.quickedit{ display:none; }

Jumat, 29 April 2011

Dakwaan Dalam Alam Baka--Mira W Bab III

BAB III

Pak Ikhsan cuma seorang guru SMA. Lelaki berpenampilan sederhana berumur tiga puluh lima tahun yang ditugasi mengajar bahasa Indonesia. Dia cuma lulusan sekolah pendidikan guru. Bukan lulusan fakultas. Tidak punya gelar sarjana.
   Tetapi dia seorang guru yang baik. Sikapnya tegas. Disiplinnya tinggi. Tidak pernah memanjakan muried. Tetapi tidak termasuk guru yang galak. Dan selalu siap mendengarkan keluhan murid-muridnya.
Cara mengajarnya enak. Sistematis. Tapi tidak membosankan. Jadi biarpun dia tidak menarik secara fisik, murid-muridnya menyukainya. Karena dibalik penampilannya yang sederhana, mereka menemukan sepotong hati yang yang bersih dan tulus.
    Pak Ikhsan  jarang datang terlambat. Tidak pernah membolos untuk alasan apapun. Dan tidak pernah terlihat hubungan mencurigakan dengan murid wanitanya, kendati istrinya sudah meninggal enam tahun yang lalu.
   Setelah menduda, Pak Ikhsan tinggal seorang diri, karena dia tidak dikaruni aanak. Tidak seorangpun menyangkal, Pak Ikhsan sering tampak kesepian. Rekan-rekannya malah menganggap dia sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan untuk mengusir kesepiannya. Tidak heran kalau dia terkenal sebagai guru yang rajin disekolahnya.
  Pak Ikhsan tidak pernah memanjakan Rindang. Tidak pernah menganakemaskannya. Tetapi ketika Rindang tertimpa musibah, dialah guru yang paling menaruh perhatian.
   Ketika melihat Rindang mengejar-ngejar Pak Sabdono, sebuah perasaan aneh menyelinap ke hatinya. Dan perasaan itu tidak mau mengaku mengapa dia justru mengejar-ngejar Pak Sabdono. Bukan guru yang lain.
   Pak Ikhsan tahu bagaimana dekatnya hubungan anak didiknya yang satu ini dengan guru olah raganya. Karena itu dia heran ketika Pak Sabdono tidak pernah menengok Rindang dirumah sakit.
   Mengapa Pak Sabdono enggan menjenguk murid kesayangannya? Mengapa dia seolah-olah malah mangkir? Menjauhkandiri? Apakah....ada hubungannya dengan bayi itu? Diakah yang harus bertanggung jawab?
   "Kamu tidak usah mengatakan siapa laki-laki itu kalau kamu tidak mau mengatakannya ,Rindang?" kata Pak Ikhsan sambil menghela napas panjang ketika dia membawa Rindang kerumahnya." Bapak tidak akan memaksa. Tidak ada orang yang berhak memaksamu".
   "Ayah selalu mendesak saya untuk mengatakan siapa laki-laki itu, Pak", desah Rindang lirih.
   "Jika kamu tidak mau mengatakan siapa laki-laki itu, kamu harus siap mempertanggung jawabkan sendiri perbutanmu. Anak itu akan menjadi bebanmu. Sanggupkah kamu menanggungnya seorang diri?"
   "Saya ingin merawatnya, Pak," air mata Rindang meleleh tak tertahankan lagi. "Tapi ayah malah mengusir saya!"
   "Jangan menyalahkan ayahmu. Anak itu memang bukan tanggung jawabnya".
   "Ayah saya ingin mengenyahkan anak itu! Tapi kemana saya harus membuangnya? Seumur hidupnya saya telah berusaha melenyapkannya. Tapi dia menempel terus pada saya!"  
   "Dia anakmu, Rindang!" Dia ada karena perbuatanmu!"
   "Saya merasa berdosa padanya, Pak. Sayalah yang telah membuat dia cacat! Saya ingin menebus dosa saya dengan merawatnya. Melindunginya. Tapi saya tidak punya rumah. Tidak punya uang. Tidak punya pekerjaan."
   "Dimana sekarang bayimu?"
   "Masih dirumah sakit,Pak. Dokter melarang saya membawanya pulang sampai dia cukup kuat untuk hidup diluar inkubator".
   "Jika kamu mau, bawalah dia nanti ke rumah Bapak. Untuk sementara kamu dan anakmu dapat tinggal disini. Bapak juga punya sedikit tabungan untuk melunasi biaya perawatan anakmu".
   Rindang menatap Pak Ikhsan dengan tatapan tidak percaya. Dia seperti mendengar sesuatu yang tidak disangka-sangka. Yang tidak masuk akal!
   "Semuanya terserah kamu" sambung Pak Ikhsan sabar ketika dilihatnya Rindang hanya tertegun bengong. "Pikirkan saja dulu".
   "Bapak sudi menolong orang seperti saya!" desis Rindang bingung. "Pada saat semua orang menjauhi saya seperti sampah?"
   "Bapak cuma ingin menolongmu. Memberi kamu dan anakmu yang malang itu tempat berteduh. Tapi kamu juga harus tahu resikonya".
   "Resiko apa, Pak?"
   "Bapak seorang duda. Tidak punya anak. Tidak punya siapa-siapa. Mungkin kita bakal memancing gunjingan orang. Apa kamu tahan?"
   "Apa bapak tahan?"
   Pak Ikhsan tersenyum lugu. Dalam senyuman itu Rindang membaca ketulusan hati yang tidak ternilai. Dan dia merasa sangat terharu
   "Untuk menolong orang, kadang-kadang kita perlu berkorban", sahut Pak Ikhsan tulus. "Tuhan tahu Bapak benar-benar hanya ingin menolongmu.Kepada-Nya lah kita wajib mempertanggung jawabkan perbuatan kita di dunia".


