.quickedit{ display:none; }

Rabu, 04 Mei 2011

Dakwaan Dalam Alam Baka--Mira W Bab XI

SEJAK sore Nani sudah ribut. Jam tangan yang diletakkannya di meja makan lenyap tanpa bekas. Sasaran kecurigaan pertama tentu saja Farida.
   Begitu memang nasib orang baru. Numpang lagi. Bagaimanapun jujurnya dia, pastilah kamarnya yang mendapat prioritas pertama untuk digeledah.
   Ketika hasilnya nihil, Nani mulai mengkambing hitamkan langganan-langganan jahit Farida.
   "Tadi memang banyak yang datang", gerutunya jengkel. "Ada yang ngepas, ada yang ngukur, ada yang ngambil baju. Pasti salah satu dari mereka!"
   "Sejak Kak Ida buka jahitan, rumah kita memang jadi tidak aman!" Yani buru-buru menimpali. "Tidak ada privasi lagi! Semua orang keluar masuk seenaknya!"
   "Pasti nggak semuanya jujur!" sambung Nani sengit. "Satu-dua punya bakat maling! Tidak boleh melihat barang nganggur. Main sambar saja!"
   "Jangan menyalahkan orang lain!" potong Pak Ismail tegas. "Itu kan salahmu sendiri! Mengapa sembarangan saja menaruh barang berharga?"
   "Tapi ini kan rumah kita sendiri!" protes Nani seperti melampiaskan kekesalan yang telah berbulan-bulan terpendam. "Masa tidak boleh menaruh barang sebentar saja di atas meja? Di rumah ini tidak ada maling, kan? Yang membuat rumah kita tidak aman, karena ada orang luar seenaknya saja masuk kemari!"
   "Nanti akan saya tanyakan pada langganan-langganan saya, Nan", sela Farida dengan perasaan tidak enak.
   "Hhh!" sungut Nani dengan wajah cemberut. "Mana ada maling yang ngaku? Penuh tuh penjara!"
   "Nani!" tegur ayahnya tajam. "Jangan sembarangan menuduh orang! Belum tentu mereka yang mencuri jammu!"
   "Habis siapa lagi? Kucing?"
   "Coba cari lagi di kamar. Barangkali kamu lupa menaruhnya".
   "Nani kan belum pikun, yah!"
   "Ah, kamu memang selalu sembarangan meletakkan barang-barangmu. Gampang saja, kalau hilang, beli lagi!"
   Saat itu Bibi Nur memang tidak ikut memberi komentar. Tetapi setelah berada di kamar tidur bersama suaminya, dia baru membuka mulut.
   "Kata-kata anak-anak ada benarnya juga, Pak".
   "Maksud Ibu, langganan si Ida yang mencuri jam si Nani?"
   "Bukan. Kalau itu sih Ibu juga tidak tahu. Tapi apa yang di katakan anak-anak memang benar. Sejak langganan jahit si Ida bertambah banyak, rumah kita jadi ramai seperti pasar. Orang keluar-masuk seenaknya".
   "Ida kan harus membiayai sendiri kuliahnya, Bu. Kalau tidak menjahit, dari mana dia dapat uang?"
   "Benar, Pak. Aku juga kasihan padanya. Makanya kupinjamkan mesin jahitku. Tapi menolong orang kan ada batasnya, Pak".
   "Farida kan bukan orang lain, Bu. Dia keponakanku sendiri".
   "Memang, Pak. Dia keluarga kita. Wajib ditolong. Tapi jangan sampai merugikan yang menolong".
   "Dia tidak pernah merugikan kita, Bu. Hanya menumpang tinggal. Kebetulan kita ada kamar kosong".
   "Memang dia tidak merugikan. Tapi menyusahkan".
   "Kapan dia menyusahkanmu?"
   "Bapak tiap hari ke kantor. Tidak tahu keadaan di rumah. Tapi aku tahu, Pak. Aku tahu bagaimana ramainya suasana di rumah kita. Makin hari makin banyak orang yang datang membuat baju".
   "Kalau perlu kita bisa buat pintu keluar sendiri dari kamarnya. Supaya langganan si Ida tidak masuk ke rumah kita".
   "Bikin pintu kan butuh biaya, pak! Sekarangkan bahan bangunan mahal!"
   "Kita bisa minta si Ida membayar sebagian. Dia pasti mau. Nanti Bapak bicarakan dengan dia".
   "Kalau langganannya sudah begitu banyak, kenapa dia tidak mau menyewa kamar sendiri di luar?"
   Pak Is tertegun. Ditatapnya istrinya dengan tajam.
   "Ibu ingin mengusir, Ida?"
   "Bukan mengusir. Tapi kita sudah cukup lama memberikan tumpangan..."
   "Ibu benar-benar keterlaluan! Tega memperlakukan keponakanmu yang cacat seperti itu! Dia harus tinggal dimana? Ida kan wanita. Cacat pula. Kitalah satu-satunya keluarganya di Jakarta! Siapa lagi yang harus melindunginya kalau bukan kita?"


