.quickedit{ display:none; }

Minggu, 08 Mei 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab XV

PALEMBANG 1988


BAB XV

UNTUK mengejar karier, setelah lulus, Farida menetap di Jakarta. Dan dia memutuskan untuk mengembangkan kariernya sebagai seorang penuntut umum.
   Dia memang telah berhasil meraih cita-citanya. Menjadi sarjana hukum. Sekaligus penjahit yang desain baju-bajunya mulai dicari orang.
   Beberapa majalah dan surat kabar yang memuat kisahnya ikut mempopulerkan namanya, Farida telah menjadi orang terkenal. Tetapi dia tidak pernah berubah.
   Dia masih tetap Farida yang lugu. Rendah hati. Dan seorang diri. Bahkan rumahnya masih tetap rumah kontrakan yang dulu. Rumah kecil berkamar dua yang hampir tidak muat lagi menampung tumpukan baju.
   Endang masih bersamanya. Tetapi dia sekarang tidak perlu memasang kancing. Dia menjadi wakil Farida. Mengawasi enam orang buruh jahit yang membantu mereka.
   Sudah berapa kali Endang mengusulkan mengontrak rumah yang lebih besar. Rumah itu sudah terlalu sempit. Tetapi Farida masih betah di sana.
   "Di rumah ini kita mulai usaha kita, Dang", katanya separo becanda. "Rumah ini membawa rezeki!"
   "Kamu cuma tidak bisa meninggalkan Bu Tri, kan?" Endang tersenyum penuh pengertian. "Kamu tidak pernah bisa melupakan orang-orang yang pernah berjasa padamu".
   Endang benar. Tapi bukan hanya Bu Tri.
   Farida juga tidak melupakan Paman Ismail dan keluarganya. Dia selalu membantu kalau pamannya sedang terimpit kesulitan ekonomi. Nani dan Yani sudah menikah. Mereka sudah pindah dan ikut suaminya masing-masing.
   Tetapi Doni masih tinggal bersama orangtuanya. Farida-lah yang membiayai kuliahnya di fakultas teknik sipil.
   Farida juga tidak pernah melupakan orangtuanya. Setiap tahun dia selalu mengambil cuti untuk menengok mereka. Sekarang dia juga yang menanggung ekonomi keluarga. Dia melarang ayahnya bekerja lagi.
   Tentu saja ayahnya merasa lega. Dia tinggal menikmati sisa hidupnya dengan tenang. Tetapi masih ada satu hal yang mengganjal hatinya.
   "Sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu, Ida", katanya setiap kali Farida pulang.
   Tentu saja Farida tahu apa maksud ayahnya. Tetapi dia selalu berlagak bodoh.
   "Saya tahu, Pak. Suatu saat saya harus memilih. Jadi pengacara atau desainer".
   "Bukan itu maksud Bapak", ayahnya menghela napas panjang. "Umurmu sudah hampir terlambat menikah. Adik-adikmu sudah dua orang yang mendahuluimu. Masa kamu mau menunggu sampai adik bungsumu melewati juga?"
   "Saya masih ingin meniti karier, Pak. Dan ingin menggantikan bapak memikul beban rumah tangga. Biaya hidup sekarang kan berat, Pak".
   "Bapak tahu. Dan bapak menghargai niatmu. Kamu memang anak yang berbakti. Bapak bangga padamu. Tapi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri. Karier dan kewajibanmu sebagai anak tidak berhenti sekalipun kamu sudah menikah".
   Tapi dengan siapa aku harus menikah? Satu-satunya lelaki yang kucintai telah pergi entah kemana. Mungkin dia sudah kembali kepada mantan istrinya. Mungkin pula dia sudah menemukan perempuan lain.
   Aku memang sudah berhasil sebagai sarjana hukum dan penjahit. Tetapi sebagai istri?
   Orang tidak akan ragu menyerahkan perkaranya atau bajunya kepada seorang wanita buntung. Tapi mengambilnya sebagai istri?
   Trauma Mahmud belum dapat dilupakannya. Selalu menghantuinya seumur hidup. Mengikis kepercayaan dirinya sebagai seorang wanita.
   "Sultan sudah dua kali kemari. Katanya dia ingin mengenal keluargamu. Kelihatannya dia menaruh hati padamu, Ida. Tapi kamu seperti sengaja menghindar".
