.quickedit{ display:none; }

Selasa, 03 Mei 2011

Dakwaan Dalam Alam Baka--Mira W Bab VIII

SURABAYA 1988

BAB VIII

TETAPI saperti yang telah diduga Farida, tidak mudah menemui istri seorang pejabat. Apalagi jika dia sendiri memang enggan ditemui.
   Berkali-kali Farida datang ke rumahnya. Jawaban yang diperolehnya hanyalah,
   "Ibu tidak ada di rumah".
   Kegigihan Farida dan nasib baiknya lah yang akhirnya menolongnya. ketika dia sedang berkunjung untuk ke sekian kalinya, suami Yunisar kebetulan pulang ke rumah.
   Ketika melihat seorang wanita buntung sedang berbicara dengan satpamnya, dia membuka kaca jendela mobilnya dan melongokkan kepalanya keluar.
   "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan suaranya yang besar berwibawa.
   "SElamat siang, Pak", sahut Farida sopan tapi sama berwibawanya. Dia memperkenalkan dirinya. Sekaligus menyatakan maksud kedatangannya.
   Sikap suami Yunisar langsung berubah ketika mengenali siapa yang datang.
   "Silahkan masuk", katanya ramah. Dia menyuruh satpamnya mengantarkan Farida ke ruang tamu rumahnya yang besar dan megah. Dia sendiri memanggil istrinya untuk menemui Farida.
   "Kakak saya telah memberitahukan keinginan Anda", kata Yunisar dingin begitu mereka duduk berhadapan. "Sayang sekali, tidak ada yang dapat saya bantu".
   Farida mengawasi wanita berbusana mahal yang duduk didepannya. Dibandingkan dengan kakaknya yang berpenampilan sederhana, mereka memang jauh berbeda. yunisar jauh lebih cantik. Lebih anggun.
 Sayangnya, parasnya yang selalu tegang, tatapannya yang congak, senyumnya yang langka, penampilannya yang judes, membuat dia tampak lebih tua dari usianya yang baru tiga puluh dua tahun. Jika di rendengkan dengan kakaknya yang umurnya berbeda dua tahun, Yunisar malah kelihatan lebih tua
   "Ibu tidak ingat sama sekali pada seseorang yang dulu pernah menjadi guru Ibu?"
   "Tidak ada yang perlu diingat", sahut Yunisar ketus. "Tidak ada yang istimewa".
   Tettapi kalau begitu, mengapa suaramu begitu kering? Mengapa kamu tampak begitu enggan membicarakannya? Jika benar tidak apa-apa mengapa sikapmu sangat berbeda dengan kakakmu?
   Sikap Yuniarti sangat wajar. Tetapi sikap adiknya sangat mencurigakan. Naluri Farida sebagai seorang penuntut umum membisikkan, wanita ini menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tidak menyenangkan dari masa lalunya. Dan masa lalu itu rasanya berhubungan dengan tokoh yang satu ini. Sabdono Lesmono. Bekas gurunya di SMA.
   "Kalau tidak salah, Ibu meninggalkan sekolah itu sebelum menyelesaikan SMA?" desak Farida gigih
   "Saya menikah", sahut Yunisar singkat.
   "Pada tahun yang sama, Pak Sabdono pindah ke Jakarta, bukan? Kalau tidak keliru, saat itu tujuh puluh tiga?"
   "Mengapa tidak Anda tanyakan saja ke sekolah?"
   "Saya mendapat keterangan itu dari sana".
   "Kalau begitu, buat apa tanya saya lagi?"
   "Saya pikir ibu tahu mengapa Pak Sabdono mendadak pindah".
   "Mengapa saya harus tahu?" dengus Yunisar dingin. "Saya tidak suka cara Anda bertanya. Anda seperti sedang menyelidiki masa lalu saya".
   "Ibu merasa begitu?" tanya Farida berlagak bodoh. "Padahal saya hanya ingin menyelidiki masa lalu Pak Sabdono, yang kebetulan guru ibu".
   "Banyak muridnya yang lain. Mengapa harus bertanya kepada saya?"
   "Ibu bisa memberikan nama dan alamat murid lain yang dekat dengan Pak Sabdono?"
   "Saya tidak tahu!" tukas Yunisar sambil bangkit dari kursinya. "Rasanya sudah cukup pertemuan kita. Saya tidak ingin bertemu Anda lagi. Selamat siang".


