.quickedit{ display:none; }

Selasa, 17 Mei 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W--Bab XVII

JAKARTA 1988

BAB XVII



FARIDA pulang ke Jakarta dengan penuh semangat. Dia hampir tidak sabar menemui rekannya di kantor.
   "Tuhan benar-benar berada di pihak kita, Kak Sultan!"
   "Kamu bertemu dengan segudang gadis yang pernah diperkosa Sabdono Lesmono?" Sultan tersenyum penuh canda
   "Ayah saya kenal kepala sekolah tempat dulu dia bekerja di Medan! Ternyata Pak Anwar masih ingat peristiwa tiga puluh tahun yang lalu!Di sekolahnya ada siswi yang melahirkan di WC sekolah. Siswi itu kemudian bunuh diri sebelum mengatakan siapa ayah anaknya!"
   "Apa hubungannya dengan Sabdono Lesmono? Tidak ada bukti dialah ayah anak itu!"
   "Kakak tidak melihat benang merah dalam kasus ini? Selalu ada peristiwa semacam itu di tiga sekolah tempat Sabdono Lesmono mengajar!"
   "Kamu lupa. Yunisar tidak pernah mau mengakui affair-nya! Dia kini istri pejabat!"
   "Saya punya kartu as lain. Pak Anwar bersedia menjadi saksi".
   "Bahwa Sabdono dulu pernah mengajar di sekolahnya? Oke, hakim mungkin curiga. Tapi bukti itu terlalu lemah".
   "Pak Anwar bilang, dia tahu di mana anak itu berada!"
   "Kalau anak itu mau bersaksi, itu baru kartu as kita! Dengan pemeriksaan darah dan uji DNA, kita mungkin dapat membuktikan Sabdono-lah ayahnya".
   "Pemeriksaan golongan darah tidak dapat membuktikan Sabdono-lah ayah anak itu. Tetapi dapat membuktikan kalau dia bukan ayahnya".
   "Dia tidak dapat mungkir lagi kalau ada bukti uji DNA. Dan kita dapat melakukannya kalau anak itu ditemukan!"
   "Dan saya sudah menghubungi Yunisar sekali lagi", sambung Farida bersemangat. "Kali ini dengan surat. Saya mencoba menggugah kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai sesama wanita".
   "Rasanya percuma saja", Sultan tersenyum pahit. "Harga diri dan nama baiknya pasti lebih penting dari semua itu".


* * *


Farida sedang melangkah terburu-buru meninggalkan kantornya ketika seseorang memanggilnya. Dia memang hampir tidak mendengarnya. Belakangan ini dia sedang sibuk sekali. Semua konsentrasinya sedang terfokus pada kasus yang ditanganinya. Tidak heran kalau panggilan itu hampir luput dari pendengarannya.
   Baru ketika jarak mereka lebih dekat dan orang itu menyapanya lagi, Farida tertegun. Suara itu seperti tiba-tiba saja datang dari surga. Suara yang sangat dikenalnya. Suara yang suatu waktu dulu sangat dirindukannya...
   "Pak Hans?" desahnya tidak percaya.
   Matanya terbuka lebar menatap laki-laki yang kini tegak di hadapannya.
   Hampir tak ada perubahan dalam diri laki-laki itu. Dia masih tetap segagah dan setampan dulu. Senyumnya masih demikian magis. Tatapannya masih menghela perasaan Farida ke dalam kubungan pasir apung tak bertepi.
   "Apa kabar, IDa?" sapa Pak Hans lembut.
   "Baik, Pak. Bagaimana Ibu?" sahut Farida terbata-bata. Berusaha memperbaiki sikap secepatnya. Dia tidak boleh tahu...
   "Ibu yang mana?" Pak Hans tersenyum pahit
"Sampai sekarang saya masih menduda".
   "Pak Hans!" desah Farida penuh penyesalan. dia tidak bersandiwara. dia benar-benar menyesal. "Bapak tidak mengajak ibu rujuk?"
   "Sudah saya coba mengikuti saranmu. Tapi saya gagal".
   "Saya menyesal sekali, Pak".
   "Saya juga. Kamu bagaimana? Masih sendiri? Sultan belum berhasil mencairkan kebekuan hatimu?"
   Farida tersenyum malu
   "Sekarang kami mitra kerja, pak".
   "Bagus sekali. Selalu bersama memudahkan pendekatan kalian".
   "Ah, tidak ada apa-apa di antara kami, pak. Saya menganggapnya kakak dan partner kerja".
   "Kalau begitu tidak ada yang marah kalau saya mengajakmu makan sate? Kita ngobrol di sana. Lebih enak dan santai. Boleh?"
   Tentu saja boleh. Walaupun Farida sebenarnya sedang sangat sibuk. Tetapi dia tidak mungkin melewatkan saat-saat bersama Pak Hans!
   "Saya sering makan sendirian di sini", kata Pak Hans ketika mereka sedang menikmati sate berdua di warung pinggir jalan. Persis seperti dulu. "Setiap kali kemari, saya selalu ingat kamu".
   Wajah Farida terasa panas. Dia merasa jengah. Sekaligus bahagia. Pak Hans selalu teringat padanya? Tidak berdustakah dia?
   "CEritakan kasus apa yang sedang kamu tangani sekarang. Kasus perkosaan murid sekolah itu sudah kamu menangkan, kan? Kamu benar-benar hebat. Saya bangga pernah menjadi dosenmu".
   "Masih banding, pak. Saya sedang mengumpulkan bukti-bukti yang lebih kuat".
   Dan Farida menceritakan semua masalahnya. Seolah-olah dia menemukan tempat untuk mencurahkan semua kesulitannya. Pak Hans mendengarkan dengan cermat. Mengusulkan beberapa masukan berharga. Dan mereka terlibat diskusi serius sampai lupa waktu.


