.quickedit{ display:none; }

Senin, 02 Mei 2011

Dakwaan Dari Alam Baka--Mira W Bab V

PALEMBANG 1977

BAB V


Farida duduk di depan cermin di kamarnya. Ditatapnya bayangan dalam cermin itu. Sebentuk wajah yang manis. Yang selalu tampil sederhana dan sendu. Dengan rambut panjang tergerai. Dan sepasang mata yang tersorot pahit.
   Kemudian perlahan-lahan tatapannya turun ke bahu. Bahu tanpa lengan yang menyajikan pemandangan yang mengenaskan.
   Hampir tiap hari dipandanginya cacatnya dengan tatapan nanar dan getir. Tetapi hari ini, diatatapnya cacatnya lebih lama.
   Bang Mahmud memang buta. Dia tidak dapat melihat betapa mengiris hati melihat tubuh tanpa lengan.
   Bagaimanapun Farida ingin mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya, pikiran itu datang dan datang lagi seperti sebuah obsesi.
   Bang Mahmud memilihnya sebagai istri karena dia buta. Karena dia cacat. Dan karena cacatnya dia tidak dapat meilhat kekurangan calon istrinya. Atau...karena dia tidak mampu memilih istri yang lebih prima?
   Perasaan rendah diri seperti itu memang sudah dimilikinya sejak masa kanak-kanak. Lumrah memang bagi seseorang yang dilahirkan cacat. Tanpa lengan.
   Sejak kecil dia sudah biasa menerima tatapan iba orang-orang yang melihatnya. Telah terbiasa pula menerima ejekan anak-anak yang memanggilnya si buntung.
   Cacat itu memang sudah melekat dengan dirinya. Telah menjadi sebagian hidupnya. Tak dapat dipisahkan lagi.
   Farida harus belajar menyesuaikan diri dengan kekurangannya. Dan dia belajar dengan baik. Dia tidak canggung lagi mengerjakan semua tugas dengan kaki atau mulutnya.
   Mula-mula dia ditolak di sekolah umum. Dia dimasukkan ke sekolah anak-anak cacat. Ketika akhirnya dia mampu membuktikan, dia mampu bersaing dengan anak-anak yang tidak cacat, dia melanjutkan ke SMA umum. Karena memang di tempatnya, tidak ada SMA khusus untuk penyandang cacat.
   Lulus SMA dia malah bertekad melanjutkan pelajaran ke Jakarta. Ke sebuah fakultas hukum.
   Tetapi ayahnya keberatan.
   "Bapak sudah tua, Ida. Adik-adikmu banyak. Kamu anak sulung. Berikan kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan sekolahnya".
   Ketika melihat Farida tertunduk dengan wajah sendu, ayahnya langsung menyadari, kata-katanya telah melukai hati putrinya.
   "Bukan maksud Bapak membatasi kesempatanmu, Ida. Jangan salah mengerti. Bapak bangga padamu. Dengan kekuranganmu, kamu masih dapat menyamai teman-temanmu yang sempurna. Kamu berhasil menamatkan SMA-mu dengan baik. Bapak pikir itu sudah cukup".
   "Karena saya cacat?" desis Farida getir
   "Karena Bapak tidak mampu membiayaimu. Bapak harus memikirkan adik-adikmu. Terutama si Faisal. Dia laki-laki. Dia harus menyelesaikan sekolahnya".
   Karena dia laki-laki, pikir Farida jemu. Faisal wajib menyelesaikan sekolahnya! Dan karena aku perempuan, tidak buta huruf saja sudah cukup!
   "Kamu sudah harus memikirkan masa depanmu, Ida. Sebagai seorang wanita, keluargalah yang paling penting".
   Jika disuruh mengalah untuk adik-adiknya, Farida akan mematuhinya. Tetapi menikah? Nanti dulu!
   "Ida belum ingin menikah, Pak!" protesnya segera. "Jika Ida tidak boleh melanjutkan sekolah ya sudah. Ida ambil les jahit saja".
   "Tentu saja Bapak tidak menyuruhmu menikah minggu depan. Les jahit, kursus masak, itu baik untuk persiapanmu sebagai ibu rumah tangga".
   Ibu rumah tangga. Memang itu yang paling penting untuk Bapak. Karena menurut ayahnya, sepandai-pandainya wanita dia tidak akan pernah dianggap sempurna sebelum menjadi seorang istri.
   "Bapak bangga padamu, Ida. Dan kebanggaan Bapak lebih sempurna lagi kalau sudah melihat kamu mendapat jodoh".
   Tidak salah kalau ayahnya bangga. Sebagai penyandang cacat, Farida tidak pernah menyusahkan siapapun. Dia menerbitkan belas kasihan bagi siapa pun yang melihatnya. Tetapi sekaligus membangkitkan kekaguman.
   Dia memang pasrah menerima takdirnya. Tapi dia pantang menyerah. Tidak mau mengemis belas kasihan seumur hidupnya.
   Sejak kecil orangtuanya telah mendidiknya agar dapat hidup mandiri. Dia dilatih untuk tidak tergantung pada orang lain. Semua harus dapat dikerjakannya sendiri.
   "Jika Tuhan memberimu kekurangan", kata-kata itu yang selalu didengungkan ayahnya, "Dia pasti memberimu kelebihan".
   Dan Farida tumbuh menjadi seorang gadis cacat yang tegar. Dia hampir tidak pernah mengeluh. Jarang minta tolong. Dia memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya. Sepasang kaki yang kuat. Dengan jari-jari yang dapat berfungsi sebagai jari tangan. Seperangkat otak yang brilian. Hati yang tabah. Dan sebongkah tekad yang sering menimbulkan decak kagum.
   Ya, ayah memang patut bangga. Tapi kebanggaannya belum sempurna sebelum Farida mendapat jodoh. Dan ayah tidak berhenti berusaha sampai dia mendapatkan Mahmud. Hanya tiga bulan sesudah Farida lulus SMA.