***


Tentu saja Farida tidak mendengar pertengkaran paman-bibinya. Merekapun tidak mengatakan apa-apa. Tetapi dengan nalurinya yang tajam, Farida sudah dapat menerka, kehadirannya di rumah itu mulai tidak disukai.
   Nani dan Yani sudah terang-terangan memusuhinya. Mereka sudah tidak mau lagi bicara, Bibi Nur masih dapat berpura-pura seolah-olah tidak ada apa-apa. Tetapi sikapnya juga sudah tidak seperti biasa. Dia tidak banyak bicara. Dan lebih sering menyingkir.
   Akhirnya Farida merasa tidak tahan lagi. Dia tidak betah lagi tinggal disana. Suasana dirumah itu sungguh tidak menyenangkan. Lebih baik dia buru-buru menyingkir sebelum diusir.
   Dan peluang itu tiba ketika Paman Is mengemukakan usulnya untuk membuat pintu keluar sendiri dari kamarnya. Rupanya paman juga sudah mulai terpengaruh. Atau...dia sendiri juga sudah mulai terganggu? Tiap hari anak-anaknya menggerutu. Mungkin lama-lama dia merasa jenuh juga.
   "Terima kasih, Paman", sahut Farida sambil berusaha mengekang kesedihannya. Alangkah sulitnya memperoleh seorang yang sungguh-sungguh mengasihinya. "Paman sangat baik. Saya menghargai semua yang telah Paman berikan pada saya. Tapi jika diizinkan, saya ingin belajar hidup mandiri, paman".
   "Hidup mandiri bagaimana lagi, Ida? Kamu sudah membiayai sendiri hidupmu. paman cuma memberikan tumpangan!"
   "Kalau Paman tidak keberatan, saya ingin mencoba menyewa kamar diluar. Supaya tidak menyusahkan lagi".
   "Ah, siapa bilang kamu menyusahkan? Jangan dengarkan adik-adikmu!"
   "Oh, ini bukan karena mereka! Saya memang sudah lama ingin belajar hidup mandiri".
   "Tidak, Ida! Kamu dititipkan disini oleh orangtuamu! Apa yang harus paman katakan kepada mereka kalau kamu pergi?"
   "Akan saya katakan ini kemauan saya sendiri, Paman".
   "Tapi kamu mau tinggal dimana, Ida?"
   "Banyak teman kuliah yang menyewa kamar dipondokan mahasiswi dekat kampus. Saya malah bisa menghemat ongkos transport, Paman".
   Lama Paman Ismail terpekur sebelum akhirnya dia menghela napas panjang. Rasanya memang percuma mencegah niat Farida. Biarpun cacat, kalau sudah punya tekad, dia sulit dihalangi.
   "Yah, kalau memang tekadmu sudah bulat, apa boleh buat. Paman tidak dapat melarang lagi. Jaga dirimu baik-baik,Ida. Jangan kecewakan orangtuamu".


