.quickedit{ display:none; }

Rabu, 04 Mei 2011

Dakwaan Dalam Alam Baka--Mira W Bab X

JAKARTA 1978

BAB X

IBU Farida sudah mengontak adiknya di Jakarta. Minta tolong agar Farida boleh menumpang tinggal di rumah mereka. Dan karena paman Ismail tidak keberatan, Farida berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan studinya di fakultas hukum.
   Paman Ismail dan istrinya mempunyai tiga orang anak. Nani, delapan belas tahun, masih duduk di kelas tiga SMA. Yani, dua tahun lebih muda. Dan si bungsu Doni, baru sebelas tahun
   Kalau Paman Is dan Bibi Nur tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya melihat tekad Farida yang demikian besar, anak-anaknya malah mengira dia gila.
   "Tidak jadi gembel saja sudah bagus", menyeringai Nani. "Mau jadi sarjana hukum! Geer!"
   Tentu saja dia kesal. Baru hari pertama saja ayahnya sudah membanding-bandingkan Farida dengan dirinya.
   "Yang cacat saja punya tekad begitu besar untuk jadi orang", kata ayahnya kagum. "Berjuang untuk meraih gelar sarjana! Tidak seperti kamu, Nani tubuhmu sempurna tapi malas! Tidak punya semangat!"
   Tentu saja ayah bilang begitu. Soalnya Nani sudah bertekad tidak akan melanjutkan studinya kebangku kuliah. Lulus SMA dia mau kerja sambil menunggu pacarnya lulus dari fakultas ekonomi. Dan karena kuliah Hamid tinggal setahun lagi, tanggungkan kalau Nani masuk perguruan tinggi?
   Yani lain lagi. Umurnya sudah enam belas. Tapi dia baru duduk dikelas dua SMP. Kata Doni, otaknya titipan kerbau. Makanya dia dua kali tidak naik kelas.
   "Tidak malu sama sepupumu?" Ibu ikut menjadi nyinyir sejak kedatangan Farida. "Dia tidak punya tangan, tapi otaknya jalan! Kamu punya tangan, tapi tidak punya otak!"
   Terang saja Yani juga jadi ikut merasa gerah. Dan dia sudah tidak menyukai sepupunya sejak pertama kali datang. Karena itu dia tidak mau membantu Farida membersihkan kamarnya biar pun di suruh ibunya.
   Farida diberi sebuah kamar yang tidak terlalu besar. Bekas gudang yang sudah tidak terpakai lagi. Dia membersihkan sendiri kamarnya, tanpa minta bantuan orang lain.
   Pekerjaan sehari-hari pun dilakukannya sendiri. Mencuci baju. Menjemur. Menyetrika. Bahkan membantu bibinya menyiapkan makanan di dapur. Bibi Nur sampai terlongong-longong melihat kemampuan keponakannya.
   Kalau selama ini dia hanya mendengar kebolehan Farida dari kakak iparnya, sekarang dia melihat sendiri kemampuannya. Dan semua itu membuatnya semakin takjub. Dan semakin rewel menyuruh anak-anaknya mencontoh kerajinan dan keuletan Farida.
   Mula-mula anak-anaknya memang tidak menggubris. Ibu memang cerewet. Kalau tidak mengomel, bukan Ibu namanya. Hampir tiap hari Ibu memuji-muji si buntung. Seperti tidak ada kerjaan lain saja!
   "Dia kan numpang!" gerutu Yani. "Pantas saja disuruh bantu-bantu! Hitung-hitung bayar uang pondokan!"
   "Tahu tuh! Saban hari dipuji-puji! Bosan! Padahal apa sih hebatnya masak? Semua orang juga bisa!"
   Tidak salah kalau mereka kesal. Karena semakin rajin Farida, semakin sering mereka ditegur ibu.
   Lebih-lebih ketika Farida mulai menerima jahitan dari para tetangga. Dia memanfaatkan mesin jahit tua milik Bibi Nur. Melihat kerajinannya, sekarang ayah mereka juga ikut-ikutan jadi cerewet.
   "Contoh kakakmu tuh! Sudah rajin, pintar, ulet lagi! Jangan seperti kalian. Malasnya setengah mati!"
   "Jangan kelewat rajin deh, Kak!" tegur Nani malam itu, ketika dia sudah bosan digerutui ayah-ibunya." Nanti kita yang jadi korban!"
   Farida sedang sibuk menjahit mengangkat mukanya dengan heran. Tapi Nani sudah masuk ke kamarnya sambil membanting pintu.
   Ketika Farida masih tertegun bengong. Doni menyelinap ke dekatnya. Dia menyeringai jenaka. Memang cuma dia anak PAk Is yang tidak memusuhinya.
   "Biasa", cetusnya riang. "Dapat cepek!"
   "Kakakmu dimarahi lagi?" tanya Farida bingung. Lalu mengapa dia marah padaku?
   "Gara-gara Kak Ida kelewat rajin! Jadi Kak Nani kelihatan malasnya!" Doni tertawa geli.
   "Oh, begitu", gumam Farida dengan perasaan tidak enak. jadi aku harus bagaimana? Susah juga menumpang di rumah orang. Tidak seenak di rumah sendiri.
   Ketika dia sedang memasukkan benang dengan mulutnya. Doni mengawasinya dengan penuh perhatian.
   "Boleh Doni bantu, Kak?" cetusnya spontan.
   Farida menoleh. Dan melihat betapa seriusnya Doni memandangnya, seuntai senyum manis tersungging di bibirnya.
   "APa yang Doni bisa bantu?"
   "Apa saja. Memasukkan benang. Menggunting kain. Menyulam juga bisa kalau diajari".
   Mau tak mau Farida tertawa. Doni memang lucu. Dialah satu-satunya penghibur di rumah ini.
   "Doni mau belajar menyulam?"
   "Mau".
   "Nanti Kak Ida ajari".
   "Anak laki boleh nyulam?"
   "Kenapa tidak?"
   "Nanti jadi banci".
   "Bukan gara-gara nyulam orang jadi banci".
   "Kak Ida nyulam pakai apa?"
   "Pakai kaki. Tapi Doni boleh pakai tangan".
   "Sekarang?".
   "Sekarang kak Ida masih repot. Doni tolong masukkan jarum saja, ya?"
   Dengan bersemangat Doni mengambil benang dan membungkuk di samping mesin jahit.