* * *


Mahmud memiliki wajah yang tampan. Tubuh yang tegap. Dan sepasang mata yang buta karena kecelakaan yang merenggut penglihatannya. Kornea matanya rusak. Dan dokter tidak dapat mengembalikan penglihatannya kecuali melaui transplantasi kornea.
   Farida melihatnya untuk pertama kali ketika dia datang bersama ibunya. Untuk melamarnya.
   Meskipun Mahmud tidak dapat melihatnya, Farida memerlukan waktu lebih lama untuk berhias. Dan memerlukan waktu lebih lama pula untuk memandangi cacatnya.
   Seandainya saja aku tidak cacat, pikirnya pedih. Aku tidak usah khawatir menemui pria macam apa pun yang dipilih ayah...
   Tetapi karena dia cacat, dia memerlukan kompensasi. Dia harus terlihat lebih cantik. Karena itu dia berhias lebih lama. Dia menggunakan jari-jari kakinya untuk mengolesi bibirnya dengan lipstik. Membedaki wajahnya dengan pupur.
   "Aduh, yang hampir jadi pengantin!" goda Winda di ambang pintu kamar. "Lama amat dandannya! Tuh, camermu sudah datang! Masa aku yang mesti keluar? Nanti dikiranya aku yang mau dilamar!"
   "Hus! Jangan berisik!" gerutu Farida jengah, "Mereka kan tidak tuli!"
   "Aduh cakepnya...yang mau dilamar!" satu lagi adiknya menerobos masuk. "Lekas keluar, Kak Ida! Keburu karatan mereka menunggumu!"
   "Buat apa capek-capek dandan?" sambar Faisal dalam nada bercanda. "Dia kan buta".
   Winda menyikut rusuk adiknya. Tapi terlambat, Farida sudah mendengarnya. Dan dia merasa pedih.