***


Untuk kedua kalinya Farida datang ke bekas sekolah Yunisar. kegigihan memang sudah menjadi ciri khasnya. Dia pantang menyerah meskipun kedatangannya selalu dicurigai.
   Kali ini dia tidak menanyakan tentang Yunisar. Dia mencari-cari alamat terakhir bekas istri Sabdono Lesmono.
   "Buat apa lagi mencari Ibu Halimah?" dengus kepala sekolah pedas. "Mereka sudah bercerai sejak tahun tujuh puluh tiga. ibu jangan mencari-cari masalah".
   "Saya hanya ingin tahu mengapa mereka bercerai. Lebih baik kalau mereka tidak tahu ayanhnya terlibat masalah yang memalukan seperti ini".
   "Saya hanya ingin bicara dengan ibunya. Saya janji anak-anak mereka tidak akan dilibatkan".
   Tetapi Halimah pun tidak mau membuka mulut.
   "Tidak ada yang dapat saya ceritakan", katanya datar. "Kami bercerai baik-baik. Bapaknya anak-anak masih terus mengirim tunjangan sampai saya menikah lagi".
   "Saya dengar ibu minta cerai karena tidak sanggup hidup sebagi istri guru yang gajinya pas-pasan?"
   Mata Halimah melebar sedikit. Parasnya berubah jengkel.
   "Saya sudah belasan tahun menjadi istrinya!. Masa sesudah hidup bersama begitu lama saya baru minta cerai karena gajinya tidak cukup?"
   "Jadi mengapa Ibu tiba-tiba minta cerai?"
   "Saya tidak ingin mengatakannya", suara Halimah terdengar tertekan. "Masalahnya terlalu pribadi".
   "Ibu tahu perkara yang menimpa Pak Sabdono? Ibu mengikuti beritanya?"
   "Saya sengaja tidak membaca koran".
   "Tapi ibu dengar juga, kan? Pak Sabdono dihukum tujuh bulan karena dituduh berbuat tidak senonoh dengan muridnya".
   "Saya tidak mau dengar", potong Halimah datar
   "Ibu tidak kelihatan kaget".
   "Haruskah saya kaget?"
   "Mengapa? Karena Ibu sudah pernah mengalaminya?"
   "Mengalami apa?" bantah Halimah marah. "Lebih baik Ibu pergi sebelum anak bungsu saya pulang. Saya tidak mau dia mendengar hal yang bukan-bukan tentang ayahnya!"
   "Saya berjanji anak-anak ibu tidak akan mendengar tentang ayah mereka. tapi ibu juga harus membantu saya".
   "Tidak ada yang bisa saya bantu! Kami sudah lima belas tahun bercerai! Saya tidak tahu apa-apalagi tentang dia!"
   "Saya percaya. Yang penting saya tanyakan hanya satu. Apa alasan perceraian Ibu? Mengapa Ibu minta cerai?"
   "Kenapa Ibu menanyakan itu terus?"
   "Karena saya merasa bukan karena gaji suami ibu sebagai guru tidak cukup maka Ibu minta cerai. Ketika melihat Ibu tadi, saya yakin, Pak Sabdono berbohong".
   "Dia bilang itu alasan saya minta cerai?" suara Halimah mulai meninggi.
   "Dia mengatakannya kepada setiap orang. Kepala sekolah dan rekan-rekan gurunya di Jakarta sangat bersimpati padanya".
   Halimah tampak sangat marah. Dia tersinggung sekaligus sakit hati. Tetapi dia tetap tidak mau mengatakan alasannya bercerai.
   "Kalau karena gaji, saya sudah minta cerai sejak di Medan?"
   "Ibu pernah tinggal di Medan?"
   "Saya lahir di sana".
   "Mantan suami Ibu mengajar juga di Medan?"
   "Di sebuah SMA".
   "Sebagai guru olahraga? Tidak ada pekerjaan sampingan lain?"
   "DAri dulu juga dia guru? Gajinya kecil. Tidak bisa ngobjek. Tapi saya tidak pernah minta cerai! Berpikir kesana saja tidak!"
   "Jadi apa alasan Ibu yang sebenarnya?"
   "Sudah saya bilang, saya tidak ingin mengatakannya! Apa hubungannya perkara dia dengan alasan saya bercerai?"
   "Saya yakin alasan Ibu sangat penting bagi saya untuk memahami karakter dan kebiasaan mantan suami ibu.  Jika ibu sudah mau menceritakannya, tolong hubungi saya. "Farida meletakkan kertas berisi nama hotelnya beserta nomor teleponnya di atas meja. "Ada satu hal lagi yang ingin saya katakan sebelum saya pergi. Apa yang Ibu katakan kepada saya, mungkin dapat menolong murid permpuan lain terhindar dari nasib Linda Ramelan".


