.quickedit{ display:none; }

Minggu, 08 Mei 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab XVI

MEDAN 1988

BAB XVI

FARIDA melangkah memasuki gedung sekolah tua itu. Bangunannya masih menampilkan bangunan tahun lima puluhan. Meskipun tidak tersentuh renovasi, gedung itu masih terlihat kokoh dan bersih.
   Disinilah dulu bapak bekerja, pikir Farida sambil tersenyum. Gedung ini persis menampilkan imej bapak. Seorang guru tua yang tidak tersentuh modernisasi. Tetapi sederhana. Tapi jujur dan bersih. Tabah menghadapi tantangan zaman yang telah berganti.
   Melalui kawat kasa yang menutupi jendela kelas, Farida dapat memandang ke dalam. Seorang guru pria setenagh tua sedang menulis di papan tulis. Barangkali dulu bapak seperti itu. Mengajar di depan kelas juga.
   Ketika sedang menyusuri deretan kelas menuju ke kantor kepala sekolah, Farida harus melewati lorong sempit yang menuju ke Wc. Tidak sengaja matanya menelusuri deretan WC yang gelap di sana. Meskipun terlihat bersih, tetap menyebarkan baunya yang khas.
   "Selamat siang", sapa Farida ketika dia berpapasan dengan seorang guru. "Di mana kantor kepala sekolah, Bu?"
   Guru itu membalas sapaannya dan menunjuk ruangan yang paling ujung.
   "Kebetulan Pak Anwar ada di dalam", katanya tanpa dapat menghindarkan tatapannya dari kedua lengan Farida yang buntung. Barangkali dikiranya wanita ini datang untuk minta sumbangan untuk anak-anak cacat. "Mari saya antarkan"
   "Terima kasih", sahut Farida sopan.
   Baik sekali guru itu mengetuk pintu bahkan membukakan pintu untuknya, Farida baru sadar, guru itu ingin membantunya karena ia mengira dia tidak bisa membuka pintu. Bukankah dia tidak punya tangan?
   "Pak Anwar, ada yang ingin bertemu", kata guru wanita itu kepada seorang pria tua di balik meja tulis.
   "Terima kasih, Bu Santi", pria itu mengangkat wajahnya dan memandang ke pintu dari balik kacamata putihnya. "Silahkan masuk".
   "terima kasih", sahut Farida sekali lagi.
   Lalu matanya berpapasan dengan mata tua itu. Mata seorang pendidik yang masih berjuang dengan gigih menyelesaikan baktinya pada anak didik, meskipun ketuaan dan penyakit sudah mulai menggerogoti tubuhnya yang renta.
   "selamat pagi" sapa Farida sopan. "Pak Anwar?"
   Sekejap Pak Anwar mengawasi wanita cacat di hadapannya. Matanya memang sudah mulai lamur. Hampir tidak bisa melihat kalau tidak dibantu kacamata tebal. Tetapi dia masih dapat melihat dua buah lengan baju yang kosong. Dan hatinya mendadak berdebar entah kenapa.
   Sudah tiga puluh tahun lebih Pak Anwar bertugas sebagai kepala sekolah. Pada umur enam puluh lima, dia sudah bersiap-siap untuk pensiun. Jabatannya akan segera digantikan oleh tenaga yang lebih muda.
   Sebenarnya dia sudah ingin mengundurkan diri sebagai kepala sekolah sejak lima tahun yang lalu. Tetapi dewan guru masih memintanya untuk memimpin sekolah ini satu-dua tahun lagi. Hari ini dia baru mengerti mengapa Tuhan masih memakainya sampai sekarang.
   "Saya sendiri", sahut Pak Anwar sambil menyilakan Farida duduk. Suaranya yang besar dan dalam masih menampakkan sisa-sisa kewibawaan seorang pemimpin yang disegani.
   "Saya Farida Ikhsan, Pak. Saya membawa surat ayah saya. Teman lama Bapak. Guru yang pernah mengajar disini".
   Farida mengambil surat yang ditulis ayahnya dengan mulutnya. Lalu dengan mulutnya pula dia menyodorkan surat itu.
   Sekejap Pak Anwar tertegun. Tangannya bergetar pula ketika menerima surat itu.
   "Pak Ikhsan..."desisnya tidak percaya. Ditatapnya gadis cacat itu dengan nanar "Ayahmu...?"
   Pak Anwar tidak menunggu sampai Farida mengangguk. Tangannya yang gemetar langsung merobek sampul surat itu. Dia seperti tidak sabar lagi hendak membaca isinya.
   Dibetulkannya letak kacamatanya. Kemudian matanya yang resah berkeliaran menelusuri tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
