. Jangan! Jangan! Saya mohon…
   “Belasan tahun rahasia itu saya simpan baik-baik. Ketika ibu datang ke rumah kami, saya tahu dia melakukannya lagi. Karena itu saya minta cerai. Saya sudah tidak tahan lagi”.
   “Ibu Farida”, sekarang Yunisar menoleh kepadanya. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. “Anda seorang penegak hokum. Yang penting bagi Anda hanyalah mencari kebenaran. Tidak peduli sekalipun kebenaran itu melukai hati orang lain…”
   Kamu pikir hanya hatimu yang terluka? Hanya nama baikmu yang bakal ternoda?
   “Tapi saya cua manusia biasa! Seorang istri! Jika suami saya sampai duduk di kursi saksi, nama baik suami saya pasti hancur!”
   “Ibu tidak memikirkan hancurnya masa depan seorang gadis seperti Linda Ramelan? Dan masih banyak lagi Linda-Linda Ramelan berikutnya jika dia tetap bercokol sebagai guru!”
   “Saya sudah lama memikirkannya”, sela Halimah dingin. “Rasanya kita punya tanggung jawab untuk menghentikan perbuatannya. Dia sudah keterlaluan!”
   “SAya benar-benar menghadapi dilemma”, keluh Yunisar bingung. “Nurani saya tidak rela kalau orang seperti dia dibiarkan bebas berkeliaran mencari mangsa. Tapi dipihak lain, saya tida tega kalau suami saya mendapat malu! Jika Ibu Farida jadi saya, pasti ibu juga tidak berani bersaksi!”
   “Ibu keliru”, sahut Farida tawar “Jika taruhannya nama baik saya sekalipun, saya akan bersaksi”.
   “Anda berkata begitu karena bukan Anda yang harus bersaksi!”
   “Ibu keliru lagi. Karena jika dibutuhkan, saya juga akan memberikan kesaksian”.
   “Kesaksian apa?”
   “Tiga puluh tahun yang lalu, seorang siswi melahirkan di WC sekolah tempat Pak Sabdono mengajar. Siswi itu bunuh diri tanpa mengatakan siapa ayah anak itu…”
   Yunisar menggigil sedikit. Halimah menggigit bibir menahan perasaannya.
   “Tapi anak itu masih hidup sampai sekarang. Dan orang yang mengenal mereka mengatakan, mereka mirip satu sama lain. Jika perlu, pengadilan akan membuktikan hubungan mereka dengan meminta pertolongan medis”.
   “Di mana anak itu sekarang?” sergah Yunisar lirih. “Dia mau bersaksi?”
   “Dia tegak di depan ibu”, sahut Faria dramatis sekali. “Dan saya akan memberikan kesaksian. Biarpun dia ayah saya”.
   Yunisar terbelalak kaget. Dan dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

* * *

Yunisar memang tidak bersedia memberikan kesaksian di depan meja hijau. Dia merintih. Memohon. Mengiba-iba agar rahasianya tidak di bongkar. Demi nama baik suaminya. Demi keutuhan perkawinannya.
   Tetapi dia mau menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi hari itu. Lima belas tahun yang lalu.
   Pak Sabdono menggaulinya di rumahnya ketika istrinya sedang melahirkan. Dan dia menyuruh Yunisar minu obat sebelum digauli. Obat yang dicampur dalam minumannya.
   Jadi itu sebabnya tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh Linda Ramelan. Dia mungkin juga dibius lebih dulu.
   “Kamu tidak mungkin hamil”, kata Pak Sabdono pada setiap korbannya.
   Dan pada kedua peristiwa terakhir itu, kedua korbannya memang tidak hamil. Mungkin sekarang Pak Sabdono sudah memakai pengaman. Atau…Yunisar menggugurkan kandungannya?
   Dia menolak menjawab ketika Farida bertanya apakah dia melakukan aborsi. Dan sampai sekarang dia belum punya anak. Jadi tidak mungkin dia punya anak dari Pak Sabdono. Anak yang hidup. Anak yang cacat…
   Memang. Tidak ada lagi Farida-Farida lain. Tapi berapa banyak lagi Yunisar dan Linda Ramelan yang bakal jadi korban?
   “Saya punya perasaan dia melakukan perbuatan cabul itu setiap kali saya sedang melahirkan”.
   Itu pendapat Halimah. Kalau benar dugaannya, artinya ada tujuh kasus serupa. Karena Pak Sabdono memiliki tujuh orang anak. Dua dari istri pertama. Lima dari istri kedua.
   Dan kalau itu benar, artinya ada empat orang gadis yang telah menjadi korbannya!
   Empat orang gadis yang kini entah berada di mana. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib mereka.
   Membunuh diri seperti ibunya. Menikah baik-baik dan berusaha melupakan masa lalunua seperti Yunisar. Dilanda depresi berat dan kehilangan masa depannya seperti Linda. Atau…? Tidak ada yang tahu. Karena mereka menutup rahasia mereka baik-baik.
   Seandainya aku bisa menemukan mereka dan membujuk mereka untuk bersaksi! Tapi…maukah mereka? Kebanyakan memilih tutup mulut demi harga diri dan nama baik. Bersaksi berarti member malu diri sendiri.
   “Kalau kamu harus memilih…” itu kata-kata ayah angkatnya. Lelaki barhati mulia yang menjunjung tinggi profesi guru. “Antara memenangkan perkara ini tapi kehilangan nama baik mu…”
    “Saya akan memenangkan keadilan”, jawab Farida saat itu. “Apapun yang harus saya korbankan”.
   Tetapi saat itu dia belum tahu, yang digugatnya ayah kandungnya sendiri! Dia belum tahu, memenangkan keadilan berarti mengorbankan nama baiknya. Memberi malu dirinya sendiri karena latar belakang keluarganya yang hitam kelam!
   “Saya tetap akan menuntutnya”, kata Farida tegas ketika Halimah bertanya apakah dia akan meneruskan tuntuttannya. “Supaya dia dihukum labih berat dan dipecat sebagai guru. Karena tokoh pendidik seperti dia sangat berbahaya”.
   “walaupun ibu tahu dia ayah kandung, ibu?” desak Yunisar dalam nada tidak percaya. “Walaupun ibu akan diberi malu oleh kesaksian ibu sendiri?”
   “Saya akan mengejar keadilan. Apa pun yang harus saya korbankan”.
   “saya bersedia memberikan kesaksian jika dibutuhkan”, sela Halimah datar. “Dulu saya memikirkan anak-anak saya. Bagaimana perasaan mereka jika tahu orang seperti apa yang jadi ayah mereka. Tapi kalau ibu Farida saja rela bersaksi, mengapa saya tidak?”
   “Terima kasih, bu”, tukas Farida tegar. “Saya mengerti perasaan anak-anak ibu karena saya sendiri merasakannya. Mungkin suatu hari kami bisa bertemu dan bicara dari hati ke hati sebagai saudara”.
   “Dan terima kasih karena mau menjaga rahasia saya”, sela Yunisar lirih. “Jika ada yang dapat saya bantu. Saya bisa minta suami saya…”
   “Tidak perlu”, potong Farida tegas. “Hukumlah yang akan mengadili yang bersalah. Bukan kekuasaan”. 

0 komentar:

Poskan Komentar