***


"Ya syukur, kalau dia tahu diri!" Nani mencibir pedas "Lebih cepat dia pergi, lebih baik. Aku sudah bosan melihat mukanya!"
   "Sebenarnya sih dia tidak pernah membuat kita susah". Heran. Pada saat Yani seharusnya gembira karena Farida sudah memutuskan hendak pergi, dia malah agak menyesal. "Malah sering membantu. Disuruh apa saja mau".
   "Tapi gara-gara dia, kita selalu jadi korban omelan Ayah-Ibu!"
   "Kalau gitu yang salah ortu kita, bukan dia!"
   "Yang salah kalian, karena malas!" seperti biasa, Doni selalu ikut menimpali.
   "Diam, anak kecil nimbrung melulu!"
   "Doni tahu dimana jam tangan Kak Nani", Doni menyeringai mengejek. "Doni juga tahu sudah berapa bulan Kak Nani nggak bayar uang sekolah!Hihihi..."
   "Kurang ajar!" Dengan geram Nani mengejar adiknya.
   Mulut anak kecil ini benar-benar harus dibungkam! Untung ayah-ibu tidak ada dirumah...
   Doni kabur sambil menjerit-jerit. Nani mengejar dari belakang.
   Farida baru keluar dari kamarnya. Terkejut mendengar teriakan-teriakan Doni. Dan dia melihat semuanya dengan jelas.
   Doni sedang lari-lari ke atas ketika tiba-tiba dia tergelincir. Jatuh terguling-guling ke bawah tangga. Dan belakang kepalanya membentur lantai.
   Nani yang baru sampai dibawah tangga tidak keburu menangkapnya. Dia tertegun antara terkejut dan cemas ketika melihat adiknya terkapar dilantai. Tidak bergerak lagi.
   Yani memekik histeris. Memburu adiknya dan merankulnya dengan panik.
   Nani yang ikut berjongkok dengan wajah pucat pasi mengguncang-guncang adiknya. Tetapi Doni diam saja.
   "Doni pingsan, Kak!" desis Nani ketakutan ketika Farida berlutut didekatnya. "Kita harus bagaimana nih?"
   "Kakak akan panggil taksi", kata Farida sambil bergegas dan berjalan keluar. "Gendong Doni. Kita bawa ke rumah sakit".
   "Tapi ayah belum pulang!"
   "Kita tidak bisa menunggu lagi", sahut Farida tegas. "Doni harus ditolong sekarang juga!"


***


Sebenarnya lima menit kemudian. Doni sudah sadar. Tetapi Farida berkeras membawanya juga ke rumah sakit. Tidak ada salahnya minta pendapat dokter, kan?
   Doni jatuh cukup tinggi. Dan kepalanya terbentur cukup keras dengan lantai. Apalagi dia sampai tidak sadarkan diri, meskipun cuma bentar. Memang tidak ada muntah. Tapi dia sempat lupa pada apa yang terjadi sesaat sebelum pingsan. Dan kepalanya pusing sekali.
   Doni didagnosis menderita geger otak ringan. Dia harus dirawat semalam untuk observasi.
   "Kata dokter keadaannya tidak mengkhawatirkan", hibur Farida pada Nani yang masih shock. Kakak akan mengurus administrasinya dulu".
   Paman Is dan istrinya baru tiba dirumah sakit ketika semuanya telah beres. Administrasi telah diselesaikan Farida. Dan Doni sudah dibaringkan diatas ranjang dikamarnya.
   Dia menangis terus minta pulang. Tetapi Farida terus-menerus mendampingi dan menghiburnya.
   "Cuma semalam, Don. Besok pagi-pagi kamu sudah boleh pulang. Kalau kamu mau Kak Ida temani, Kakak mau tinggal disini".
   "Kak Ida boleh tidur sama Doni?"
   "Ya tidak," Farida tersenyum lembut. "Tapi kakak boleh tidur diluar. Kalau Doni takut, panggil kakak ya".
   "Nanti Kak Ida digigit nyamuk".
   Farida belum sempat menjawab ketika Paman Is dan Bibi Nur masuk ke kamar. Ketika melihat ibunya. Doni menangis lagi.


***


Farida memutuskan tidak tinggal di pondokan mahasiswi. Dia mengontrak sebuah rumah berukuran tiga puluh enam meter persegi dengan dua kamar tidur. Dan mengajak Endang tinggal bersama.
   "Aku ingin memperluas usaha jahitku, Dang", katanya ketika mengajak sahabatnya tinggal bersama. "Kalau kamu mau membantu membayar sewa aku akan berterima kasih sekali".
   "Oke", sahut Endang yang selalu siap membantu sahabatnya. "Di tempat kos memang rasanya tidak boleh buka jahitan. Aku sih okes aja. Tapi kalau usahamu sudah maju, aku boleh tinggal gratis ya, Da!"
   Farida hanya tersenyum membalas canda temannya.
   "Mula-mula barangkali aku cuma bisa membuatkan baju gratis untukmu, Dang".
   "Tapi yang modelnya keren, ya?" tawar Endang. "Jahitannya mesti rapi. Bahannya silk..."
   "Tahun depan, ya?" Farida tersenyum membalas canda temannya. "Kamu mau kan tidur sekamar denganku?'
   "Dari pada sekamar dengan jahitan? Tapi ngomong-ngomong, mau kamu pakai buat apa kamar yang kedua?"
   "Kamar kerja. Kamar pas. Kamar baju..."
   "Kamar makan. Gudang. Asal jangan buat dapur saja".
   "Dapurnya masih diluar, Dang. Kalau Bu Tri setuju aku mau renovasi sedikit bagian belakang rumahnya. Untuk dapur".
   "WC-nya juga, Da. Kalau jongkok, aku nggak bisa b.a.b".
   "Boleh saja. Tapi utang dulu, ya?"
   "Utang sama siapa?" Endang mengangkat sebelah alisnya.
   "SAma kamu". Farida tersenyum manis. "Sama siapa lagi?"
   "Tapi dihitung modal, ya? Kalau usaha jahitmu sudah maju. Aku dapat bagian?"
   "Lima puluh persen keuntungan".
   "Ha?" Endang terbelalak kaget. "Murah hati amat kamu, Da!"
   "TIdak juga. Kan kamu juga harus kerja. Jadi asistenku".
   "Oke saja. Tapi aku cuma bisa pasang kancing!"
   "Tidak masalah. Asal pasangnya tidak terbalik!"