* * *


   Ternyata gunjingan orang muncul lebih hebat dan lebih kejam dari yang mereka sangka.
   Pak Ikhsan bukan hanya digunjingkan karena menampung seorang wanita yang bukan isterinya dirumahnya. Diamalah dituduh sebagai bapak anak haram muridnya!.
   "Tadi Pak Ikhsan dipanggil Pak Anwar", kata Nindya ketika kebetulan mereka bertemu di warung dekat rumah. "Katanya dia ditanya-tanya soal kamu".
   "Pak Ikhsan tahu apa? Dia hanya ingin menolong saya semua orang sudah memalingkan muka karena menganggap saya sampah busuk!"
   "Kasihan Pak Ikhsan. Gara-gara kamu, dia jadi korban. Semua orang bertanya padanya".
   "Bertanya apa? Dia tidak tahu apa-apa! Mereka harus bertanya pada saya!"
   "Kamu kan tidak mau bilang siapa bapak anakmu! Gara-gara kamu, Pak Ikhsan jadi korban! Dia yang dituduh menghamili kamu".
   Ya, Tuhan, keluh Rindang getir. Mengapa manusia sekejam itu? Mereka tidak mau menolong sesamanya yang mendapat kesusahan. Mengapa mereka masih sampai hati mencerca orang yang dengan tulus ingin menolong?


* * *


   "Bapak ingin tahu siapa ayah anak saya?" tanya Rindang gemas ketika keesokan paginya dia muncul di sekolah dan minta izin menemui kepala sekolah.
   Dia tidak menghiraukan tatapan penuh penghinaan dan ejekan menyakitkan yang dialamatkan teman-temannya kepadanya. Rasa malunya sudah hilang. Berganti dengan rasa marah atas ketidak adilan yang menimpa Pak Ikhsan.
   Pak Anwar terkejut sekali melihat kedatangannya. Tetapi dia tidak menolak permintaan Rindang untuk bertemu. Dia memang sudah menantikan pengakuan Rindang. Ingin tahu siapa yang berani merusak nama baik sekolah mereka.
   "Kamu sudah siap mengatakannya?" tanya Pak Anwar dingin. "Mengapa baru sekarang?"
   "Karena seorang guru yang tidak bersalah telah menjadi korban", sahut Rindang kesal. "Saya ingin membersihkan nama Pak Ikhsan. Beliau tidak bersalah!"
   "Tidak perlu Rindang".
   Pak Anwar dan Rindang sama-sama menoleh ke pintu. Pak Ikhsan tegak disana. Menatap Rindang dengan tenang.
   Sekali lihat saja, Pak Ikhsan tahu, Rindang serius.Dia benar-benar akan mengatakan siapa ayah anaknya. Untuk membersihkan nama orang yang telah menolongnya.
   Pak Ikhsan juga tahu nama siapa yang akan disebut Rindang. Meskipun Rindang belum pernah mengatakannya, naluri Pak Ikhsan telah menduga siapa laki-laki itu.
   "Kamu tidak perlu menyebut nama laki-laki itu untuk membela Bapak".
   "Tapi tidak adil, Pak!" protes Rindang gemas.
   "Bapak tidak bersalah! Ketika saya dalam kesusahan, cuma Bapak yang mau menolong saya! Apa hak mereka menuduh Bapak sekejam itu?"
   "Tidak ada yang menuduh Bapak", sahut Pak Ikhsan sabar. Dia menarik sebuah kursi dan duduk disamping Rindang." Pak Anwar hanya bertanya".
   "Kenapa Bapak sudi menampung saya? Apa hubungan Bapak dengan anak gelap saya? Itu yang ditanyakan Pak Anwar, kan?"
   "Bapak ingin bicara dengan kamu" sela Pak Anwar datar
   "Kenapa baru sekarang Bapak mau bicara dengan saya?"
   "Karena kamu tidak pernah mau bicara dengan saya".
   "Buat apa saya bicara dengan orang yang menghina saya?"
   "Itu hanya perasaanmu. Karena kamu merasa bersalah".
   "Saya memang bersalah!Tapi saya tidak mau membuat kesalahan yang kedua! Saya ingin merawat anak saya. Tapi tidak ada tempat untuk kami!"
   "Rumah saya selalu terbuka untuk kalian berdua, Rindang", cetus Pak Ikhsan lembut. "Apapun pendapat orang, saya tidak akan pernah jera menolongmu".