   "Ingatkah Pak Anwar pada peristiwa tiga puluh tahun yang lalu?" tulis Pak Ikhsan setelah berbasa basi sekadarnya. "Seorang bayi lahir di WC sekolah ini..."
   Tidak sadar Pak Anwar mengangkat wajahnya. Dan menatap gadis cacat di hadapannya dengan terkesiap.
   Jadi inilah bayi cacat itu! Bayi tangan lengan yang memilih WC sekolah sebagai tempat kelahirannya.
   Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik, dewasa, percaya diri, tapi....tetap cacat! Tak punya lengan!
   "Sampai sekarang hanya satu orang yang tahu siapa ayah anak itu. Dan orang itu telah tiada. Dia adalah Rindang. Murid kita. Ibu anak ini..."
   Rindang. Nama itu melintas di benak Pak ANwar. Tiga puluh tahun telah berlalu. Ribuan anak telah menjadi muridnya. Tetapi Pak Anwar tetap tidak pernah melupakannya!
   "saya memang bersalah. Tapi saya tidak ingin membuat kesalahan yang kedua. Saya ingin merawat anak saya! Tapi tidak ada tempat untuk kami!"
   Sampai sekarang Pak Anwar tidak dapat melupakan kata-kata Rindang. Yang diucapkannya dengan penuh emosi di sini. Di tempat ini.
   "Rindang bunuh diri setelah menitipkan bayinya pada saya. Demi bayinya, dia rela mengorbankan diri. Supaya anaknya punya tempat untuk berteduh. Supaya dapat membesarkan anaknya tanpa dicela orang-orang baik di luar sana..."
   Ada kepedihan mengiris hati Pak Anwar. Segurat sesal menjalar dibenaknya. Kalau dia lebih tegas, barangkali dia masih dapat menyelematkan nyawa muridnya....Dia masih begitu muda. Tidak ada orang yang membimbingnya. Semua orang meninggalkannya. Kecuali Pak Ikhsan. Tapi bahkan gurunya yang baik itu tidak dapat menolongnya lagi....
   "saya membawa bayi cacat itu pindah ke Palembang. Karena bayi Rindang membutuhkan seorang ibu, saya menikah. Kami menganggap Farida sebagai anak kandung kami. Dan sampai sekarang, dia tidak pernah mengecewakan orangtuanya. Kami bangga padanya. Kini dia seorang sarjana hukum! Benar Pak Anwar bayi cacat dan hina yang lahir di WC sekolah kita kini telah menjadi sarjana hukum!
   Ya, Tuhan desah Pak Anwar dengan keharuan yang tiba-tiba merebak. Ditatapnya gadis yang duduk di depannya. Air mata langsung menggenangi matanya. Membuat kacamatanya buram dan pandangannya kabur.
   "Samapai sekarang Farida tidak tahu siapa orangtua yang sebenarnya. Bagaimana cara dia lahir. Seperti apa penderitaan dan pengorabanan ibunya. Cerita tentang masa lalunya yang kelam seperti terkubur bersama pelakunya".
   Pak Anwar membuka kacamatanya dan menyeka air matanya. Lalu dia melanjutkan membaca surat itu.
   "Tetapi Tuhan Maha Adil, Pak Anwar. Tidak ada keadilan yang tersembunyi untuk selamanya. Crime Doesn't pay. Tataplah gadis yang kini duduk di depan bapak. Dan Pak Anwar pasti mengenalnya . Dia mirip seseorang bukan?"
   Sekarang bulu romba Pak Anwar meremang. Lama dia menatap Farida. Bayangan lelaki itu melintas di depan matanya. Dan dia tambah menyesali diri. Seharusnya sejak saat itu dia sudah curiga!
   Bukankah sikapnya sangat mencurigakan? Sejak itu dia selalu menjauhi Rindang. Menghindari setiap percakapan tentan murid itu. Bahkan dia tidak pernah menengok murid kesayangannya di rumah sakit!
   "Orang itu kini sedang diadili di Jakarta. Dia dituduh memerkosa anak didiknya yang belum dewasa. Muridnya sendiri. Seorang pelajar kelas satu SMA..."
   "Ya, Tuhan!" terlepas desahan getir itu dari mulut Pak Anwar. Dia benar-benar shock
   "Jika hati nurani Pak Anwar tergugah, maukah bapak bertindak sebagai saksi? Farida adalah penuntut umum dalam perkara itu. Sungguh seperti sebuah dakwaan dalam alam baka..."
   Lama Pak Anwar mengawasi Farida dengan mata berkaca-kaca sebelum bibirnya yang gemetar bergumam.
   "Katakan saja, Nak, apa yang dapat bapak bantu?"

0 komentar:

Poskan Komentar