* * *


Selama pertemuan itu, Farida dan Mahmud hampir tidak kebagian waktu untuk bicara. Ibu merekalah yang terus mendominasi percakapan.
   Tetapi Farida tidak dapat mengusir perasaan itu dari hatinya. Sambil bicara pun, calon ibu mertuanya terus-menerus mengawasinya dengan tatapan menilai. Matanya seolah-olah bertanya, mampukah gadis buntung ini mengurus anaknya nanti?
   Di pihak lain, ibu Farida seperti tidak mau kalah. Dia sengaja menyuruh Farida melayani tamunya. Menghidangkan teh. Bahkan memasak.
   Seolah-olah dia ingin berkata, nah lihat sendiri anakku! Tidak mengecewakan, kan? Pekerjaan apapun bisa!
   Farida seperti sedang ditest. Tetapi hasilnya memang memuaskan. Ibu Mahmud melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa gesitnya Farida. Betapa trampilnya dia memasaka menghidangkan makanan, meskipun hanya dengan mulut dan kaki. Dengan kagum ibu Mahmud menyadari calon menantunya tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk mengurus rumah tangganya.
   Ketika dia kembali ke ruang tamu dengan perasaan puas, dia melihat anaknya sedang tesenyum-senyum. Rupanya dia sedang bergurau dengan Winda.
   "Jangan cerita sama Ibu!" ancam Winda dengan suara ringan seperti sedang bercanda dengan teman akrab "Awas ya!"
   "Memang kenapa?" balas Mahmud dengan suara yang membuat dahi ibunya berkerut.
   Kapan pernah didengarnya suara anaknya seriang itu sejak kecelakaan yang merenggut penglihatannya!
   "Dosa!" cibir Winda galak
   Mahmud tertawa geli
   "Boleh coba?" tantangnya lembut
   "Coba saja kalau berani!"
   "Ada apa?" Ibu Mahmud duduk di samping anaknya sambil meredam rasa herannya. Dia menyunggingkan suntai senyum terpaksa ke arah Winda. "Mahmud jail ya?"
   "Ih, ibu! protes mahmud riang. "Winda yang menggoda saya, Bu!"
   "Bohong!" bantah Winda separo berteriak. "Ngng...Bang Mahmud jahat!"
   "Winda!" tegur ibunya yang baru muncul dari dapur. "Jangan kurang ajar sama tamu! Sana bantu kakakmu menutup meja!"
   Seperti ibu Mahmud juga, secercah perasaan tidak enak merambat ke hati ibu Farida.
   Winda memang lincah. Pintar bergaul. Dan...tidak cacat. Mereka takut...pilihan Mahmud akan beralih padanya!
   "Huu, Ibu!" dengung Winda meradang seperti tawon digebah. "Yang mau dilamar kan Kak Ida! Dia yang harus dites! Bukan saya!"
   Kata-kata yang dimaksudkan bergurau itu sempat memerahkan paras ibu Mahmud karena tepat mengenai sasaran.
   "Dasar pemalas!" sambar Faisal yang baru mencuri sepotong tempe goreng dari dapur. "Tiap kali ada tamu, kerjamu cuma cuap-cuap kayak humas!"
   "Apa bedanya dengan kamu? Katanya seksi keamanan! Tidak tahunya pagar makan tanaman!"
   "Siapa bilang aku makan tanaman? Memangnya kambing?"
   "Sudah, jangan ribut!" sela Farida yang selalu merasa bising mendengar canda adik-adiknya. "Tolong bawa tempe ini ke meja makan".
