.quickedit{ display:none; }

Minggu, 01 Mei 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab IV

BAB IV

MUNGKINKAH gadis berumur lima belas tahun yang manis tapi lugu itu merayu gurunya, pikir Farida kerika dia sedang termenung menekuri berkas-berkas perkara Linda Ramelan.
   Farida masih ingat pertemuannya yang pertama dengan gadis itu. Dia datang diantar oleh seorang polisi wanita. Terbenam dalam ketakutan dalam rangkulan ibunya.
   Wajahnya yang polos menyiratkan rasa malu. Takut. Sekaligus bingung.
   Sejak peristiwa yang membuatnya shock itu, dia terus-menerus ditanya-tanya. Dibentak-bentak. Diperiksa. Mula-mula di rumahnya. Ayahnya memaksanya mengakui siapa yang melakukan hal itu. Ketika Linda masih menangis kebingungan, ayah sudah membentak-bentaknya dengan sengit.
   Begitu pengakuan keluar dari mulutnya. Ayah langsung membawanya ke polsek. Di sana dia dipaksa menceritakan lagi pengalaman pahitnya. Kali ini pengakuannya dicatat oleh seorang polisi.
   Lalu dia dibawa ke seorang dokter, yang memperlakukan tubuhnya seperti sebuah barang bukti. Tidak kasar. Tapi tidak berperasaan.
   Meskipun  terus-menerus didampingi ibunya, pemeriksaan yang sangat tidak menyenangkan itu sangat menusuk perasaannya sebagai seorang gadis yang baru berumur lima belas tahun.
   Lalu pengakuannya yang telah diceritakannya entah berapa kali itu harus diulanginya lagi. Kali ini di depan seorang petugas yang mencatat pengakuannya dengan lebih cermat. Setelah dibacakan, pengakuan itu harus ditandatanganinya.
   Dalam keadaan takut dan lemah, dia diperbolehkan pulang setelah disuntik dan dibekali beberapa macam obat. 
   "Kasus Linda Ramelan lagi?" tegur Sultan, salah seorang rekannya yang baru masuk ke kamar kerjanya.
   Farida hanya mengannguk.
   "Kamu sudah berhasil menjebloskan pemerkosanya ke dalam penjara. Mau apa lagi? Masih penasaran?"
   "Cuma tujuh bulan". sahut Farida tanpa mengangkat wajahnya jengkel. Dadanya terasa panas. Dan tetap pengap sekalipun dia telah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi.
   "Ingin dia dihukum sesuai tuntutanmu?" Sultan tersenyum tipis. "Barangkali hakimnya harus wanita!"
   "Coba bayangkan", desis Farisa kesal. "Tujuh bulan untuk perbuatan sekeji itu! Bahkan sesudah dia keluar dari penjara nanti, gadis itu belum pulih dari shocknya!"
   "Ya memang kelihatannya trauma psikisnya cukup berat. Di persidangan dia selalu gemetaran dan pucat pasi seperti orang ketakutan".
   "Menurut dokter, sindroma trauma pekosaan yang menimpa LInda cukup berat. Sampai sekarang dia tidak bisa tidur kalau tidak minum obat. Tidak berani ditinggal sendirian di rumah. Sekaligus tidak berani meninggalkan rumah. Sudah dua kali dia mencoba bunuh diri pula".
   "Ya, tujuh bulan memang hukuman yang terlalu ringan. Seharusnya mereka naik banding".
   "Yang naik banding justru pihak terdakwa!"
   "Keterlaluan, ya? Tujuh bulan pun mereka keberatan!"
   "Itu yang membuat saya gemas! Terdakwa menyatakan dia tidak bersalah. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Bahkan dia menuduh korbanlah yang merayunya. Bukankah LInda yang datang ke rumahnya? Seorang diri pula. Dan Linda tahu, saat itu istri gurunya sedang melahirkan. Jadi tidak ada siapa-siapa di rumah".
   "Kamu takut pengadilan tinggi akan membebaskannya?"
   "Terus terang saja saya khawatir. Pembelanya sangat ulet. Pertanyaan-pertanyaannya kepada Linda sangat memojokkan. Sementara oranftua LInda sudah menyerah. Tidak mau naik banding".
   "Apa alasannya? Mereka juga tidak puas kalau bajingan itu dibebaskan, kan?"
   "Ayah Linda bilang, mereka tidak ingin memperpanjang perkara. Mereka sudah sangat tersiksa sebelum dan selama persidangan. Mereka sudah letih".
   "Bujuk lagi saja mereka. Bilang bajingan itu punya kesempatan untuk lolos. Tapi kamu juga harus mengumpulkan bukti lebih banyak lagi, Da! Kamu harus dapat menyakinkan hakim, lelaki seperti dia sangat berbahaya kalau dibiarkan berkeliaran bebas. Apalagi dia seorang guru!"
    "Saya memang ingin tahu lebih banyak tentang dia. Guru macam apa yang sampai hati merusak muridnya sendiri?"
   Dan konsentrasi Farida kembali tercurah ke pengakuan Linda Ramelan.