* * *


   Dua hari kemudian, Pak Anwar memerlukan datang ke rumah Pak Ikhsan. Ketika melihat bayi tanpa lengan itu terlelap dalam gendongan ibunya, Pak Anwar tidak dapat mengusir rasa ibanya.
   "Jika kamu mau saya bersedia menampung kalian berdua dirumah saya", katanya setelah menghela napas panjang. "Istri dan anak-anak saya sudah setuju. Kamu boleh tinggal sementara waktu sampai kamu mampu hidup sendiri".
   "Tidak", bantah Rindang tegas. "Saya mau tetap tinggal disini. Disinilah pertama kalinya anak saya merasa punya tempat yang tidak menolaknya".
   Orangtua Rindang sendiri tidak mau menerima anak itu. Ayah Rindang tetap pada ancamannya. Jika Rindang bersikeras membawa anaknya pulang, dia boleh mencari tempat tinggal lain. Tidak boleh pulang ke rumah ayahnya.
   Rindang telah berlutut didepan orangtuanya sambil menggendong anaknya yang cacat. Memohon belas kasihan mereka. Tetapi rupanya martabat lebih tinggi harganya dari kasih sayang. Bahkan dari sepercik rasa iba melihat anak yang tidak diinginkan itu terlelap tak berdaya dalam gendongan ibunya
   "Saya harus pergi kemana?" tangis Rindang pilu
   Dia benar-benar sudah putus asa. Umurnya belum genap delapan belas tahun. Tidak punya keluarga. Tidak punya pekerjaan. Tidak punya tempat tinggal. Dan dia punya seorang bayi cacat. Kemana dia harus pergi?
   Sudah terlintas di benaknya untuk membawa bayinya bunuh diri. Tetapi Pak Ikhsan muncul pada saat yang tepat. Hatinya yang mulia tersentuh melihat nasib muridnya yang malang itu.
   Rindang memang bersalah. Tetapi tak adakah jalan kembali bagi seorang pendosa?
   Dan bukan cuma Rindang. Dia punya seorang bayi yang tidak berdosa. Bayi malang yang sudah ditolak sejak masih dalam kandungan ibunya.
   Pak Ikhsan membawa mereka ke rumahnya yang sempit. Rumah sederhana yang untuk pertama kalinya menawarkan pada bayi itu sebuah tempat yang disebut rumah. Dan pada saat kedamaian mulai menjamahnya, badai menerpa dari luar.
   Gunjingan demi gunjingan melanda ketenangan mereka. Pak Ikhsan dapat tidak mengacuhkan gunjingan itu. Kecuali ketika kepala sekolah memanggilnya. Sekarang bukan hanya nama baiknya yang dipertaruhkan. Sekaligus pekerjaannya.
   Pak Ikhsan menghela napas berat. Ditatapnya bayi dalam gendongan Rindang.
   Sembilan bulan mereka tinggal bersama. Selama itu, mereka telah menjadi bagian dari hidupnya.
   Tangis bayi cacat itu telah menyemarakan rumahnya yang sepi. Tawanya yang lucu mengusir kekosongan hidup Pak Ikhsan. Dia tidak merasa bosan lagi hidup sendirian dirumah
   Sekarang dia harus kehilangan mereka. Harus kembali ke dunianya yang sepi. Hanya karena dia seorang duda dan mereka bukan keluarganya!
   "Pak Anwar menawarkan yang terbaik untukmu, Rindang", kata Pak Ikhsan berat. "Jangan salah mengerti. Beliau hanya ingin menolong".
   "Tapi kami ingin tetap disini, Pak! Biarlah saya jadi pembantu, asal tetap boleh tinggal disini!"