   "Jangan suruh dia, Kak!" Winda merebut piring yang hampir diambil Faisal. "Sampai meja tinggal piringnya!"
   Dan karena Faisal mempertahankannya, piring itu jatuh ke lantai. Hancur berderai dengan menerbitkan suara berisik. Tempenya berserakan ke mana-mana diiringi pekikan Nurida, adik mereka yang bungsu.
   "Bu! Ibu! Tempenya kabur!"
   "Aduh!" gerutu ibu yang bergegas pergi ke dapur ketika mendengar hiruk pikuk di sana. "Bukannya bantu kakakmu malah bikin repot!"
   "Memang konyol tuh si rakus!" desis Winda kesal
   "Siapa yang konyol?" balas Faisal sambil menjulurkan lidahnya. "SIapa yang merampas piringku?"
   "Sudah!" bentak ibu tidak sabar. "Faisal ambil kain pel! Winda, bersihkan pecahan piringnya!"
   "Sukur!" Nurida menahan tawa. "Kerja bakti!"
   "Nur, kamu ambil sapu!"
   "Lho, kok saya juga, Bu?" sergah Nurida kecewa. "Saya kan tidak bersalah!"
   "Jangan cerewet! Kecil-kecil sudah pintar membantah! Ambil sapu!"
   Nurida terpaksa pergi mengambil sapu. Ketika dia kembali dan dilihatnya Ibu sudah tidak ada, dilemparkannya sapu itu ke dekat Winda yang sedang memunguti pecahan piring.
   "Tuh, sapunya!"
   "Eh, enak saja!" belalak Winda jengkel. "siapa yang tadi disuruh Ibu nyapu?"
   "Kak Faisal!" sahut Nurida yang melihat kakaknya datang membawa ember "Nur kan cuma disuruh ngambil sapu!" Lalu dia kabur sebelum Faisal sempat mengomel
   "Nih, nyapu!" Winda memungut sapu dan menyodorkannya kepada adiknya.
   "enak saja! Tugasku ngepel!"
   "Nyapu dan ngepel satu paket! Tidak bisa dicicil!"
   "Sudah, biar kakak saja", Farida meraih sapu dari tangan adiknya. "Tinggalkan saja. Biar aku yang nyapu dan ngepel. Nih, antarkan saja gulai ini ke meja makan".
   "Tidak bisa, Kak! protes Winda keras. "Yang mau dilamar kan Kak Ida! Masa aku terus yang disuruh melayani tamu! Nanti kalau Bang Mahmud naksir sama Winda, bagaimana coba?"
   "Huu, ge-er!" sambar Faisal sambil menimpuk pinggul Winda dengan sepotong tempe goreng yang tercecer di lantai. "Tuh, makan tempe biar otakmu jalan!"
   Ketika Winda memungut tempe itu dengan gemas dan hendak menimpuk Faisal, Farida merebutnya.
   "Sudah! Jangan becanda terus!"
   "Memang konyol tuh!" dumal Winda jengkel. "Eh, ngomong-ngomong calon suamimu ganteng juga ya, Kak?"
   Winda memang benar, pikir Farida ketika beberapa kali dia mencuri-curi lihat ke arah Mahmud waktu mereka makan bersama.
   Pemuda itu memang tampan. Perawakannya pun tegap. Sayang, dia buta.
   Tetapi...seandainya dia tidak buta, maukah dia melamar seorang gadis buntung?
   Dalam usia dua puluh enam tahun, memang Mahmud hidup berkecukupan sebagai anak tunggal seorang janda pemilik toko klontong. Dia bisa memilih sendiri gadis cantik untuk menjadi istrinya...kalau saja dia bisa melihat...