* * *

  "Kok sepi, Pak?" tanya Linda heran. "Ibu ke mana?"
  "Belum pulang", sahut Pak Sabdono sambil melebarkan pintu rumahnya. "Kata dokter besok baru boleh pulang".
   "Bayinya juga besok pulang, Pak?"
   "Belum. Perlu dirawat beberapa hari lagi. Badannya kuning semua. Perlu disinar. Ayo, masuk".
   Linda melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Pak Sabdono menutup pintu. Dan menguncinya sekalian.
   "Duduklah", Pak Sabdono menunjuk ke arah sofa "Mau minum apa?"
   "Tidak usah repot-repot, Pak. Anak-anak Bapak yang lain pada kemana?"
   "Sedang menengok ibunya. Kata mereka ingin melihat adiknya?"
   "Adiknya perempuan lagi, Pak?"
   "Iya, sudah lima, perempuan semua".
   "Tanggung, Pak! Bikin setengah lusin!"
   "Hus! Enak saja kamu bicara! Memangnya gelas, pakai setengah lusin segala!"
   "Selamat ya, Pak!" Linda mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Pak Sabdono sangat menikmati kehangatan senyum muridnya. Tangannya juga. "Mudah-mudahan tahun depan dapat koboi!"
   "Tidak ada tahun depan". Pak Sabdono seperti tidak mau melepaskan tangan Linda dari gengamannya. "Tahun ini pabriknya tutup".
   "KB ya, Pak?" Linda menarik tangannya lepas. Senyumnya masih menggoda.
   "Sudah tua".
   "Ah Bapak kan belum tua", gurau Linda ceria. "Masih balita, kan, Pak?"
   "Apanya yang balita?"
   "Bawah lima puluh tahun!" Linda tertawa renyah
   Pak Sabdono menikmati tawa muridnya. wajahnya yang manis. Giginya yang putih rata. Matanya yang bersinar cemerlang.
   "Bapak sudah lima empat! Sebentar lagi pensiun!"
   "Ah, kata teman-teman, Bapak baru empat lima! awet muda dan penuh semangat empat lima!"
   Pak Sabdono tersenyum bangga. Dalam usia lima empat, dia memang terlihat energik. Badannya masih tegap. Belum bongkok. Mungkin karena rajin berolah raga. Mungkin pula karena selalu menyantap makanan sehat bergizi. Mungkin pula karena dikelilingi gadis-gadis remaja yang cantik. Seperti muridnya yang satu ini.
   "Bapak mandi dulu ya", kata Pak Sabdono sambil melangkah ke kamarnya. "Nanti kita sama-sama pergi ke sekolah. Itu minumannya dimeja. Jangan tidak diminum".
   "Bapak belum mandi?" belalak Linda pura-pura terkejut.
   "Kenapa?" tantang Pak Sabdono separo bergurau. "Masih bau keringat?"
   Linda menutup mulutnya menahan tawa.
   "Bukan latihannya jam lima, Pak? Kalau nunggu Bapak mandi dulu, latihannya keburu bubar!"
   Mereka memang berniat pergi ke sekolah untuk latihan basket. Karena sopir Linda sakit, Pak Sabdono menawarkan diri untuk memboncengi LInda ke sekolah dengan motornya.
   "Tapi kamu yang ke rumah saya ya,", kata Pak Sabdono di sekolah siang tadi. "Saya tidak sempat menjemput kamu lagi".
   Tentu saja Linda tidak curiga. Orangtuanya juga tidak. Mereka mengizinkan putrinya latihan basket di sekolah. Meskipun sopir mereka hari itu sakit dan Linda harus naik taksi. Yang mereka tidak tahu, putrinya tidak naik taksi ke sekolah. Dia naik taksi ke rumah gurunya. Justru pada saat Pak guru sedang berada seorang diri di rumah karena istrinya masih dirawat di klinik bersalin.
   Linda juga tidak curiga ketika Pak Sabdono menyuruhnya menghabiskan minuman yang sudah tersedia di atas meja. Tidak curiga ketika gurunya memanggilnya ke kamar. Ketika dia membuka pintu kamar, dilihatnya Pak Sabdono sedang tegak di sisi tempat tidur. Setumpuk pakaian yang kelihatannya baru selesai dicuci teronggok di atas kasur.
   "Mau tolong saya?" tanyanya dengan suara tak berdosa.
   "Memilihkan baju untuk Bapak?" sahut Linda tanpa curiga sedikitpun. 
   "Sekalian tolong disetrika ya?"
   "Baju sebanyak itu?" LInda menahan tawa. "Kapan kita sampai di sekolah. Pak? Teman-teman pasti sudah bubar jalan!"
   "Satu saja". Pak Sabdono tersenyum sambil membuka lengannya berpura-pura mengeluh. "Istri tidak ada repot juga".
   Dan dia tidak menutup lengannya lagi sampai Linda tiba di dekatnya.