   "Untuk tinggal disini kamu tidak perlu jadi pembantu. Bapak tidak keberatan kamu dan anakmu tetap tinggal dirumah ini. Sampai kapanpun".
   "Kalau begitu jangan usir saya, Pak!"
   "Pikirkan baik-baik tawaran saya, Rindang" potong Pak Anwar tawar. "Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali".
   Dengan agak tersinggung Pak Anwar meninggalkan rumah Pak Ikhsan. Dia menyimpan kekesalannya.Bekas muridnya itu benar-benar tidak tahu diri! Anugerah apalagi yang diharapkannya! Dia boleh tinggal dirumahnya sampai kapanpun. Bersama anak haramnya yang cacat itu. Tapi tawarannya itu ditolak mentah-mentah!
   "Kita tidak mungkin tinggal bersama, Rindang", desah Pak Ikhsan murung. "Orang baik-baik diluar sana keberatan kalau seorang duda seperti Bapak tinggal serumah dengan seorang wanita yang bukan isterinya...."
   "Apa yang dilakukan orang baik-baik itu ketika saya membutuhkan atapun untuk berteduh bersama bayi saya, Pak?"
   "Jangan sesinis itu, Rindang. Tidakbaik. Masyarakat kita memang masih kuat terikat oleh adat-istiadat. Mau tidak mau kita harus patuh kalau ingin menjadi anggota masyarakat yang baik".
   "Saya memang bukan orang baik-baik, Pak. Saya orang hina. Punya anak gelap. Kalau saya keluar dari rumah inipun, mereka tetap menganggap saya bukan perempuan baik-baik. Apa bedanya lagi bagi saya? Kemanapun saya pergi, cap itu sudah melekat pada saya. Dan semua orang tetap menghina saya".
   "Setiap orang sekali dalam hidupnya kita harus terus berbuat salah"
   "Bapak anggap kita bersalah karena tinggal serumah?"
   "Kita memang salah karena belum menikah".
   "Bapak ingin saya pergi?"
   "Kalau boleh memilih, Bapak ingin kamu dan anakmu tetap tinggal disini".
   "Bapak akan kehilangan pekerjaan kalau saya tetap disini?"
   "Pak Anwar tidak membicarakan pekerjaan".
   "Tapi Bapak tidak tahan mendengar cercaan orang, kan?"
   "Kamu tahan?"
   "Apa bedanya lagi bagi saya?"
   "Suatu hari anakmu akan menjadi besar, Rindang. Dia akan ikut merasakan hinaan itu".
   "Dia sudah merasakannya sejak masih dalam kandungan, Pak".
   "Tapi kamu tidak mau dia terus-menerus dihina, kan?"

   "Dia akan menjadi seorang gadis yang tabah. Penghinaan tidak akan menghancurkannya".
   "Tapi Bapak tidak rela dia dihina terus".
   "Bapak sayang padanya?"
   "Bapak sudah menganggapnya anak sendiri".
   "Kalau begitu, saya mohon, jangan usir kami, Pak!"
   "Bapak tidak pernah mengusir kalian. Kamu dan anakmu boleh tinggal disini sampai kapanpun. Bapak hanya ingin memberimu kesempatan untuk memilih. Jika kamu ingin bebas dari gunjingan orang, Pak Anwar sudah membuka pintu rumahnya".
   "Pernahkah seorang gadis yang hamil sebelum menikah terbebas dari gunjingan orang, Pak? Yang saya pikirkan cuma Bapak. Bapak orang yang sangat baik. Dan Bapak tidak bersalah. Bapak tidak pantas dihukum karena kesalahan saya!"