* * *


Ketika Sultan keluar dari kantor, dia melihat Farida sedang berbicara dengan seseorang. Mula-mula dia tidak mengenali laki-laki itu. Dia sudah hendak menghampiri ketika tiba-tiba dibatalkannya langkahnya.
   Mendadak saja Sultan mengenali laki-laki yang sedang berbicara dengan Farida. Dan dia sudah hendak menyerukan namanya dengan gembira.
   Pak Hans Walian! Dosen favoritnya. Dosen yang paling populer di kampus mereka dulu!
   Tiba-tiba saja dia muncul di sini. Sungguh gembira bisa bertemu lagi dengan bekas dosen. Apalagi yang sebaik Pak Hans!
   Tetapi sekali lagi Sultan membatalkan langkahnya. Membatalkan panggilannya.
   Pikiran itu sekonyong-konyong mampir di kepalanya,
   Pak Hans datang untuk menemui Farida. Dan mereka mungkin tidak mau diganggu.
   Dari kejauhan Sultan tidak dapat melihat wajah Farida. Tidak dapat melihat betapa berbinar sorot matanya. Tetapi dia dapat merasakannya. Dia dapat menduga betapa gembiranya Farida.
   Sultan melihat mereka berjalan ke mobil Pak Hans. Bekas dosennya itu membukakkan pintu dengan sopan. Menunggu sampai Farida masuk ke mobilnya. Lalu dia masuk dari pintu yang lain.
   Pak Hans duduk di balik kemudi. Dan mobilnya perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan SUltan termenung seorang diri.
   Farida selalu menolak dibonceng motornya. Tetapi dia mau ikut mobil Pak Hans. Apakah itu pertanda dia membalas perhatian laki-laki itu? Atau...ketegasa sikap Pak Hans-lah yang membuat wanita seperti Farida menyerah?
   Pak Hans datang mencarinya sampai kemari. Apakah itu juga berarti dia masih menaruh perhatian kepada bekas mahasiswinya yang satu ini? Kalau tidak, buat apa dia datang ke sini? Dia pasti tidak datang mencari Farida untuk menyerahkan kasusnya!
   Aneh, pikir Sultan sambil tersenyum pahit. Dosen favorit yang jadi rebutan di kampus. Dia justru memilih bekas mahasiswinya yang paling tidak menarik!
   Atau dia keliru?  Farida Justru sangat menarik karena dia berbeda?
   Kalau tidak mengapa aku juga menaruh perhatian padanya? Kukejar dia sejak masih duduk di tingkat satu. Tapi sampai sekarang, Farida tidak pernah membalas perhatianku!
   Dia memang baik. Sikapnya selalu ramah dan lembut. Tetapi dia tidak pernah membuka hatinya untuk siapapun. Tidak juga untukku, yang selalu berada disampingnya!


* * *

















0 komentar:

Poskan Komentar