   "Tiba-tiba dia menarik saya ke pelukannya", Farida masih dapat mengingat cerita LInda dengan jelas. Gadis itu menceritakannya sambil mengangis. "Lalu...lalu...dia memaksa saya..."
   Dia memaksa saya
   Artinya Linda dipaksa melakukan persetubuhan. Dia diperkosa. Tetapi mengapa visum et repertum dokter tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan?
   Dokter memang menyatakan ada persetubuhan. Tapi tidak ada kekerasan. Karena itu pembela menyimpulkan persetubuhan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Bahkan karena korban yang datang ke rumah tersangka pada saat dia sendirian di rumah, korbanlah yang dituduh memulai perbuatan cabul itu.
   "Karena itu kita kalah", kata Farida ketika dia datang ke rumah Linda untuk membujuknya mengajukan banding. "Kamu harus menceritakannya dengan terus terang, Linda. Katakan pada saya apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa kamu tidak melawan kalau gurumu memaksa kamu melakukan perbuatan yang tidak kamu inginkan?"
   Linda menatap Farida dengan ketakutan. Bibirnya bergetar hebat
   "Saya tahu kamu tidak ingin mengingat-ngingat lagi peristiwa itu", bujuk Farida sabar "Tapi kamu tidak rela guru sekeji itu dibiarkan bebas, kan? Kamu tidak puas kalau orang yang sudah berbuat jahat kepadamu dibebaskan dari hukuman?"
   "Barangkali hukumannya memang ringan, Bu Farida", cetusa ibu Linda yang selalu mendampingi putrinya. "Tapi masuk penjara saja sudah merusak nama baiknya sebagai guru. Saya rasa itu hukuman yang paling berat untuknya".
   "Kalau dia tidak dibebaskan, bu" sahut Farida muram "Pembelanya sedang mengajukan banding. Dan mereka punya sederet saksi yang berani bersumpah, Pak Sabdono adalah guru yang baik. Tidak genit. Tidak pernah terlibat affair dengan murid-muridnya. Tidak pernah berselingkuh. Perceraian dengan istri pertamanya juga bukan karena kesalahan Pak Sabdono. Ada saksi yang mengatakan, perempuan itu yang minta cerai karena tidak tahan lagi hidup sebagai istri guru yang pendapatannya pas-pasan".
   "Barangkali perempuan itu sudah mengendus kebejatan suaminya", geram ibu Linda muak, "Hanya saja belum ada bukti".
   "Dan tidak ada yang berani bersaksi", sambung Farida dingin. "Saya berjanji akan mencari bukti dan saksi untuk memberatkannya, Bu. Tapi tolong bujuk LInda untuk membantu saya".
   "Apa lagi yang harus dilakukannya?"
   "Jujurlah pada saya. Mengapa dia tidak melawan kalau dipaksa?"
   Tetapi Linda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ketakutan.
   "Kamu diancam?"
   Linda merebahkan dirinya ke pelukan ibunya. Tangisnya pecah tanpa dapat ditahan-tahn lagi.
   "Sudahlah, Bu Farida', pinta ibu Linda lirih. "Kasihan LInda. Dia sudah tidak kuat menanggung beban seberat ini. Dia sudah dua kali mencoba bunuh diri..."
   "Kamu tidak boleh mati, Linda!" geram Farida gemas "Kamu harus tegar! Tidak boleh menyerah pada nasib!"
   "Dia merasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup", keluh ibu Linda sedih. "Masa depannya sudah hancur. Linda sudah tidak mau sekolah lagi. Malu pada teman-temannya. Keluar ruamh saja dia takut. Tidak berani ketemu orang yang akan menghina dirinya. Mereka semua menganggap Linda-lah yang merayu gurunya".
   "Kamu harus melawan ketidakadilan itu, Linda! Bukan malah larut dalam keputusasaan. Dunia harus tahu, bukan kamu yang salah! Dan cuma kamu yang dapat membuktikannya!"
   "Tidak ada yang percaya pada Linda, Bu. Bahkan guru-guru dan teman-temannya percaya, Linda lah yang menggoda Pak Sabdono!"
   "Saya percaya kamu tidak bersalah, Linda", kata Farida tegas. "Saya hanya heran mengapa kamu tidak melawan..."
   Tetapi LInda sudah tidak dapat ditanya lagi. Ibunya yang memohon agar Farida meninggalkan mereka.
   "Kami sudah putus ada, Bu", katanya lirih. "Biarlah Tuhan yang menghukum orang yang bersalah. Dia hakim Yang Maha Adil".
   Tetapi Tuhan tidak akan membantu jika kita tidak berusaha, geram Farida dalam hati. Hanya manusia lemah yang menyerah pada nasib!