   "Saya hanya menganggapnya sebagai kakak dan partner kerja", sahut Farida sebelum ayahnya mengharapkan yang bukan-bukan.
   "Apa salahnya memberi dia jabatan yang ketiga? Sebagai suami?"
   Tidak ada salahnya, pikir Farida bingung. Kecuali aku tidak mencintainya.
   Haruskah seorang wanita mengawini seorang pria yang tidak dicintainya hanya supaya dia dapat menikah?
   "Jangan terlalu pemilih, Ida", sambung ayahnya ketika dilihatnya anaknya diam saha. "Nanti waktumu habis dan kamu tidak mendapat apa-apa".
   "Dapatkah perempuan cacat seperti saya memilih, Pak?" Getirnya suara Farida membuat hati ayahnya ikut teriris.
   "Semua orang punya hak untuk memilih, Ida. Tapi bapak heran kenapa kamu menolak seorang pria yang sebaik Sultan?"
   "Saya janji akan memikirkannya lagi setelah perkara yang satu ini selesai, Pak".
   "Perkara yang kamu tangani mana pernah selesai? Satu perkara selesai? Satu perkara selesai, perkara lain muncul!"
   "Tapi perkara ini paling menyita perhatian saya, Pak. Paling menguras tenaga pula".
   "Jangan terlalu memaksakan diri, ida. Nanti kamu sakit!"
   "Jangan khawatir, pak. Saya dapat menjaga diri".
   "Kapan kamu kembali ke Jakarta?"
   "Saya harus ke Medan dulu, Pak".
   "Medan?" mata tua itu bercahaya sekejap. "Mau apa kamu ke sana?"
   "Orang yang saya tuntut kali ini seorang guru, pak. Sebelum mengajar di Jakarta, dia pernah mengajar di Surabaya. Ketika saya bertemu dengan bekas istrinya di sana, dia bilang mantan suaminya pernah mengajar di Medan".
   "Kalau sebelumnya dia pernah mengajar di Merauke, kamu akan ke sana juga? Ida! Ida! Kau ini tidak ada capeknya!"
   "Saya akan mengejarnya terus, Pak. Saya ingin tahu mengapa ada guru yang tega memerkosa anak didiknya sendiri?"
   "Barangakali dia khilaf".
   "Atau sakit? Itu yang ingin saya ketahui. Karena itu saya harus menggali masa lalunya. Beritanya ada di koran, Pak. Bapak tidak baca?"
   "Ah, akhir-akhir ini bapak malas membaca. Pusing".
   "Barangkali kacamata bapak yang sudah harus diganti".
  "Ah, tidak membaca juga pusing. Maklum orang tua!"
   "Saya antar bapak ke dokter nanti sore, ya? Jangan-jangan tekanan darah tinggi!"
   "Wah, tidak usah! Bapak paling takut ke dokter! Sudah suntiknya sakit, bayarannya mahal, lagi!"
   "Ah, bapak!" Farida tersenyum geli. "Bapak kan guru! Kalau gurunya saja takut ke dokter, apalagi muridnya!"
   "BAru dengar mau ke dokter saja, pusing bapak sudah sembuh!"
   "Itu namanya bohong!" gurau Farida "Idih ada guru kok tukang bohong!"
   "Memang guru tidak boleh bohong?"
   "Kalau tidak merugikan orang lain, boleh saja".
   "Guru yang kamu tuntut itu pasti sering berbohong ya?"
   "Justru kata bekas murid-muridnya dia guru teladan. Tidak genit. Tidak pernah menggoda murid perempuannya. Tidak punya affair".
   "Kalau begitu mungkin kamu yang keliru, Ida. Bapak rasa juga mustahil ada guru yang tega memerkosa muridnya!"
   "Itu yang sedang saya selidiki, Pak. Tidak pernahkah dia melakukan hal yang sama sebelumnya? Dia cuma dijatuhi hukuman tujuh bulan penjara! Itupun dia tidak puas dan naik banding".
   "Barangkali benar dia tidak jahat. Cuma khilaf".
   "Kalau dia punya kelainan? Sebagai guru, dia sangat membahayakan murid-muridnya! Berapa korban lagi yang harus jatuh? Berapa orang gadis lagi yang harus kehilangan masa depannya? Murid yang jadi korbannya ini sudah hampir bunuh diri, Pak!"
   "Farida", wajah Pak Ikhsan tiba-tiba berubah serius. Sangat serius. "Siapa nama guru itu?"
 

0 komentar:

Poskan Komentar