***


Ibu pemilik rumah itu sudah berumur enam puluh tahun. Dan sampai setua itu, dia belum pernah melihat tukang jahit buntung. Maksudnya, tidak punya tangan. Dia mau menjahit pakai apa?
   "Buka usaha jahit?" gumamnya tidak percaya. Anak-anak ini linglung atau cuma main-main?
   "Ibu boleh nonton kalau teman saya demonstrasi menjahit nanti", potong Endang jemu. "Dan kalau Ibu mau bikin baju, Ibu dapat diskon sepuluh persen".
   Ketika ibu itu masih melongo bengong. Endang menyentuh bahunya.
   "Nanti kalau teman saya sudah jadi sarjana hukum, ibu juga dapat diskon dua puluh persen kalau memakai jasanya".
   "Sarjana hukum?" ibu pemilik rumah itu tambah bingung.
   "Teman saya ini calon S.H., bu!" kata Endang bangga.
   "Astaga!" cetus ibu itu kaget. "tidak salah, nak? Yang punya tangan dua saja banyak yang gagal!"
   "betul, bu", sahut Endang mantap. "Karena yang punya dua tangan, tidak punya otak dan hati seperti teman saya ini!"


***


Bibi Nur menghadiahkan mesin jahitnya untuk Farida. Tetapi Farida menolak. Dia ingin membeli mesin itu.
   "Kalau boleh dengan mengangsur, Bi", katanya dengan sesopan-sopannya supaya bibinya tidak tersinggung.
   "Ah, sudah! Ambil saja!" potong Paman Is sebelum istrinya sempat menjawab. "Mesin jahit itu tidak terpakai kok. Tidak ada yang sempat menjahit di rumah ini!"
   "saya ingin membelinya, Paman. Sebagai modal pertama usaha jahit saya. Sudah diizinkan mengangsur saja, saya sudah berterima kasih sekali".
   "kamu memang keras kepala", keluh paman sambil menghela napas. "Harga mesin jahit itu tidak seberapa kalau dibandingkan uang yang kamu keluarkan untuk membayar uang muka perawatan Doni dirumah sakit".
   Farida memang memohon agar uang muka yang dikeluarkannya tidak diganti. Dia ingin melakukan sesuatu untuk Doni. Sekaligus ingin membalas kebaikan pamannya mengizinkannya menumpang dirumahnya.
   Ketika Farida hendak meninggalkan rumah itu bersama barang-barangnya. Nani menghampirinya.
   "Maafkan saya, Kak", desahnya lirih.
   Farida tersenyum tulus. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tapi jauh dalam hatinya, dia sudah lama memaafkan Nani. Dari Doni, dia tahu kemana jam tangannya. Nani memberikannya kepada Hamid. Mungkin sebagai tambahan membayar uang kuliahnya. Mungkin pula untuk keperluan lain.
   Yani tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Farida dengan tatapan penuh penyesalan. Barangkali dalam hatinya, dia juga menyesal telah berlaku kejam pada sepupunya yang cacat.
   Cuma Doni yang mengiringinya naik ke taksi. Sesaat sebelum Farida menutup pintu. Doni menyelipkan sesuatu ke dalam tasnya.
   Karena sibuk mengurus barang-barangnya dan menata rumah bersama Endang, Farida melupakan hadiah itu. Baru ketika sedang duduk kecapekan dikamarnya Farida ingat kembali pada Doni.
   Apa yang dimasukkan anak itu ke dalam tasnya?
   Farida menumpahkan isi tasnya. Dan matanya menjadi berkaca-kaca melihat dua kelos benang yang dihadiahkan Doni.
   Hadiah yang tulus dari seorang bocah. Murni. Walaupun tidak berharga.
   Farida tersenyum haru. Akhirnya dia menemukan seseorang yang sungguh-sungguh menyayanginya.