***

Ketika tiba di kampus untuk mendaftar saja, Farida telah menarik perhatian. Semua orang menoleh dan memandang heran.
   "Si buntung itu mau mendaftar?" cetus seorang calon mahasiswi bingung. "Bukan mau minta-minta?"
   "Kira-kira In", temannya memukul bahunya. "Bajunya kan bukan potongan pengemis!"
   Tentu saja beberapa patah kata-kata mereka menusuk telinga Farida. Tetapi dia tidak peduli. Sudah biasa baginya menerima gunjingan orang.
Sejak kecil dia sudah biasa menyaksikan reaksi orang yang melihatnya. Ada yang iba. Ada yang menghina. Semua itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.
   "Ambil formulir, Dik?" sapa seorang mahasiswa.
   "Iyalah", menimpali temannya. "Masa mulung sampah?"
  "Buat adiknya?" sambung mahasiswa yang pertama, tanpa mengacuhkan seloroh rekannya. Suaranya tidak bernada menghina.
   "Buat saya, Kak", sahut Farida tenang, tanpa mengacuhkan tatapan terperanjat pemuda itu.
   "Buat kamu?" belalak temannya sambil menahan tawa. "Mau mengumpulkan kertas bekas atau ikut pendaftaran?"
   "Diam kamu!" Mahasiswa yang pertama menyodok pinggang temannya dengan sikunya. Begitu kerasnya sampai temannya mengaduh kesakitan. Cepat-cepat dia mengumpulkan formulir-formulir yang dibutuhkan.
   "Bagaimana kamu mau ikut tes?" sela temannya penasaran.
   "Akan saya coba, Kak", sahut Farida tanpa emosi.
   "Kamu bisa nulis?"
   "Saya punya ijazah SMA, kak".
   "Pertanyaan goblok!" Mahasiswa yang pertama sekali lagi hendak menggebuk bahu temannya. Tetapi kali ini pemuda itu sempat mengelak. "Jangan ladeni si Aji! Otaknya memang bengkok seperti IQ-nya juga jongkok! Kenalkan saya Sultan....."
   "Bohong!" sambar Aji sambil tertawa terbahak-bahak, "dia bukan Sultan! Abunawas!"
   Calon-calon mahasiswa yang sedang berdesakan mengambil formulir ikut tertawa.
   "Saya Farida", sahut gadis tanpa lengan itu sederhana.

0 komentar:

Poskan Komentar