***


Farida masih tinggal beberapa hari lagi di Surabaya. Dia mengharapkan salah satu pancingnya mengena. Tapi harapannya sia-sia. Baik Yunisar maupun Halimah tidak pernah menghubunginya lagi.
   Ke datangannya ke bekas sekolah Yunisar pun sudah tidak banyak gunanya lagi. Makin banyak orang yang tidak mau bicara kepadanya. Bahkan melihat saja pun mereka sudah enggan.
   Jadi dia guru yang sangat disukai, pikir Farida jengkel. Begitu pintarnya dia menutup wajahnya dengan topeng sampai orang tidak bisa melihat wajahnya yang sebenarnya. Wajah dibalik topeng. Wajah iblis.
   "Mau apa jaksa buntung itu datang terus-terusan ke sekolah kita?" gerutu seorang guru kepada rekannya. "belum cukup dia menjebloskan Pak Sabdono ke penjara?"
   "Buat dia, tujuh bulan tidak cukup. Dia ingin orang lain menderita lebih berat. Yah, wajarlah untuk orang cacat seperti dia. Pasti penderitaannya tidak sedikit".
   "Saya boleh bicara dengan Bapak dan Ibu?" tanya Farida sambil menghampiri mereka tanpa ragu.
   Kedua orang guru itu tampak terkejut. Mereka tidak menyangka Farida langsung datang menegur. Tetapi guru wanita segera menjawab dengan judes.
   "Kami tidak ingin bicara dengan Ibu. Tidak ada yang perlu dibicarakan".
   "Mengapa Ibu yakin sekali Pak Sabdono tidak bersalah?"
   "Karena kami kenal teman sejawat kami. Pak Sabdono bukan orang macam itu! TIdak ada guru yang tega merusak muridnya sendiri! Ibu telah mencoreng profesi guru!"
   "Saya kenal banyak guru yang baik. Saya hanya ingin melindungi mereka yang mungkin akan menjadi korban Pak Sabdono yang berikutnya! Menjauhkan mereka dari nasib yang menimpa Linda Ramelan!"
   "Jika Pak Sabdono memang seperti yang ibu tuduhkan", sela guru yang laki-laki, "Berapa banyak murid sekolah kami yang sudah jadi korban? Kenyataannya selama dia mengajar disini, tidak ada masalah yang demikian menjijikan!"
   "Bagaimana kalau korban tidak mengadu? Bagaimana kalau mereka terpaksa menyimpan rahasia karena malu?"
   "Tidak mungkin! Masa dari sekian ratus murid tidak ada yang mengadu?"
   Percuma pikir Farida ketika dia sedang meninggalkan sekolah itu dengan gemas. Tidak ada yang mempercayai kecurigaanku. Semuanya memihak guru yang baik itu! Yang diluar tampak begitu suci seperti malaikat!
   Tapi aku belum putus asa. Aku yakin akan menemukan lubang itu, betapapun tersembunyinya dalam gelap!
   Lubang yang akan membawaku menemui Sabdono Lesmono yang sesungguhnya! Saat itu, dia takkan dapat mengenakan topengnya lagi! Aku akan melucuti topengnya. Menarik wajah iblis itu keluar dari balik dinding sekolah!

0 komentar:

Poskan Komentar