***


"Tadi ibu yang pakai gigi emas itu datang lagi, Da". lapor Endang begitu Farida pulang membeli kancing "Katanya dia minta nanti sore bajunya sudah selesai. Mau dipakai pesta".
   "Tinggal memasang kancing", sahut Farida tenang. Dia memang tidak pernah kelihatan gugup biarpun pekerjaannya bertumpuk-tumpuk. "Sebentar juga selesai".
   "Sini aku yang pasang. Kamu bisa mengerjakan yang lain. Minggu ini kamu repot sekali, kan?"
   Farida hanya tersenyum
   "Benangnya pakai yang kuning ya, Dang. Jangan putih kayak dulu. Nanti dia ngomel lagi".
   "Oh, dia ngomel ya?" Endang menyeringai geli. "Dia bawelya, Da".
   "Tapi orangnya sih baik".
   "Sudah tua tapi masih perlente ya".
   "Bukan yang muda saja yang harus keren, kan?"
   "Makanya kamu juga harus belajar dandan!"
   "Ah, bagiku begini saja sudah cukup".
   "Kamu tidak mau kelihatan keren?"
   "Apa gunanya? Tidak ada yang tertarik padaku".
   "Siapa bilang? Kamu tidak merasa Sultan naksir kamu?"
   Farida hanya tersenyum tipis. Sekilas bayangan pemuda itu melintas didepannya.
   "Lho kok malah tersenyum! Kamu tidak suka padanya?"
   "Suka. Dia kan baik. Ramah. Penuh perhatian".
   "Lalu?"
   "Ya sudah".
   "Ya sudah?" Endang pura-pura mengelus dada. "Kamu tidak mau pacaran?"
   "Barangkali aku sudah ditakdirkan untuk hidup sendiri, Dang".
   "Ah, siapa bilang? Perkawinan kan bukan monopoli orang yang tidak cacat!"
   "Siapa yang mau mengawini aku?" Farida tersenyum pahit. "Kalau kamu jadi laki-laki, kamu tidak malu punya istri seperti aku?"
   "SEharusnya aku malah bangga!"
   "Itu karena kamu buka laki-laki!"
   "Nggak nyangka, dibalik semangatmu yang begitu besar, kamu menyimpan rasa rendah diri yang begitu hebat!"
   "Pernah seorang laki-laki buta melamarku", Farida sengaja membalikkan tubuhnya agar temannya tidak melihat wajahnya. Tidak melihat kesakitan yang bersorot dimatanya. "Sesaat sebelum kami menikah, dia memperoleh kembali penglihatannya. Dan dia menunda pernikahan kami sampai sekarang. Hanya karena dia tidak tega membatalkan perkawinan kami".
   "Tidak semua laki-laki seperti dia, Da!"
   "Aku tidak menyalahkan dia. Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama".
  "Kamu memang orang yang paling penuh pengertian. Cuma aku tidak mengerti juga, Sultan sudah lama naksir kamu".
   "Dia cuma kasihan padaku. Karena aku cacat".
   "Ditingkatnya ada mahasiswi yang pincang. Tapi Sultan tidak naksir dia".
   "sudahlah aku tidak ingin membicarakannya lagi".
   "Kamu tidak tertarik padanya? Ya, kualitas fisiknya memang kurang. Kurus tinggi seperti jarum pentul. Tapi hatinya baik, Da. Kalau boleh memilih, aku lebih setuju kamu dapat lelaki yang baik daripada yang ganteng".
   Farida tersenyum getir.
   "Gadis cacat seperti aku tidak punya banyak pilihan, Dang. Tapi aku tidak mau menikah hanya karena harus punya suami."
   "Jangan minder begitu, Da. Biarpun cacat, aku yakin ada lelaki yang naksir kamu karena mengagumi sifat-sifatmu. Bukan fisikmu".
   "Aku belum memikirkan perkawinan. Ingin mengejar karir dulu".
   "Boleh saja. Asal jangn sesudah kamu raih cita-citamu jodohmu malah tertinggal dibelakang. susah kalau balik lagi, Da. Umur kan tidak bisa diputar mundur!"

0 komentar:

Poskan Komentar