* * *


"Wah, yang baru dilamar, melamun terus!" goda Winda ketika malam itu dia menemmukan kakaknya sedang termenung di tempat tidur. "Masih lama, Kak! Dua bulan lagi!"
   "win", desah Farida tanpa menoleh. "Kamu punya pacar?"
   "Pacar?" Winda menyeringai jenaka. "Banyak, Kak! Ada beberapa biji! Mau pinjam? Mau bikin Bang Mahmud cemburu?"
   "Hus! kakak serius!"
   "Kapan Kak Ida pernah tidak serius? Ayo santai saja, Kak! Biar awet muda!"
   "Kamu punya seorang yang kamu sayangi?"
   "Bukan seorang!" gurau Winda riang. "TIga! yang dua cadangan!"
   "Kalau pacar utama sakit? Cuti? Lagi ngambek?"
   "Tapi kamu punya satu kan yang benar-benar kamu sayangi?"
   Winda tersenyum manis.
   "Kenapa Kak Ida tanya begitu?"
   "Dengan dia kamu ingin menikah, kan?"
   "Ya, Kalau dia belum bosan!"
   "Pernahkah kamu bayangkan, menikah dengan seorang laki-laki yang tidak kamu cintai? yang baru satu kali ketemu?"
   Tiba-tiba senyum Winda mengambang. Di tatapnya kakaknya dengan iba.
   "Maksud kakak...Bang Mahmud?"
   Farida tidak menjawab karena dia memang tidak perlu menjawab. Winda sudah tau jawabannya.
   "Kalau Kak Ida tidak menyukainya, kenapa tidak bilang sama Bapak?"
   "Kakak bukan tidak suka, Win. Bang Mahmud baik. sopan. Ganteng pula, seperti katamu. Tapi kakak sebenarnya belum ingin menikah. Masih ingin sekolah".
   "Ya, Winda tahu", air muka Winda berubah serius. "Mestinya Kak Ida yang melanjutkan studi. Winda yang berhenti sekolah. Sudah bosan!"
   "Kamu kan baru kelas dua SMA, Win. Paling tidak kamu harus menyelesaikan SMA-mu"
   "Untuk apa? Punya ijazah SMA laku kerja apa? Mendingan aku berhenti sekolah. Ambil les jahit. Lalu tunggu dilamar!"
   "Jangan ngomong sembarangan!"
   "Serius, Kak! Faisal juga bilang begitu. Dia bilang sudah bosan sekolah. Dia ingin merantau. Belajar dagang, katanya".
   "Tapi kalian harus menyelesaikan SMA dulu"
   "Itu kan maunya Bapak! Tidak adil! kak Ida yang mau sekolah disuruh kawin. Winda dan Faisal yang sudah bosan, malah disuruh sekolah terus!"
   "Kamu belum ingin menikah kan, Win?"
   "Kalau sudah ada yang melamar seperti Bang Mahmud sih..." Winda melirik jenaka.
   Si bandel itu sudah kembali bergurau lagi. Memang sulit mengajaknya serius. Tapi untuk Winda, hidup memang murah hati. Sejak kecil, hidupnya tak pernah susah. Sesudah meningkat remaja, dunia pun selalu tersenyum kepadanya. Dia cantik. Lincah. Pintar bergaul. Disukai pria. Dan....tidak cacat. Bahkan giginya pun tidak ada yang ginsul. Semua oke. Semua sempurna.
   Alangkah berbeda dengan diriku, sering Farida membandingkan nasibnya dengan nasib adiknya. Bukan dengan rasa iri. Tetapi dengan rasa pilu.
   "Kamu mau menikah dengan pria yang tidak kamu cintai?"
   "apa susahnya mencintai laki-laki seperti Bang Mahmud? Sayang dia buta. Kalau tidak pasti jadi rebutan!"
   Semalaman Farida memikirkan kata-kata adiknya. Seandainya Mahmud tidak buta...dia pasti jadi rebutan gadis-gadis! Tetapi karena dia buta, dia terpaksa menerima nasib menikah dengan seorang gadis buntung!
   Ah, harga diri Farida sungguh terlukai. Tetapi....bagaimana menentang kehendak Bapak? Bukankah Bapak telah mengusahakan yang terbaik untuknya?
   Mungkin Bapak merasa tugasnya telah rampung bila anak-anaknya telah mendapat pendidikan yang cukup. Menikah. Dan memiliki keluarga.
   Dari antara keempat anaknya. Farida-lah yang paling membebani pikirannya. Karena cuma dia lah satu-satunya yang cacat.
   Bapak merasa lega meninggalkannya jika dia sudah mendapat seorang suami. Seorang pelindung yang akan menggantikannya bila dia telah tiada.
   Tentu saja Farida dapat memahami keinginan ayahnya. Tetapi...menikah denang seorang laki-laki yang tidak dicintainya?
   Dia memang cacat. Tapi dia tetap seorang wanita. Yang mendambakan cinta sama seperti seorang wanita normal.
   "Cinta dapat tumbuh setelah perkawinan, Ida", hibur ibunya tadi.
   "Apa susahnya mencintai laki-laki seperti Bang Mahmud?'
   Ya, mungkin Winda benar. Tidak sulit bagi Farida mencintai suaminya setelah menikah nanti. Tetapi...dapatkah Mahmud mencintainya?

0 komentar:

Poskan Komentar