.quickedit{ display:none; }

Jumat, 06 Mei 2011

Dakwaan Dalam Alam Baka--Mira W Bab XII

BAB XII

PALEMBANG 1981

KETIKA Farida pulang ke rumah pada liburan semester, orangtuanya telah menanti dengan kabar yang menyakitkan hati.
   Mahmud datang menemui mereka. Dia ingin segera menikah. Tetapi tidak ingin menghambat studi Farida. Jadi dia memutuskan pertunangan mereka. Dan memilih wanita lain sebagai calon istrinya.
   Ibu Mahmud memang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan Mahmud tidak menemukan penghalang lagi untuk melakukan apa yang diinginkannya.
   Ketika mendengar Farida pulang, Mahmud malah datang menemuinya sendiri. Dan menyampaikan niatnya untuk mengawini seorang perempuan lain.
   "Saya tidak dapat menunggu lagi, Ida", katanya tegas. "Umur saya sudah tiga puluh. Tapi saya tidak mau menghambat studimu. Cita-citamu begitu tinggi. Saya tidak tega menghancurkannya. Jadi saya terpaksa memutuskan pertunangan kita".
   "TErima kasih karena telah memberi saya kesempatan untuk meraih cita-cita saya, Bang", sahut Farida tenang. "Saya berjanji akan menyelesaikan kuliah saya".
   Di depan Mahmud, Farida tidak mau memperlihatkan airmatanya. Di hadapan orantuanya pun dia tetap tampil tegar. Tidak seorangpun melihat kesedihannya.
   Tetapi ketika semua orang sudah tidur, dia menangis seorang diri di tempat tidurnya.
   Mengapa nasibnya begitu buruk? Mengapa dia tidak seperti gadis lain? Tidak seperti adik-adiknya?
   Apa sebenarnya dosanya sampai dia memiliki cacat yang begini memalukan?
   Farida belum tidur ketika pintu kamarnya  perlahan-lahan terbuka. Dan suara ibu terdengar lirih dalam kegelapan.
   "Ida, boleh ibu masuk?"
   Lekas-lekas Farida menghapus airmatanya sesaat sebelum Ibu menekan lampu di dekat pintu. Kamar menjadi terang. Dan Farida melihat ibunya tegak diambang pintu.
   "Belum tidur, Ida?" tanya ibu lembut.
   Farida menggelengkan kepalanya. Wajahnya semuram mendung diluar.
   "Jangan putus asa, Ida". ibu duduk ditepi pembaringan. "Barangkali Mahmud bukan jodohmu".
   "BArangkali sudah takdir saya, Bu", sahut Farida pahit. "Kalau saya menikah belum tentu saya dapat menyelesaikan kuliah".
   "Ibu bangga padamu. Kamu anak yang tabah, Ida. Sejak kecil kamu selalu membuat orangtuamu bangga. Mudah-mudahan kamu dapat meraih cita-citamu. Tapi berjanjilah pada ibu".
   "Soal apa, Bu?"
   "Jangan mendendam kepada laki-laki. Tidak semua laki-laki seperti Mahmud".
   "Saya tahu, Bu. Bapak juga laki-laki. Tapi bapak sangat baik".
   "Di Jakarta kamu belum punya pacar?"
   Siapa yang mau sama saya, Bu? Tetapi Farida tidak jadi mengucapkannya. Dia tidak tega menyakiti hati ibu.
   "Kamu tidak  pernah terpikat pada teman kuliahmu?"
   Bukan teman kuliah. Tiba-tiba saja wajah Pak Hans melintas di depan mata Farida. Dosen. Tetapi dia sudah beristri. Dan dia tidak tertarik pada saya. Karena saya cacat.
   Pak Hans memang sangat memerhatikannya. Tetapi itu hanya karena Farida merupakan satu mahasiswinya yang istimewa. Mudah diingat. Karena dia lain dari yang lain!.
 

0 komentar:

Poskan Komentar