 * * *


   "Bagaimana, Pak? tanya Pak Anwar keesokan harinya. "Sudah ada keputusan?"
   "Rindang masih memikirkannya", sahut Pak Ikhsan lirih
   "Jangan terlalu lama. Nanti istri saya keburu mengubah pendiriannya. Tadi pagi dia bilang, tetangga sebelah menyebutnya bodoh karena mau membiarkan perempuan macam Rindang tinggal serumah dengan suaminya".
   Dan prasangka seperti itu pasti akan terus mengejar Rindang, kemanapun dia pergi, pikir Pak Ikhsan sedih. Kasihan dia. Berapa lama dia tahan didera kecurigaan istri Pak Anwar? Sampai kapan dia sanggup bertahan hidup dirumah mereka?
   "Saya tidak bisa memaksanya pergi, Pak". keluh Pak Ikhsan sedih
   "Pak Ikhsan harus memaksanya. Kalau perlu mengusirnya! Demi kebaikan Pak Ikhsan sendiri".
   "Saya tidak sampai hati".
   "Nama Pak Ikhsan akan rusak karena menolongnya".
   "Apa arti sebuah nama dibandingkan nyawa dua orang manusia?"
   "Dulu Pak Ikhsan berdalih menampung mereka karena tidak ada yang mau memberikan tumpangan. Sekarang sudah ada orang yang mau menolong mereka. Apalagi alasan Pak Ikhsan menahan mereka?"
   "Pak Anwar", suara Pak Ikhsan berubah dingin. "Bapak tidak mencurigai saya, kan?"
   "Saya kenal Pak Ikhsan seperti saya kenal diri saya sendiri! Tapi orang-orang diluar sana tidak!"
   "Begitu pentingkah pendapat mereka?"
   "Tidak kalau Pak Ikhsan bukan seorang guru! Seorang tokoh yang harus dihormati dan ditiru!"
   "Justru karena saya seorang guru, saya wajib menolong murid saya! Sebagai guru, kitalah pengganti orangtua mereka! Kemana lagi mereka harus minta tolong kalau bukan kepada kita, pak?"
   "Pak Ikhsan boleh menolong semua murid Bapak. Tapi bukan tinggal bersama mereka! Masyarakat akan mencela seorang guru pria yang tinggal bersama murid wanitanya!"
   "Kecuali saya mengambilnya sebagai isteri". Terlepas begitu saja kata-kata itu dari mulut Pak Ikhsan.
   "Jangan Pak!" cetus Pak Anwar kaget. "Tindakan itu malah akan tambah merusak nama Bapak! Orang- orang akan mengira Pak Ikhsan benar-benar ayah bayi itu! Siapa lagi yang mau menikahi ibu seorang bayi haram kecuali ayah bayi itu sendiri?"
   "Ya Tuhan!" Pak Ikhsan dadanya tiba-tiba terasa sakit. "Mengapa niat baik saya selalu dicurigai?"
   "Demi kebaikan Pak Ikhsan sendiri, saya keberatan dengan niat baik Bapak". Suara Pak Anwar terdengar sangat tegas dan berwibawa. "Jika Bapak bersikeras melakukannya juga, saya tidak dapat menolong bapak lagi".
   "Dan mempersilahkan saya mencari pekerjaan disekolah lain?" sambung Pak Ikhsan tawar.
   "Saya jamin tidak ada sekolah yang mau menerima guru yang menikah dengan muridnya yang punya anak gelap".
   "Kalau begitu dunia benar-benar kejam terhadap Rindang", desah Pak Ikhsan pilu
   "Dia sudah berbuat salah. Dia harus menanggung akibatnya. Menerima hukumannya".
   "Dan anaknya yang tidak bersalah itu juga harus menanggung hukuman atas dosa yang tidak pernah dilakukannya?"
   "Saya tidak ingin berdebat lagi, Pak", sahut Pak Anwar jemu. "Jika Bapak menolak tawaran saya, rasanya tidak ada kesempatan kedua untuk Rindang".