* * *


Seluruh penghuni sekolah tempat Pak Sabdono mengajar menyambut kedatangan Farida dengan dingin. Guru-guru menyingkir. Tata usaha membuang muka. Murid-murid memasang wajah bermusuhan. Semua yang ditanya malas menjawab. Hanya kepala sekolah yang terpaksa melayani.
   "Perkara ini sudah di tangan pengadilan", tukas kepala sekolah datar. "Vonis sudah dijatuhkan. Mau apa lagi? Kami tidak bersedia ditanya-tanya lagi. Kasus sudah ditutup".
   "Ibu keliru", bantah Farida tegas "Perkara ini masih dalam tingkat banding".
   "Kami tidak mau terlibat lagi. Sudah cukup kami disorot"
   "Saya datang bukan sebagai penuntut umum, Bu. Saya hanya ingin mengenal lebih dekat pribadi Pak Sabdono".
   "Untuk apa?" gerutu kepala sekolah ketus. "Lima belas tahun mengajar sebagai guru olahraga di sekolah ini, tidak pernah ada keluhan tentang dirinya. Sikapnya selalu baik. Santun. Terhormat."
   "Bagaimana dengan keluarganya?"
   "Tanyakan saja sendiri ke rumahnya. Dia punya seorang istri dan lima orang anak. Tidak pernah terlibat skandal atau perselingkuhan. Tidak punya istri muda atau simpanan".
   "Bagaimana dengan istri pertamanya?"
   Alis kepala sekolah terangkat naik. Matanya bersorot marah ketika menatap Farida.
   "Mereka bercerai baik-baik".
   "Bukan karena ulah Pak Sabdono istrinya minta cerai?"
   "Kalau guru yang tidak bisa ngobjek dianggap ulah!"
   "Ibu tahu dimana mantan istrinya sekarang?"
   "Mengapa saya harus tahu?"
   "Di mana Pak Sabdono mengajar sebelum menjadi guru disini?"
   " Saya tidak tahu apakah Anda masih berwenang menanyakannya. Terus terang saya keberatan menjawabnya".
   "Baiklah. Saya tidak akan mendesak Ibu lagi. Saya datang ke sini bukan sebagai seorang jaksa. Saya datang sebagai seorang wanita yang merasa tersentuh melihat nasib sesama saya, yang kehilangan masa depannya karena ulah seseorang yang sudah dianggap sebagai pengganti orangtuanya. Sebagai seorang guru dan seorang wanita seharusnya ibu juga ikut tergugah!"
   "Bagaimana kalau sebaliknya?" protes kepala sekolah berang. "Linda yang menggoda gurunya sehingga dia khilaf? Dia telah merusak nama baik guru dan sekolahnya!"
   "Mengapa ibu begitu yakin bukan Pak Sabdono yang memaksa LInda karena dia kesepian?"
   "Mengapa baru sekarang dia merasa kesepian? Pak Sabdono sudah lima belas tahun mengajar di sekolah ini. Muridnya sudah ratusan. Tak pernah ada peristiwa yang memalukan seperti ini!"


* * *


Ketika Farida sedang meninggalkan sekolah itu, seseorang hampir menubruknya di kaki lima. Mereka sama-sama terkejut. Dan sama-sama terperangah.
   "Ida!" cetus laki-laki mudah itu dengan tatapan tak percaya.
   "Bang Mahmud", gumam Farida dengan napas tertahan.
   Laki-laki itu masih tetap seganteng dulu. Lebih-lebih bila dia mengenakan kacamata hitam yang menutupi sebelah matanya yang cacat.
   "Sedang apa di sini, Ida? Oh, pasti sehubungan dengan kasus Linda Ramelan itu, ya? Saya baca beritanya di koran. Hebat kamu sekarang! Sarjana Hukum! Wah, saya benar-benar bangga padamu!"
   Benarkah kamu merasa bangga, pikir Farida getir. Suatu saat dulu, kamu malah merasa malu!






0 komentar:

Poskan Komentar