* * *


   Pak Ikhsan pulang ke rumah dalam keadaan lesu. Bukan hanya karena penat. Tapi karena pusing. Bingung.
 Mengapa sulit sekali menolong orang yang sedang berada dalam kesusahan? Mengapa niat baiknya selalu dicurigai?
   Dan kemuramannnya langsung hilang begitu melihat Rindang menyongsongnya didepan pintu. Bayi mungil dalam gendongannya tiba-tiba menyeringai lebar seperti mengenali siapa yang datang.
   "Pa...pa...pa..." Bibir mungil bayi itu berkecap-kecap lucu.
   "Hei, dia memanggil Bapak!" sorak Rindang gembira
   "Betul?" Kelesuan Pak Ikhsan langsung sirna. Matanya yang letih bersinar cemerlang. "Dia memanggil Bapak?"
   Di ambilnya anak itu dari gendongan Rindang. Dan bayi itu bukan saja tidak menolak. Dia malah seperti melonjak ke dalam rangkulan Pak Ikhsan. Bibirnya merekah. Menyunggingkan senyum lucu yang menggemaskan.
   Pak Ikhsan menyodorkan mainan yang baru saja dibelinya. Dengan gesit bayi itu menangkapnya dengan mulutnya.
   "Dia sudah mulai belajar memanfaatkan mulutnya sebagai pengganti tangan", desah Pak Ikhsan terharu
   Di ciumnya pipinya. Digendongnya anak itu sambil bersenandung. Diajaknya bercanda sambil menunggu Rindang menyiapkan makanan.
   Dia begitu menyayangi anakku. Pikir Rindang terharu. Bagaimana aku harus memisahkan mereka? Pak Ikhsan pasti sangat kehilangan. Kasihan sekali dia harus kembali ke dunianya yang sepi.
   Ketika pak ikhsan belum muncul juga di meja makan setelah makanan siap. Rindang mencarinya ke kamar. Dan dia melihat bayinya sedang terlelap dalam pelukan Pak Ikhsan yang juga sedang tertidur.
   Tak terasa menitik airmata Rindang melihat pemandangan itu. Dengan lembut disentuhnya bahu Pak Ikhsan. Digoyangkannya dengan hati-hati.
   Pak Ikhsan membuka matanya. Dan dia tersenyum ketika menyadari telah ketiduran bersama bayi Rindang.
   "Bapak pasti bukan perawat bayi yang baik", guraunya sambil meletakkan bayi itu dengan hati-hati agar tidak terjaga
   "Tapi Bapak guru yang baik", sahut Rindang menahan haru" Dan manusia paling baik yang pernah saya kenal".
   "Itu karena kamu belum banyak mengenal orang. kamu masih sangat muda".
   "Penderitaan sudah mendewasakan saya, Pak"
   "Tiap penderitaan pasti adalah hikmahnya, Dang"
   Rindang berbalik untuk menyembunyikan airmatanya
   "Mari makan, Pak. nanti makanannya keburu dingin".
   Mereka melangkah bersama-sama ke meja makan. Dan mata Pak Ikhsan terbuka lebar ketika melihat hidangan yang tersaji diatas meja.
   "Wah, hebat nian makanan hari ini, Dang", cetus Pak Ikhsan heran
  "Anggap saja sebagai hadiah perpisahan kita, Pak", sahut Rinndang menahan haru
   "Perpisahan?" belalak Pak Ikhsan bingung. Dia tidak jadi duduk didepan meja makan. Matanya mengawasi Rindang dengan cemas
   "Barangkali ini kesempatan terakhir saya dapat memasak untuk Bapak". Rindang memalingkan wajahnya yang telah penuh linangan airmata.
   "Kamu mau kemana? Kerumah Pak Anwar?"
   "Saya sudah memutuskan untuk pergi, Pak. Tapi bukan ke rumah Pak Anwar. Saya ingin merantau".
   "Merantau bersama seorang bayi? Kamu pasti mimpi!"
   "Saya tidak mau menyusahkan Bapak lagi".
   "Kata siapa kamu menyusahkan?"
   "Karena saya Bapak dihina orang".
   "Pak Anwar tidak menghina".
   "Bukan Pak Anwar".
   "Beliau ingin menolongmu..."
   "Sebenarnya Pak Anwar hanya ingin menolong Bapak".
   "Bagaimanapun lebih baik tinggal dirumahnya dari pada merantau entah kemana!"
   "Saya tidak mau tinggal dirumah Pak Anwar".
   "Kalau begitu kamu tidak boleh pergi."
   Rindang menoleh.Matanya yang berlinang air mata menatap Pak Ikhsan dengan pilu.
   "Kalau boleh memilih, saya juga ingin tetap tinggl disini sambil membesarkan anak saya, Pak. Tapi masyarakat beradab diluar sana tidak mengizinkannya. Karena itu saya terpaksa pergi".
   "Kamu mau pergi kemana, Dang? gumam Pak Ikhsan cemas. "Kemana kamu mau membawa bayimu?"
   "Kalau Bapak sayang pada anak saya, maukah Bapak merawatnya demi saya? Jika suatu waktu dia membutuhkan saya, saya pasti akan datang".

0 komentar:

Poskan Komentar